Waspadai nyeri sendi (ilustrasi). | Conscious Design Unsplash
02 Aug 2021, 08:13 WIB

Agar Sehat Saat Pandemi, Hal Ini Patut Diwaspadai

Meski pandemi, usahakan tetap aktif dan terus bergerak.

Pandemi Covid 19 telah menjadi motivasi yang baik bagi masyarakat untuk lebih banyak berolahraga dan tetap fit dalam menjalani keseharian. Namun di saat yang bersamaan, anjuran untuk menjaga jarak secara fisik serta pembatasan kegiatan di lingkungan yang ramai dan fasilitas kebugaran, justru membuat masyarakat kehilangan minat berolahraga. Akibatnya, satu dari empat orang menurunkan intensitasnya dalam berolahraga.

Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan ketidakaktifan fisik selama berada di rumah yang tanpa disadari memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan. Salah satunya gangguan muskuloskeletal seperti nyeri sendi dan otot.

"Tetap aktif dan terus bergerak adalah hal terpenting yang harus dilakukan, selain untuk menghindari nyeri sendi dan otot, juga agar kualitas kesehatan secara menyeluruh dapat terjaga,” ujar Senior General Manager Marketing Combiphar, Cindy Gunawan, pada pertemuan virtual pada Juni lalu.

Dokter Edo Adimasta, pakar kesehatan Combiphar, mengatakan duduk secara terus menerus selama lebih dari 40 menit akan menyebabkan aliran darah menjadi tidak lancar dan pada jangka panjang dapat melemahkan otot di sekitar sendi.

Terkait

Padahal, otot sekitar sendi mempunyai peran penting dalam mengurangi beban cepatnya keausan pada tulang rawan sendi, hilangnya fleksibilitas, dan nyeri pada sendi. Karenanya nyeri sendi merupakan salah satu gejala paling sering yang dialami kebanyakan orang dengan gaya hidup yang tidak banyak bergerak.

"Belum lagi pada saat pandemi dan fenomena bekerja dari rumah (WFH) di mana kurangnya fasilitas di rumah dan pengetahuan yang memadai, memaksa masyarakat duduk sambil bekerja dan berkegiatan dengan postur atau posisi tubuh yang tidak sesuai (tidak ergonomis), yang akan menambah risiko gangguan persendian," tambahnya.

Tak hanya itu, Asep Azis, SST. Ft., seorang ahli fisioterapi yang saat ini bertugas mendampingi tim nasional sepak bola Indonesia menambahkan potensi obesitas yang timbul akibat kurang bergerak, juga ikut berperan sebagai salah satu faktor risiko terjadinya keausan atau radang pada sendi.

Karenanya, kata dia, jangan takut untuk tetap berolahraga walaupun sudah mengalami gejala radang sendi. Dengan memasukkan olahraga ringan dan mengubah pola makan ke dalam rutinitas harian, dapat secara alami menurunkan berat badan dan mengurangi tekanan pada persendian. "Kunjungi fisioterapis untuk mendapatkan assessment dan modifikasi olahraga yang tepat,” ujarnya.

Dokter Edo turut mengungkapkan, walaupun belum terdapat pengobatan khusus untuk nyeri sendi, mengatur pola makan dengan mengonsumsi makanan tertentu juga mampu melawan peradangan, memperkuat tulang, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. "Jangan lupa hindari makanan yang cenderung memperburuk peradangan,” kata dia.

Makanan yang dapat dikonsumsi di antaranya buah dan sayuran segar, seperti mangga, alpukat, semangka, brokoli, bayam, wortel, dan paprika merah. Selain itu, ikan yang kaya dengan asam lemak Omega-3 seperti salmon dan tuna. Konsumsi juga biji-bijian seperti gandum juga kacang-kacangan seperti kacang tanah, kenari, dan almond.

Jangan lupa menambahkan rempah-rempah seperti bawang putih, jahe dan kayu manis. Sedangkan daging merah, gula, lemak, garam, tomat, serta terong adalah makanan yang harus dihindari. Begitu pula dengan makanan tinggi kalori, tinggi purin dan dimasak dengan suhu tinggi atau juga mentega dan alkohol.

 
Tetap aktif dan terus bergerak adalah hal terpenting yang harus dilakukan, selain untuk menghindari nyeri sendi dan otot, juga agar kualitas kesehatan secara menyeluruh dapat terjaga.
Cindy Gunawan
 

 

Atasi Saraf Terjepit tanpa Operasi

Hernia nukleus pulposus (HNP) atau dalam istilah awamnya saraf terjepit merupakan suatu kondisi yang diakibatkan menonjolnya bantalan tulang belakang sehingga menjepit saraf tulang belakang. HNP dapat terjadi pada semua ruas tulang belakang, tapi yang paling sering terjadi yaitu pada segmen lumbal atau pinggang yang sebagian besar pada segmen L4-L5, L5-S1.

Ketua Indonesian Neurosurgical Pain Society (INPS), Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, menjelaskan saraf terjepit juga bisa terjadi pada ruas leher C5-C6 atau C6-C7. Saraf terjepit ini juga bisa mengenai segala usia, baik muda maupun tua. 

Untuk mereka yang berusia muda umumnya disebabkan oleh cedera dan beban berat pada tulang belakang sehingga menyebabkan penonjolan bantalan tulang. Sedangkan pada usia tua disebabkan proses degenerasi, dan hilangnya elastisitas batalan tulang. 

Faktor risiko saraf terjepit ini cukup banyak, antara lain usia, cedera (baik jatuh akibat kecelakaan atau olahraga), aktivitas dan pekerjaan (duduk lama, mengangkat ataupun menarik beban yang berat, sering memutar punggung ataupun membungkuk, latihan fisik terlalu berat dan berlebihan, terpapar getaran yang konstan, olahraga berat, merokok, berat badan berlebihan, dan batuk dalam waktu yang lama.

Saraf terjepit ini dapat menimbulkan beragam gejala bergantung pada lokasi jepitan saraf itu terjadi. Namun pada umumnya dikatakan mengalami saraf kejepit apabila mengalami salah satu dari tiga gejala. Gejalanya adalah komponen sensorik (rasa) yang menimbulkan rasa kesemutan, kebas, baal yang terasa di tangan atau kaki. Sedangkan, komponen motorik (gerakan) berpengaruh pada anggota gerak melemah serta komponen otonom yang muncul berupa gangguan buang air kecil atau buang air besar.

Nyeri akibat saraf terjepit dapat mengganggu aktivitas harian penderitanya. Biasanya saat nyeri ini sudah berlangsung lama, maka penderitanya mulai mencari solusi untuk mengatasi nyerinya.

“Kini dunia medis sudah berkembang semakin maju dengan adanya Interventional Pain Management (IPM) yang menerapkan teknik-teknik intervensi untuk menangani nyeri subakut, kronik, persisten, dan nyeri yang sulit diatasi, baik secara independen maupun bersama dengan modalitas terapi lainnya,” paparnya dalam keterangan pers yang diterima Republika.

Teknologi IPM ini dapat berupa injeksi kortikosteroid, radiofrekuensi ablasi, laser, kateter RACZ, endoskopi tulang belakang, dan yang paling terbaru adalah DiscFX. “Semua teknologi ini akan membantu menangani nyeri tulang belakang yang menjadi salah satu keluhan utama penderitanya saat berkonsultasi dengan dokter,” jelasnya.

photo
Waspadai saraf terjepit (ilustrasi) - (Karolina Grabowska Pexels)

Dokter Mustaqim Prasetya, SpBS menambahkan dulu kondisi saraf terjepit perlu ditangani dengan operasi terbuka yang memiliki banyak risiko dan proses pemulihannya lama. "Kini seiring dengan majunya teknologi kedokteran, saraf terjepit sudah dapat diatasi dengan teknologi invasif minimal tanpa bedah terbuka dengan risiko yang lebih minimal,” paparnya.

Saraf terjepit pun dapat ditangani tanpa perlu rawat inap dan proses pemulihannya cepat. Selain itu, biaya jauh lebih terjangkau dibandingkan operasi terbuka dulu. Ada pula solusi dengan kateter RACZ dan DiscFX. Dokter Danu Rolian, SpBS mengungkapkan kateter RACZ yang berukuran mikro dan akan dimasukkan ke dalam rongga epidural di tulang belakang.

“Kateter RACZ ini juga disebut dengan neuroplasty epidural ini akan mengantarkan obat-obatan tertentu untuk membantu mengurangi peradangan atau iritasi saraf sehingga nyeri menjadi berkurang atau mereda. Prosedur kateter RACZ ini hanya membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit, sehingga tidak perlu rawat inap sehingga pasien bisa langsung pulang,” jelas Danu.

Teknologi IPM terbaru lainnya adalah teknologi DiscFX yang dapat mengatasi jepitan saraf tulang belakang sehingga nyeri bisa tuntas. Tindakan DiscFX ini hanya memerlukan sayatan kecil sehingga biusnya cukup lokal saja dan tanpa rawat inap. “Proses tindakan juga cepat dan dapat dilakukan pada beberapa bantalan tulang yang menonjol sekaligus,” lanjut Danu. 

Dibandingkan dengan teknologi sebelumnya, DiscFX ini dapat memberikan perbaikan kualitas hidup penderita saraf terjepit lebih baik karena dapat terbebas dari siksaan nyeri akibat saraf terjepit.


×