Menjadi Muslimah di tanah Papua membuat jiwa Erna Nurfadilah Abdul Rahim bergejolak. | DOK Pribadi
20 Jun 2021, 03:35 WIB

Melahirkan Generasi Qurani di Tanah Papua

Menjadi Muslimah di tanah Papua membuat jiwa Erna Nurfadilah Abdul Rahim bergejolak.

"Karena menurut kami, insya Allah, ketika kita mampu membaca dengan baik maka menghafal Alquran juga jadi lebih mudah."

Menjadi Muslimah di tanah Papua membuat jiwa Erna Nurfadilah Abdul Rahim bergejolak. Sebagai minoritas, dia miris karena awamnya pemahaman masyarakat setempat tentang agama.

Kampung Ambon, Desa Abepantai, menjadi tempat Erna menginisiasi pembangunan Rumah Quran. Pemberdaya Masyarakat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Papua ini ingin agar anak-anak sekitar Papua mengenal Alquran dengan baik dan benar. 

“Di sana memang sudah ada masjid yang menyediakan pengajian Alquran, tapi hanya sekadar dibaca saja tanpa memperhatikan tajwid, akhirnya saya ingin membuat tempat belajar yang berbeda dari yang sudah ada,” ujar Erna kepada Republika, Rabu (16/6). 

Terkait

Erna menjelaskan, saat awal pendirian Rumah Qur’an, dia sempat mengalami kesulitan untuk menemukan tempat karena sulitnya perizinan pembangunan bangunan. Erna pun harus menumpang di rumah warga yang bersedia menyediakan tempat bagi mereka dengan peserta didik yang baru seadanya. 

Jumlah murid yang semakin bertambah mengharuskan Erna mencari tempat baru. Dia bahkan harus menambah tenaga pengajar untuk Rumah Qur’an. “Dulu, hanya saya sendiri yang mengajar, tapi setelah ada penambahan tenaga kerja, ada empat orang pengajar ditambah empat lainnya dari guru lokal,” tutur Erna.

 
Dulu, hanya saya sendiri yang mengajar, tapi setelah penambahan tenaga kerja, ada empat pengajar ditambah empat lainnya dari guru lokal.
 
 

Alasan kesehatan membuat  Erna harus berhenti dari pekerjaannya. Dia menyerahkan tanggung jawab Rumah Qur’an kepada rekan seperjuangannya. Sebagai gantinya, dia dan sang suami memantapkan diri untuk membangun Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) milik mereka sendiri.

“Karena setelah nikah sempat keguguran, yang kemungkinan besar karena guncangan perjalanan, mengingat jarak rumah dengan lokasi Rumah Qur’an yang begitu jauh juga kondisi jalan yang tidak mulus, akhirnya dengan pertimbangan kesehatan saya memutuskan resign dan mendirikan TPQ sendiri,” ujar dia. 

TPQ yang berlokasi di Distrik Arso, Kabupaten Keenom, Papua, itu diberi nama Mafaza. Nama itu diambil dari suraf az-Zumar ayat 61 yang berarti selamat dan sukses.

TPQ itu dibangun sepenuhnya dengan modal dan upaya Erna dan sang suami tanpa bantuan dari pihak mana pun. Erna juga memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai tempat kegiatan belajar-mengajar. 

Awalnya, Erna mengaku tidak berniat membangun sendiri TPQ miliknya. Dia ingin sekadar membantu TPQ yang ada, yang digelar di masjid-masjid sekitar rumahnya.

Namun, setelah terjun langsung ke lapangan, Erna menemukan beberapa perbedaan dalam mode pengajaran. Kebanyakan tidak sejalan dengan sistem pengajaran yang selama ini dia terapkan. 

“Banyak hal yang tidak sejalan dengan kami, di mana guru akan membaca terlebih dahulu ayatnya lalu muridnya hanya mengikuti. Di situ saya tidak sejalan dengan sistem di sana, makanya kami bertekad untuk membangun TPQ kami sendiri,” ujar dia.

photo
Erna Nurfadilah dan ikhtiar melahirkan generasi Qurani di tanah Papua - (DOK Pribadi)

TPQ Mafaza memiliki sistem didik yang tidak jauh berbeda dengan yang diusung Rumah Qur’an. Dia juga mengaku tidak memprioritaskan program hafalan pada anak didik. Sebaliknya, peserta didik akan diarahkan dalam penguasaan bacaan dan tajwid.

Alasannya karena ia melihat banyak anak yang hanya diwajibkan menghafal, sedangkan bacaan, makharijul huruf, dan tajwidnya masih belum kuat. “Karena menurut kami, insya Allah, ketika kita mampu membaca dengan baik maka menghafal Alquran juga jadi lebih mudah,” ujarnya. 

TPQ Mafaza sejatinya sangat membatasi jumlah peserta didik, hanya 10 anak saja. Mereka tidak memiliki tenaga pengajar tambahan selain Erna. Namun, minat masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka semakin tinggi dan membuat Erna juga sang suami menerima 10 anak didik lain.

photo
Menjadi Muslimah di tanah Papua membuat jiwa Erna Nurfadilah Abdul Rahim bergejolak. - (DOK Pribadi)

“Ternyata minat masyarakat untuk mendaftarkan anaknya cukup tinggi dan akhirnya ditambahkan peserta didiknya menjadi 27, dibagi-bagi kelasnya, 10 saya yang ajar, sisanya diajar oleh suami,” tutur dia.

Selain mengajarkan tata cara membaca Alquran dengan baik, TPQ Mafaza juga mengusung pembelajaran fikih ibadah. Dia berharap anak-anak didik dapat lebih memahami dan mempraktikkan ibadah-ibadah harian dengan baik.

Erna juga menyediakan control book yang berfungsi sebagai laporan tentang perkembangan dan progres belajar anak juga sebagai alat pantau bagi orang tua. “Kami menyediakan buku untuk mengontrol kebiasaan ibadah dan amal harian anak, yang disesuaikan dengan umur si anak,” ujar dia.

TPQ Mafaza juga tidak memaksakan anak untuk menghafal. Saat peserta didik sudah bisa membaca Alquran dengan baik, mereka akan diajak untuk mulai menghafal. Dia berharap dengan adanya TPQ ini, dia dan suami dapat berkontribusi mencetak generasi pencinta Alquran.


×