Asap masih membubung dari gedung World Trade Center di New York, empat hari selepas hancur ditabrak pesawat pada 11 September 2001. Diskriminasi selama 20 tahun terakhir telah berdampak besar pada kesehatan mental Muslim Amerika. | EPA-EFE/KEITH MEYERS

Kabar Utama

11 Sep 2021, 03:45 WIB

Muslim Amerika, 20 Tahun Pasca-11 September

Diskriminasi selama 20 tahun terakhir telah berdampak besar pada kesehatan mental Muslim Amerika.

OLEH UMAR MUKHTAR, MEILIZA LAVEDA

Tepat dua dekade lalu, 19 teroris membajak empat pesawat komersial dan menabrakkan dua di antaranya ke Menara Kembar World Trade Center di New York dan satu lainnya ke markas pusat militer AS, Pentagon, di Washington. 

Satu pesawat lainnya tak berhasil diarahkan ke Gedung Putih di Washington karena perlawanan penumpang dan jatuh di Pennsylvania. Sejak itu, dunia tak sama lagi.

Seperti kebanyakan orang AS, peristiwa yang merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga AS itu tetap terukir dalam ingatan Mansoor Syams. "Saya marah. Saya kesal. Amerika adalah rumah saya. Ketika negara Anda diserang, itu menyakitkan. Dan saya kebetulan seorang marinir (prajurit Angkatan Laut AS). Saya kebetulan lahir di negara yang berbatasan dengan Afghanistan," ucap Syams dilansir dari TRT World, Jumat (10/9).

Lahir di Pakistan, Syams datang ke AS pada usia enam tahun dan dibesarkan di Maryland. Keterikatannya terhadap gagasan Amerika mendorongnya bergabung dengan Marinir AS pada usia 18 tahun, satu tahun sebelum tragedi 9/11.

Dia bertugas selama empat tahun di Korps Marinir dan memperoleh pangkat kopral. "Saya memutuskan untuk membantu dengan kemampuan unik saya dalam bahasa, budaya, agama dan membiarkan mereka menggunakan saya sebagaimana mereka anggap tepat untuk membantu dan membawa orang-orang yang menyerang negara kita ke pengadilan," katanya.

photo
Foto-foto koleksi Mansoor Syams saat mengabdi pada Marinir AS sepanjang 2000-2004, di kediamannya di Baltimore, Jumat (13/8/2021). - ((AP Photo/Jessie Wardarski))

Terlepas dari jabatan dan patriotismenya, statusnya sebagai Muslim ternyata berdampak. "Saya memang menghadapi diskriminasi rasial tertentu dari beberapa marinir yang tidak melihat saya sepenuhnya sebagai seorang marinir," katanya. 

"Saya disebut Taliban, teroris, Usamah bin Ladin, dan sebagainya. Kadang-kadang dalam gaya bercanda tapi tetap saja, itu tidak pantas dan salah," kata dia menambahkan. Ia mengenang, tak pernah mengalami sentimen itu sebelum 9/11.

Syams tidak sendirian menyaksikan diskriminasi anti-Muslim semacam itu. Menurut laporan FBI, insiden kejahatan kebencian anti-Muslim meningkat dari 28 menjadi 481 kasus sepanjang 2001 dan jumlahnya tak kunjung menurun pada tahun-tahun berikutnya.  

Sensus AS tidak mengumpulkan informasi tentang agama. Namun, Pusat Penelitian Pew menemukan dalam sebuah studi tahun 2018, sekitar 3,45 juta Muslim tinggal di AS dan meliputi sedikit lebih dari satu persen dari total populasi.

"Kita menciptakan diskriminasi melalui media dan Hollywood. Setiap kali Anda memutar film, Anda mungkin dapat melihat orang jahat yang mirip saya atau beberapa identitas lain yang beragam. Ketika Anda terus menonton film-film ini selama beberapa dekade, saya kira beberapa orang mulai mempercayai hal-hal yang mereka lihat," katanya.

Menjelang peringatan 20 tahun 9/11, tagar 'Never Forget' muncul di media sosial. Sebagian niatnya untuk mengenang korban, tetapi itu juga bisa berarti sesuatu yang sama sekali berbeda bagi banyak orang Amerika. "Bagi sebagian orang, tagar itu berarti jangan pernah melupakan Muslim dan jangan pernah melupakan orang-orang yang mirip dengan saya," kata Shams.

Ustaz Shamsi Ali, tokoh Muslim terkemuka di New York asal Indonesia juga masih ingat pada 14 September 2021 lalu. Ia hadir di lokasi kejadian saat kepulan asap dan debu dari reruntuhan menara kembar belum luruh sepenuhnya. 

“’We can’t hear you. We can’t hear you!’ Orang-orang di pinggiran reruntuhan itu berteriak. Mereka adalah keluarga korban, petugas pemadam kebakaran, anggota Kepolisian, dan para relawan lainnya yang masih berusaha menemukan orang-orang hidup dari onggokan reruntuhan Gedung WTC itu,” kata dia dalam tulisan yang ia bagikan ke Republika, kemarin.

Di antara keriuhan itu, satu seruan menguar. “And they will hear us. The people who took down these buildings will hear us!”. Kata-kata itu disampaikan oleh Presiden George W Bush yang ditujukan kepada para pelaku penyerangan.

Shamsi Ali yang hadir bersama beberapa tokoh agama New York mendampingi sang Presiden melakukan kunjungan pertama kali ke Ground Zero. Ia kemudian bertanya kepada Imam E Pasha, imam Masjid Malcom X Harlem soal ucapan Bush tersebut. "That is a war declaration, itu pengumuman perang,” kata Ustaz Shamsi Ali mengutip jawaban yang ia dapat.

Tak lama setelah itu, Amerika Serikat melancarkan serangan ke Afghanistan. Taliban yang berkuasa saat itu disebut melindungi Usamah bin Ladin dan Alqaidah. Serangan itu menandai Perang terhadap Teror ala AS. Disusul serangan ke Irak pada 2003, perang pembalasan dendam itu merenggut ratusan ribu jiwa, banyak di antaranya merupakan warga sipil.  

Gaung dari perang di negeri-negeri jauh itu juga sampai di dalam negeri AS. “Tiba-tiba, kehidupan sehari-hari Muslim Amerika menjadi subjek konsumsi publik secara luas, keyakinan mereka dirasialisasi, dan semua komunitas menghadapi pengawasan ketat dari masyarakat Amerika yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata konsultan kebijakan yang bekerja dengan Muslim Advocates, kelopok hak-hak sipil berbasis di Washington, Sumayyah Waheed. 

Pemerintah AS dengan cepat meningkatkan keamanan di bandara dan gedung-gedung pemerintah. Empat puluh lima hari setelah 9/11, Kongres mengesahkan Patriot Act, undang-undang yang memudahkan lembaga penegak hukum AS untuk melacak aktivitas serta memantau komunikasi daring dan telepon orang Amerika yang dicurigai terkait terorisme. 

Dilansir Aljazirah, Jumat (10/9), pada 2003, pemerintahan Presiden George W Bush membuat Daftar Pantauan atau yang dikenal sebagai Basis Data Penyaringan Teroris (TSDB). Menurut FBI, pada 2016, ada sekitar 5.000 nama warga AS dan penduduk tetap dari sekitar satu juta orang yang masuk dalam daftar. 

photo
Shukri Olow, seorang Muslimah yang mencalonkan diri sebagai King County Council District 5 melakukan shalat di Islamic Center of Kent, Seattle, Jumat (13/8/2021) - ( (AP Photo/Karen Ducey))

Waheed mencatat peningkatan kekerasan terhadap Muslim terjadi pada 2015 dan 2016. Menurut Waheed, jumlah tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Politik anti-Muslim yang dikembangkan oleh mantan presiden Donald Trump sepanjang 2016-2020 menyebabkan kekerasan dan kebencian terhadap Muslim. 

Para ahli mengatakan, hidup di bawah pengawasan penegakan hukum dan tindakan diskriminasi selama 20 tahun terakhir telah berdampak besar pada kesehatan mental Muslim Amerika. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Juli lalu di JAMA Psychiatry, hampir delapan persen responden Muslim mengatakan mereka telah mencoba bunuh diri selama hidup mereka dibandingkan dengan enam persen orang Katolik, lima persen orang Protestan, dan 3,6 persen orang Yahudi. 

Sementara itu, survei Pew lainnya pada 2019 mengatakan, 82 persen orang Amerika percaya Muslim mengalami setidaknya beberapa diskriminasi dan 56 persen orang mengatakan Muslim banyak mendapat diskriminasi. 

Napak Tilas 20 Tahun Lalu

Wajah dunia seolah berubah sejak tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat. Meski begitu, laman The Conversation mencatat, sebelum tragedi itu pun dunia sudah mengarah pada percikan yang membenturkan budaya dan agama.

Total, 2.997 nyawa terenggut. Tragedi itu menyisakan luka bagi keluarga korban, penyintas, dan orang-orang yang terimbas tragedi itu.

Sebulan kemudian, George W Bush langsung memulai peperangan menyasar pelaku serangan tersebut, Alqaidah, serta tuan rumah yang menjamu mereka sebagai tamu, Taliban, di Afghanistan. Misi AS bernama sandi “Operation Enduring Freedom” diluncurkan 7 Oktober 2001.

Dua puluh tahun lalu, serangan fatal terjadi ke gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dan gedung Pentagon di Washington DC. Serangan pertama menghantam WTC sekitar pukul 07.46 waktu AS.  

Sebanyak 19 pelaku yang terkait dengan kelompok Alqaidah membajak empat pesawat. Dua pesawat di antaranya digunakan untuk menghantam gedung WTC. Pesawat ketiga diarahkan untuk menabrak Pentagon yang berada di luar Washington. Pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Shanksville, Pennsylvania.

Pentagon dan Twin Towers dipilih sebagai target serangan karena diduga merupakan simbol AS, yakni kekuasaan serta globalisasi. Hal itu diperkirakan menjadi alasan para pelaku membidik kedua objek tersebut.

Setelah serangan terhadap WTC, petugas darurat segera dikerahkan untuk menyelamatkan orang-orang di lokasi kejadian. Terdapat 412 petugas darurat dan 343 petugas pemadam kebakaran yang akhirnya turut tewas dalam operasi penyelamatan korban 9/11.

photo
Bendera Amerika Serikat dikibarkan di reruntuhan World Trade Center di New York, pada 13 September 2001. - (EPA-EFE/BETH A. KEISER )

Lebih dari 6.000 orang terluka akibat insiden 9/11. Nama-nama korban meninggal dalam peristiwa itu dapat dilihat di sebuah monumen, yang terletak di antara kompleks WTC.

Kini, dua hari menjelang peringatan 20 tahun tragedi 9/11, dua korban meninggal baru berhasil diidentifikasi. Pertama adalah Dorothy Morgan, warga Hempstead, New York.

Ia menjadi korban ke-1.646 yang berhasil teridentifikasi lewat analisis DNA. Sementara korban ke-1.647 adalah seorang pria yang namanya dirahasiakan atas permintaan keluarga.

Morgan dan pria itu diidentifikasi oleh Office of Chief Medical Examiner di New York. Mereka menggunakan teknologi forensik baru dan kemajuan dalam ilmu DNA dalam proses analisisnya.

Identitas Morgan dikonfirmasi melalui tes DNA dari sisa-sisa jasad yang ditemukan pada 2001. Sementara identitas pria yang tidak dipublikasikan identitasnya dikonfirmasi melalui potongan yang ditemukan pada 2001, 2002, dan 2006.

Dua puluh tahun pun berlalu. Misi AS di Afghanistan resmi berakhir. Ujung misi itu ternyata memunculkan kembali nama lama di Afghanistan: Taliban. 

Sumber : Reuters


×