Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika
14 Aug 2021, 03:45 WIB

Hijrah dan Kemerdekaan

Penjajahan adalah perbuatan yang sangat tercela dan kejahatan kemanusiaan yang sangat terkutuk.

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN

Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa peringatan kemerdekaan ke-76 RI pada 17 Agustus 2021 hampir bersamaan dengan pergantian tahun baru Hijriyah 1442 H menuju 1443 H, yaitu pada 10 Agustus 2021.

Kedua peristiwa ini mengandung makna yang relatif sama bahwa setiap manusia harus bebas merdeka dari belenggu penjajah asing dan belenggu duniawi yang menghambat ibadah dan penghambaan secara benar kepada Allah SWT, serta harus mengisi kemerdekaannya dengan semangat hijrah, yaitu berbuat maslahat bagi kepentingan pembangunan bangsa, disertai dengan meninggalkan sifat-sifat buruk dan merusak kemudian diganti dengan sifat-sifat yang baik dan positif yang berguna bagi kehidupan.

Perhatikan firman Allah dalam QS al-Hujurat [49] ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Terkait

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia (sesungguhnya) kalian berasal dari (keturunan) Bani Adam. Dan, Adam itu diciptakan dari tanah. Tidak ada keistimewaan (lebih mulia) antara orang Arab (suku Quraisy) dengan orang ‘Ajam (suku Arab Badui), dan tidak pula ada keistimewaan (lebih mulia) antara orang yang berkulit putih dan orang yang berkulit hitam, kecuali hanya terletak pada ketakwaannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 
Mereka tidak menjadikan hari lahir Nabi SAW dan wafatnya beliau sebagai awal penanggalan Islam, meskipun mereka sangat mencintai, menghormati, dan menjunjung tinggi Nabi Muhammad SAW.
 
 

Dari ayat dan hadis tersebut, jelas tampak bahwa tidak boleh suatu bangsa merasa lebih baik dari bangsa yang lain sehingga berusaha menjajahnya. Penjajahan adalah perbuatan yang sangat tercela dan kejahatan kemanusiaan yang sangat terkutuk. Karena itu, penjajahan dalam bentuk apa pun harus dihapuskan sampai ke akar-akarnya.

Dalam kaitan dengan peringatan hijrah (pergantian tahun baru Islam), kita bersyukur bahwa Umar bin Khattab (selaku Khalifah ar-Rasyidin yang kedua) telah berijtihad dengan penuh tanggung jawab dan sangat cerdas bersama dengan para sahabat lainnya (semoga Allah SWT meridhai mereka) untuk menjadikan peristiwa Hijrah Nabi SAW dengan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah sebagai awal kalender Islam yang kemudian disebut sebagai Kalender Hijriyah.

Mereka tidak menjadikan hari lahir Nabi SAW dan wafatnya beliau sebagai awal penanggalan Islam, meskipun mereka sangat mencintai, menghormati, dan menjunjung tinggi Nabi Muhammad SAW dengan kecintaan dan penghormatan yang mutlak absolut.

Allah SWT berfirman dalam QS Surat Ali Imran [3] ayat 31 dan 32: “Katakanlah: ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (31) Katakanlah: ’Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir (32).’" (QS Ali Imran [3]: 31-32).

Peristiwa Hijrah adalah peristiwa perjuangan membela Islam dan kegiatan dakwahnya dilakukan secara kolektif dan bersama-sama kaum Muslimin. Peristiwa yang berkaitan dengan keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT sekaligus peristiwa yang mengundang rahmat dan pertolongan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2] ayat 218: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah [2]: 218).

 
Penjajahan adalah perbuatan yang sangat tercela dan kejahatan kemanusiaan yang sangat terkutuk. Karena itu, penjajahan dalam bentuk apa pun harus dihapuskan sampai ke akar-akarnya.
 
 

Dan, ternyata dengan izin dan pertolongan Allah SWT disertai dengan ikhtiar serta usaha dakwah yang sungguh-sungguh Nabi SAW dengan para sahabatnya mampu membangun masyarakat Madinah yang penuh dengan kasih sayang, saling mencintai dan menghargai antara sesama, penuh dengan keadilan, serta jauh dari kezaliman. Lahirlah peradaban Islam yang sangat konstruktif yang menerangi dunia dengan cahaya Ilahi.

Hal yang paling menonjol dari kegiatan-kegiatan awal di Madinah setelah hijrah adalah Al-Mu’akhoh (mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin yang berasal dari Makkah dengan sahabat Anshar penduduk asli Kota Madinah) persaudaraan abadi atas dasar iman dan takwa serta hanya mengharapkan ridha Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Hasyr [59] ayat 8-9: “(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8). Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (9).” (QS al-Hasyr [59]: 8-9).

Di samping itu juga, Nabi dan para sahabatnya telah memfungsikan masjid (Nabawi) sebagai pusat ibadah dan muamalah, tempat shalat berjamaah rukuk dan sujud mengharapkan ridha-Nya. Karena itu, persaudaraan yang solid karena iman dan takwa dan selalu berjamaah dalam ibadah serta muamalah merupakan dua kunci utama keberhasilan pembangunan masyarakat yang sejahtera dan bahagia.

Perlu dicatat juga bahwa kegiatan ekonomi pada zaman Rasul adalah kegiatan ekonomi yang sifatnya berjamaah, mengedepankan kepentingan sesama kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda: “Kami adalah kaum yang bertakwa, tidak akan memakan makanan kecuali dari makanan orang yang bertakwa.”

 
Di samping itu, para sahabat Nabi adalah orang-orang yang memiliki etos kerja yang kuat, etos usaha yang militan, dan memiliki kekuatan soliditas yang tinggi.
 
 

Hadis ini menguatkan firman Allah QS an-Nisa’ [4] ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS an-Nisa’ [4]: 29).

Di samping itu, para sahabat Nabi adalah orang-orang yang memiliki etos kerja yang kuat, etos usaha yang militan, dan memiliki kekuatan soliditas yang tinggi. Allah SWT berfirman dalam QS an-Nuur [24] ayat 37: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS an-Nur [24]: 37).

Juga doa Nabi SAW: "Rasulullah SAW bersabda: ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemah pendirian, sifat malas, penakut, kikir, hilangnya kesadaran, terlilit utang, dan dikendalikan orang lain.’ Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah (ketika) hidup dan mati". (HR Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadis tersebut di atas menggambarkan bahwa para sahabat nabi adalah orang-rang yang cerdas, ulet, teguh pendirian, aktif dalam kegiatan ekonomi maupun dalam kegiatan muamalah lainnya, disertai dengan kekuatan ibadah mahdlah kepada Allah SWT sehingga mengundang rahmat dan pertolongan-Nya. Hal ini semua harus menjadi ibrah dan pelajaran bagi kita dalam membangun bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. 


×