Petugas melakukan bongkar muat envirotainer yang berisi bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac setibanya di PT Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (27/7/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
28 Jul 2021, 03:50 WIB

20 Juta Vaksin Siap Disebar

Laju vaksinasi Covid-19 belakangan menurun seiring terbatasnya stok vaksin jadi.

JAKARTA -- Pemerintah terus berupaya memenuhi ketersediaan vaksin Covid-19 di tengah tingginya antusias masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Pada Selasa (27/7) siang, Indonesia kembali mendatangkan 21,2 juta dosis bahan baku vaksin Sinovac.

Kementerian Kesehatan dan Bio Farma menyebut, saat ini ada sekitar 20 juta dosis vaksin jadi yang siap didistribusikan secara bertahap pada Agustus.  Kecepatan laju vaksinasi Covid-19 belakangan menurun seiring terbatasnya stok vaksin jadi. Setelah sempat tembus dua juta dosis per hari pada pertengahan Juli 2021, realisasi vaksinasi harian turun ke kisaran ratusan ribu dosis per harinya. 

Capaian vaksinasi selama pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pun terlihat fluktuatif. Dalam kurun 24 hari terakhir, 3-26 Juli, hanya lima kali realisasi vaksinasi tembus satu juta dosis dalam sehari. Sedangkan, vaksinasi dua juta dosis sehari hanya satu kali terwujud, yaitu pada 14 Juli 2021. 

Rata-rata capaian vaksinasi Covid-19 harian sepanjang sejak 3 Juli hingga kini tercatat 760.052 dosis atau suntikan per hari. Angka ini di bawah target vaksinasi pemerintah, yakni satu juta dosis per hari pada Juli 2021. Bahkan sepanjang pelaksanaan PPKM Darurat, tercatat ada tujuh kali realisasi vaksinasi di bawah 500 ribu dosis per hari. Capaian terendah tercatat pada 11 Juli 2021 dengan 115.961 dosis dalam sehari.

Terkait

photo
Anggota TNI berjaga di dekat envirotainer yang berisi bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac setibanya di PT Bio Farma (Persero), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (27/7/2021). Sebanyak 21,2 juta dosis bulk (bahan baku) vaksin Covid-19 dari Sinovac, Cina, tiba di PT Bio Farma untuk diproses. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Sementara itu, jumlah kasus harian Covid-19 masih tetap tinggi selama penerapan PPKM Darurat maupun PPKM Level 4. Per Selasa (27/7), terdapat 45.203 kasus baru, lebih tinggi dibandingkan Senin (26/7) yang 28.228 kasus. Secara keseluruhan, kasus positif Covid-19 di Tanah Air telah mencapai 3,2 juta kasus. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Senin (26/7) telah menjelaskan mengenai menurunnya laju vaksinasi. Ia menjelaskan, sebagian besar dari 132 juta dosis vaksin yang didatangkan dari luar negeri berwujud bahan baku. Butuh waktu 1,5 bulan bagi produsen vaksin domestik, yakni Bio Farma, untuk mengubahnya menjadi vaksin siap pakai.

"Dengan 132 juta vaksin yang datang dalam bentuk bahan baku, jumlah vaksin jadinya sekitar 80 persen atau 105 juta dosis. Itu mengapa kita hanya punya 85 juta dosis karena sisanya 20 juta masih dalam proses produksi," kata Menkes. 

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah terus bekerja keras memenuhi ketersediaan vaksin dari berbagai jalur. "Vaksin terus didatangkan untuk mencapai target sasaran vaksinasi,” kata Airlangga saat konferensi pers kedatangan 21,2 juta dosis vaksin Sinovac, Selasa (27/7). 

Airlangga mengatakan, vaksin yang disediakan pemerintah sudah melalui proses evaluasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan para ahli. “Pemerintah selalu memastikan keamanan, kualitas, dan khasiat untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh,” kata Airlanga. 

Menurut dia, Presiden Joko Widodo juga menekankan bahwa vaksinasi Covid-19 merupakan langkah krusial menentukan kesuksesan pemerintah agar bisa mengakhiri pandemi. Percepatan vaksinasi pun perlu dilakukan demi mencapai kekebalan komunal.

Untuk mencapai kekebalan kelompok, kata dia, dibutuhkan sekitar 208 juta penduduk Indonesia yang perlu divaksin. Jumlah ini meningkat setelah ditambahkan kelompok anak berusia 12-17 tahun. Saat sekarang, 718 ribu anak telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by KPCPEN #PakaiMasker (lawancovid19_id)

 

Hingga 26 Juli 2021, realisasi vaksinasi sebanyak 64,13 juta dosis vaksin. Jumlah tersebut terdiri atas 45,5 juta suntikan pertama dan 18,6 juta suntikan kedua.

Di samping program vaksinasi, kata Airlangga, pemerintah juga terus mendorong peningkatan kedisiplinan di masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan, peningkatan kapasitas pengetesan dan pelacakan kasus, serta perpanjangan kebijakan PPKM hingga 2 Agustus. 

“Perlu ditekankan bahwa vaksinasi adalah salah satu strategi pemerintah untuk penanganan pandemi Covid. Vaksinasi perlu didampingi oleh kedisiplinan masyarakat dan harus dilaksanakan secara bersama,” jelas Airlangga.

photo
Tenaga kesehatan Korps Marinir TNI AL memeriksa kesehatan ABK di atas KMP Sebuku saat acara Serbuan Vaksinasi Covid-19 Ship To Ship di Selat Sunda, Banten, Selasa (27/7/2021). Panitia menyediakan 1.500 dosis vaksin Covid-19 untuk anak buah kapal (ABK), nelayan, dan warga pesisir guna mempercepat pencapaian kekebalan kelompok. - (ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN)

Siap didistribusikan

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini ada sekitar 20 juta dosis vaksin jadi yang siap didistribusikan secara bertahap. "Yang lainnya masih proses produksi menjadi vaksin jadi dan dalam tahap quality control (QC) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan," kata Nadia kepada Republika, kemarin.

Dia mengungkapkan, proses QC vaksin membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga pekan. Setelah dinyatakan clear, barulah distribusi vaksin bisa dilakukan.

Terkait daerah yang mengeluhkan kurangnya pasokan vaksin, Nadia menyebut vaksin akan terus datang bertahap hingga Desember mendatang. Ia juga meminta pemimpin daerah memahami bahwa Indonesia harus berebut dengan negara-negara lain untuk mendapatkan pasokan vaksin.

Apalagi, kata dia, setelah Juli tidak ada pembatasan kelompok masyarakat mana yang bisa mendapatkan vaksin. "Jadi, semua berhak (mendapatkan vaksin), padahal kita tahu vaksinnya terbatas," katanya.

Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, sejak 6 Desember 2020 hingga 22 Juli 2021, jumlah vaksin yang sudah masuk ke Indonesia mencapai 151,9 juta dosis. 

photo
Iring-iringan kendaraan yang membawa bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac tiba di PT Bio Farma (Persero), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (27/7/2021). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Jumlah itu terdiri atas 123,5 juta dalam bentuk bulk yang diterima dari Sinovac dan 22,4 juta lainnya diterima dalam bentuk vaksin jadi dari Astrazeneca dan Moderna. Bambang mengatakan, per Senin (26/7), total vaksin Covid-19 yang sudah jadi sekitar 90,1 juta dosis.

"Sebanyak 65,8 juta dosis di antaranya sudah memperoleh lot rilis dari BPOM. Sisanya sebanyak 24,3 juta dosis masih menunggu lot rilis," kata Bambang. 

Ia menjelaskan, dari bulk yang telah diterima Bio Farma sebanyak 123,5 juta dosis, diperkirakan dapat menghasilkan vaksin Covid-19 sebanyak 99,5 juta dosis. Sementara, yang telah diproses 110,7 juta dosis dan menghasilkan produk jadi sekitar 90,1 juta dosis.

"Dengan jumlah produk jadi yang rilis pada Juli diperkirakan sebesar 16,6 juta dosis dan siap didistribusikan pada Agustus sebesar 19,8 juta dosis," katanya. 

Animo Tinggi, Stok Vaksin Terbatas

Animo masyarakat di daerah untuk melakukan vaksinasi terus meningkat. Sayangnya, distribusi vaksin dari pemerintah pusat tak bisa dipastikan kedatangannya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra mengatakan, saat ini baru 17,26 persen dari total sasaran sebanyak 560.243 penduduk Kota Tasikmalaya yang menjalani vaksinasi dosis pertama. Sementara yang telah menerima dosis kedua lebih rendah, hanya sekitar 9 persen.

"Itu sudah ditambah vaksinasi yang dilakukan dari instansi lain, seperti TNI dan Polri," kata dia saat dihubungi Republika, Selasa (27/7).

photo
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin kepada masyarakat pada program vaksinasi kolaborasi dan nakes pendukung di Jakarta, Senin (26/7). - (REPUBLIKA/Darmawan)

Menurut dia, capaian vaksinasi yang masih rendah itu bukan karena pelaksanaan tak masif, apalagi karena masyarakat menolak vaksinasi. Kendala utama vaksinasi rendah disebabkan distribusi vaksin yang terbatas.

Atas alasan itu pula, petugas di lapangan terpaksa mengerem pelaksanaan vaksinasi. Sebab, hingga saat ini Tasikmalaya belum mendapat tambahan kiriman vaksin dari pusat. "Saat ini stok vaksin di gudang farmasi Kota Tasikmalaya sudah habis," kata Asep.

Vaksin yang ada di gudang farmasi sudah seluruhnya didistribusikan ke puskesmas. Menurut Asep, stok di puskesmas tak bisa dialihkan untuk penyuntikan kepada masyarakat yang baru akan melakukan vaksinasi. Sebab, stok vaksin hanya tersisa untuk penyuntikan dosis kedua.

Apabila semua stok vaksin yang ada disuntikkan ke masyarakat, kata dia, petugas akan kebingungan ketika jadwal untuk penyuntikan kedua tiba. Apalagi, tak ada kepastian terkait distribusi vaksin ke Kota Tasikmalaya. "Soalnya suntikan dosis kedua sudah dijadwal by name by address, jadi tak bisa digunakan untuk suntikan dosis pertama," kata dia.

Ia mengungkapkan, animo masyarakat untuk melakukan vaksinasi sangat luar biasa. Apalagi, sertifikat vaksinasi juga sudah menjadi syarat banyak hal, termasuk untuk melakukan perjalanan.

Keterbatasan stok vaksin tak hanya dirasakan di Kota Tasikmalaya. Di Kabupaten Garut, hal serupa juga dirasakan. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani menilai, animo masyarakat untuk melakukan vaksinasi sudah cukup tinggi, termasuk di wilayah perdesaan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, setiap puskesmas melakukan vaksinasi, jumlah warga yang datang selalu melebihi target.

 
Saya dapat banyak laporan vaksin sudah habis di puskesmas. Saya biasanya suruh mereka untuk pinjam ke TNI atau ke puskesmas lain.
LELI YULIANI, Sekretaris Dinkes Kabupaten Garut
 

"Saya dapat banyak laporan vaksin sudah habis di puskesmas. Saya biasanya suruh mereka untuk pinjam ke TNI atau ke puskesmas lain," kata dia.

Ia menyebutkan, di Kabupaten Garut terdapat dua juta penduduk yang menjadi sasaran vaksinasi. Namun, saat ini baru sekitar 150 ribu orang yang menjalani vaksinasi "Masih jauh karena kita terkendala stok vaksin. Sekarang saja di puskesmas banyak yang kosong,” kata dia.

Leli menyatakan, berdasarkan arahan pemerintah pusat, vaksinasi ditargetkan tuntas Agustus. Namun, melihat distribusi vaksin yang sangat terbatas, kemungkinan target itu baru tercapai pada akhir tahun.

"Mungkin akhir tahun baru tercapai, asal droping vaksin bagus. Sekarang droping rata-rata 500 vial sekali datang. Tapi itu juga tak tentu waktunya," kata dia. 


×