PM terpilih Malaysia Ismail Sabri Yaakob melambai ke awak media saat memasuki Istana Negara di Kuala Lumpur Malaysia, Kamis (19/8/2021). | AP/Paul White

Internasional

21 Aug 2021, 03:45 WIB

Malaysia Punya Perdana Menteri Baru

Pelantikan Ismail Sabri sebagai Perdana Menteri digelar Sabtu (21/8) ini.

KUALA LUMPUR – Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah akhirnya menunjuk Ismail Sabri Yakoob (61 tahun) sebagai perdana menteri (PM) baru Malaysia, Jumat (20/8). Namun, warga yang kecewa menggalang petisi online untuk menolak pencalonannya sejak semula.

“Raja berharap, krisis politik ini berakhir segera dan anggota parlemen dapat mengenyampingkan agenda politik mereka… saat ini rakyat tidak boleh dibebani krisis politik yang tak kunjung berakhir,” demikian pernyataan Istana Kerajaan Malaysia, Jumat.

Ismail akan mengisi kursi PM yang ditinggalkan Muhyiddin Yassin, yang sempat berkuasa selama 18 bulan. Muhyiddin mundur pada Senin (16/8) karena tidak gagal mendapat suara mayoritas di parlemen.

Raja menyebutkan, Ismail meraih 114 suara dari 222 anggota parlemen. Meski kemenangan ini tipis, namun Ismail memiliki keunggulan dari syarat mayoritas sederhana yaitu 111 suara. Ismail tetap membutuhkan dukungan suara dari partai Muhyiddin agar semakin kuat.

photo
Mantan wakil perdana menteri Malaysia Ismail Sabri Yakoob. - (AP/Vincent Thian)

Penunjukan Ismail sebagai PM diumumkan setelah Raja bertemu dengan delapan raja di negara bagian Malaysia, Jumat. Raja mengatakan, Ismail akan dilantik Sabtu (21/8). 

Naiknya Ismail menandai kebangkitan partai terbesar Malaysia, United Malays National Organisation (UMNO). UMNO telah berkuasa sejak negara itu merdeka pada 1957.

UMNO tersingkir dari gelanggang politik pada 2018 karena tersandung skandal keuangan 1MDB. Skandal itu membuat perdana menteri jagoan mereka, Nazib Razak, kalah dalam pemilihan umum.  

Ismail adalah PM ketiga sejak pemilu 2018. Dalam pemerintahan Muhyiddin, Ismail duduk sebagai wakil PM. Kini naiknya Ismail juga seolah memulihkan aliansi dukungan Muhyiddin, meski UMNO menarik dukungan untuk Muhyiddin pada Juli. Muhyiddin dinilai gagal menangani pandemi Covid-19.

Namun, naiknya Ismail tidaklah mengejutkan. “Penunjukkan Ismail bukan hal yang tak diduga sebelumnya. Dengan penunjukan ini, maka UMNO kembali memegang kemudi,” ujar James Chin, ahli studi Asia di University of Tasmania, Australia.

Sedangkan ahli ekonomi Asia di Capital Economics, Alex Holmes, mengingatkan bahwa korupsi bisa kian parah di bawah kepemimpinan UMNO. “Dengan menempatkan UMNO yang belum berubah ke pusaran kekuasaan tampaknya sulit memberikan hasil yang baik pada masa depan,” kata Holmes.

Warga Malaysia yang merasa kecewa meluncurkan petisi online untuk memprotes pencalonan Ismail. Sejauh ini. lebih dari 340 ribu tanda tangan terkumpul. Banyak orang yang yakin, penunjukkan Ismail akan memulihkan status quo, lengkap dengan kegagalannya dalam menanggapi pandemi.

Malaysia salah satu negara yang memiliki tingkat infeksi dan kematian per kapita yang tertinggi di dunia. Padahal negeri jiran ini telah memberlakukan status darurat selama tujuh bulan dan lockdown sejak Juni.

Pada Jumat, Malaysia menghadapi 23.564 kasus harian sehingga total menjadi lebih dari 1,5 juta kasus. Negeri dengan populasi sekitar 32 juta jiwa ini telah menghadapi lebih dari 13 ribu kematian akibat Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ismailsabri60 (ismailsabri60)

Kontroversial

Ismail sempat menjadi pengacara sebelum terjun ke politik. Ia kemudian beberapa kali menduduki kursi menteri dalam pemerintaha UMNO.

Pada 2015, saat ia menjadi menteri perdagangan, Ismail sempat mendulang kontroversi. Saat itu ia mendorong warga etnis Melayu agar memboikot pengusaha beretnis Cina.

Ismail juga dikecam karena mendukung industri rokok elektronik. Padahal, menteri kesehatan saat itu telah memperingatkan bahayanya bagi kesehatan.

Pada pemilu 2018, Ismail kembali mengundang kontroversi. Politisi UMNO ini mengatakan, pemilih yang memberikan suara untuk oposisi akan dicabut hak istimewanya yang selama ini diberikan kepada warga etnis Melayu. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×