Ustazah Qotrunnada, Penerus Estafet Dakwah Ibunda. Umat membutuhkan figur ulama perempuan yang dekat dengan masyarakat. | Istimewa
26 Sep 2021, 04:28 WIB

Ustazah Qotrunnada, Penerus Estafet Dakwah Ibunda

Umat membutuhkan figur ulama perempuan yang dekat dengan masyarakat.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Masyarakat Jakarta sudah tidak asing lagi dengan Majelis Taklim Attahiriyah. Majelis Taklim yang identik dengan Ustazah Suryani Thahir ini sangat dicintai umat.

Sepeninggal pendiri majelis taklim tersebut, kaum ibu merindukan sosok daiyah yang bisa mengayomi. Sosok almarhumah pun seolah hadir menemani mereka melalui kiprah anaknya, Ustazah Qotrunnada Syathiry Ahmad.

Minat Ustazah Qotrunnada terhadap bidang pendidikan dan dakwah sudah terbangun sejak kecil. Dia mendapatkan contoh langsung dari sepak terjang kedua orang tuanya yang merupakan guru dan mubaligh.

Terkait

“Maka saya dipesantrenkan di Jawa Barat. Saya memang sudah seperti disiapkan betul oleh orang tua untuk melanjutkan estafet dakwah ini,” kata dia saat dihubungi Republika, Rabu (22/9).

Bak buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Muslimah berusia 41 tahun ini terbukti mampu melanjutkan estafet perjuangan dakwah sang ibunda. Secara telaten, Ustazah Qotrunnada segera merangkul seluruh jamaah sepeninggal Ustazah Suryani.

“Seluruh jamaah yang dibina almarhumah ibu saya, saya datangi dan saya rangkul. Tujuannya adalah agar umat memiliki acuan dan pegangan, minimal ada tempat tanya apabila terjadi suatu permasalahan dalam hidup,” kata Ustazah Qotrunnada saat dihubungi Republika, Rabu (22/9).

 
Seluruh jamaah yang dibina almarhumah ibu saya, saya datangi dan saya rangkul.
 
 

Jika ditelisik lebih jauh, dia mengungkapkan, jamaah binaan almarhumah Ustazah Suryani Thahir rerata berada di kalangan usia lanjut atau 50 tahun ke atas. Namun demikian, dia menyadari  kalangan usia 45 tahun ke bawah pun kerap membutuhkan acuan dalam pengetahuan pendidikan agama.

Dia menyebut, umat membutuhkan figur ulama perempuan yang dekat dengan masyarakat. Di era digitalisasi seperti sekarang, dia mengakui bahwa pendekatan dakwah kian berubah dengan dinamika yang ada. Karena itu, pendekatan dakwah kepada lingkup masyarakat yang beragam itu pun harus dilakukan dengan pendekatan lebih bersahabat.

“Kalau ke jamaah ibu-ibu di usia 50 tahun ke atas, materi dakwah yang saya berikan itu seputar amalan-amalan ibadah. Karena di usia ini, pengetahuan agama mereka sudah matang. Mereka hanya butuh penguatan dalam menatap sisa-sisa usia,” kata dia.

Untuk kalangan Muslimah milenial, dia mengatakan, materi dakwah yang diberikan seputar masukan mengenai kehidupan harian. Contohnya, bagaimana etika dan hukum-hukum rumah tangga, bagaimana bertahan menjadi jomblowati guna mendapatkan jomblowan yang shaleh, dan lainnya.

 
Untuk kalangan Muslimah milenial, dia mengatakan, materi dakwah yang diberikan seputar masukan mengenai kehidupan harian.
 
 

Di sisi lain, medium dakwah pun berubah seiring bergantinya zaman. Ustazah Qotrunnada menyebut bahwa perubahan itu terasa terutama di masa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun. Pemanfaatan terhadap teknologi pun dilakukan guna melebarkan dakwah kepada kalangan berbeda.

“Milenial ini kan dekat sekali dengan medsos ya, jadi kalau saya buat kajian live streaming, misalnya, mereka atensinya cukup baik. Bahkan sampai ada yang nge-DM segala di Instagram curhat tentang masalah percintaan dan jodoh,” kata dia.

Bagi dia, komunikasi yang interaktif dan juga mengasyikkan akan lebih relate dengan bagaimana milenial hidup. Hal inilah yang dia lakukan untuk memberikan pengabdian kepada umat. Asalkan semua itu dilakukan dengan tidak keluar dari batasan syariat.

“Yang Muslimah milenial ini gaya interaksinya memang berbeda dengan kalangan ibu-ibu usia lanjut, tapi nggak apa-apa. Saya akan terus membersamai mereka,” ujar dia.

photo
Ustazah Qotrunnada, Penerus Estafet Dakwah Ibunda. Umat membutuhkan figur ulama perempuan yang dekat dengan masyarakat. - (Istimewa)

 

PROFIL

Nama lengkap: Qotrunnada Syathiry Ahmad

Tempat, tanggal, lahir: Jakarta, 19 Februari 1981

Riwayat pendidikan:

• TK Islam Al Azhar Pusat, Sisingamangaraja

• SD Islam Al Azhar Pusat, Sisingamangaraja

• Tsanawiyah (setingkat smp) Pondok pesantren Almasthuriyah, Sukabumi Jawa Barat

• Aliyah Keagamaan (setingkat SMA) Pondok pesantren Almasthuriyah, Sukabumi Jawa Barat

• Ma'had / Universitas Abu Noor, Syekh Kaftaru, Damaskus, Suriah

• Pendidikan Tafsir Alquran, Hadist, dan pelatihan dakwah di Akademi Dakwah Assuryaniyah

• Ilmu Filsafat, di Universitas Paramadina

 

Riwayat aktivitas:

• Pembina Pesantren Assuryaniyah

• Pimpinan Majelis Mudzakaroh (komunitas pimpinan Majelis Ta'lim Jabodetabek)

• Pengajar Rutin di Majelis Ta'lim Jabodetabek

• Mengisi di Stasiun Radio program Cahaya Sore dan Muhasabah Hati, 955 Radio Alaikassalam Sejahtera, FM

• Menjadi narasumber program Islam Itu Indah, TransTV

• Menjadi narasumber program satukan Shaf Indonesia, TVRI

• Menjadi narasumber Program Damai Indonesiaku, TVOne


×