Warga Gaza memeriksa kerusakan gedung perumahan yang hancur dibom Israel di Kota Gaza, Jumat (21/5/2021). | AP Photo/Hatem Moussa

Kabar Utama

24 May 2021, 03:55 WIB

Bangkitlah, Gaza!

Sebanyak 50 masjid rusak dan tiga hancur dalam serangan Israel.

GAZA – Dampak serangan selama 11 hari yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza terhadap infrastruktur wilayah tersebut mulai dihitung. Dengan kerusakan yang sangat masif, bantuan dunia diharapkan segera mengalir.

Dihimpun Republika dari media Palestina dan Israel, merujuk pendataan yang dilakukan berbagai departemen di Gaza, total kerugian akibat kerusakan di berbagai sektor melampaui 200 juta dolar AS. Sebagian besar dari total tersebut (92 juta dolar AS) merupakan kerusakan pada sektor perumahan.

Sedikitnya, 12.800 unit rumah terdampak bom-bom yang dijatuhkan militer Israel sejak Senin (10/5) hingga gencatan senjata pada Jumat (21/5). Sementara, 1.335 unit rumah hancur total akibat bom-bom tersebut. Kehilangan rumah tinggal itu mengakibatkan sekitar 70 ribu warga Gaza mengungsi. 

Selain itu, sebanyak 53 sekolah, 22 fasilitas kesehatan, dan 74 kantor pemerintahan yang dijalankan Hamas di Gaza juga mengalami kerusakan. Salah satu yang rusak total adalah satu-satunya fasilitas pengujian Covid-19 di Gaza.

"Selama ini, Covid-19 cukup parah di sini. Ada lonjakan besar kasus tepat sebelum eskalasi. Sekarang, orang-orang berlindung bersama," kata Koordinator Kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina, Lynn Hastings, kemarin (23/5). Saat ini, sekolah-sekolah di Gaza ditutup dan memengaruhi hampir 600 ribu murid.

photo
Data Kerusakan di Gaza. - (Republika)

Tak hanya itu, 40 masjid dan satu gereja di Gaza juga terdampak bom. Tiga masjid hancur total akibat pengeboman. Kerusakan di bangunan-bangunan keagamaan tercatat mencapai 5 juta dolar AS.

Pasokan listrik untuk warga Gaza juga mengalami kerusakan senilai 22 juta dolar AS. Hal ini, menurut media sayap kiri Israel, Haaretz, membuat pasokan listrik bagi banyak warga Palestina putus, sementara lainnya hanya mendapatkan pasokan listrik tiga hingga empat jam sehari. Bahan bakar untuk generator listrik juga kian terbatas akibat ulah Israel menutup pelintasan Kerem Shalom.

Ketiadaan listrik ini berdampak pula pada pasokan air bersih di Gaza. Hal ini karena blokade Israel sejak 2007 menyebabkan 95 persen air di Gaza tak layak diminum dan bergantung pada pusat sterilisasi dan salinasi yang hanya bisa berjalan bila ada aliran listrik.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga melansir serangan Israel ke Jalur Gaza telah menghancurkan hampir 50 persen jaringan pipa air di wilayah tersebut. Akibatnya, sekitar 800 ribu warga di sana tak memiliki akses ke air bersih.

Sementara, akibat serangan balasan roket-roket Hamas ke bagian selatan dan tengah Israel disebut menimbulkan kerugian ekonomi senilai 166 juta dolar AS. Jumlah itu, menurut asosiasi manufaktur Israel, belum termasuk kerusakan pada pabrik-pabrik.

photo
Anak-anak di Gaza merayakan gencatan senjata antara pasukan Israel dan Hamas, Jumat (21/5/2021). - (EPA-EFE/HAITHAM IMAD)

Kerusakan yang ditimbulkan akibat bombardir Israel belakangan menambah kesulitan warga Gaza yang sudah hidup dalam blokade sejak 2007. Wilayah yang luasnya hanya separuh luas DKI Jakarta itu selama ini telah dihinggapi kemiskinan serta tingginya tingkat pengangguran akibat blokade Israel.

Warga Central Gaza, Abeer Z Barakat, bersaksi soal kondisi selepas serangan 11 hari dari Israel tersebut. “Jalan-jalan berlubang, kami tak bisa berkendara ke mana-mana,” tuturnya dalam seminar yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bersama Republika dan Umma pada Sabtu (22/5).

Ia menuturkan bahwa banyak rumah tetangganya saat ini tak dialiri listrik. Sementara, kondisi di wilayah tinggalnya nyaris tak bisa dikenali lagi. "Kita tidak cuma mencari donasi, kami ingin dunia membawa ahli untuk membantu membangun Gaza. Bawa dokter, insinyur teknik sipil, teknik lingkungan. Ajari kami," ujar Barakat.

Ia menjelaskan, donasi yang dikumpulkan warga Indonesia dan dunia untuk membantu Gaza bisa sekejap mata dihancurkan kembali oleh militer Israel. Sedangkan, transfer ilmu untuk warga Gaza akan membantu secara berkelanjutan. “Agar kami bisa berdiri di atas kaki kami sendiri,” ia melanjutkan.

Sementara, Dewan Keamanan PBB merilis pernyataan perdana tentang pertempuran terbaru Israel-Hamas di Jalur Gaza yang berlangsung selama 11 hari. Mereka menyerukan agar kedua belah pihak mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Dewan Keamanan PBB juga menekankan pentingnya segera menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil Palestina. “Khususnya, di Gaza,” tulis pernyataan tersebut.

Gencatan senjata Hamas-Israel diberlakukan pada Jumat (21/5). Setidaknya, 248 warga Gaza, sekitar 65 di antaranya anak-anak, dilaporkan gugur selama Gaza dibombardir militer Israel.

Sementara, Israel mencatatkan, setidaknya 12 korban jiwa akibat serangan roket Hamas. Di Tepi Barat, sedikitnya 29 warga Palestina gugur dalam aksi solidaritas terhadap saudara-saudara mereka di Gaza. Dari jumlah itu, empat di antaranya merupakan anak-anak.

Dukungan berlanjut

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah disepakati, pawai solidaritas pro-Palestina masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah masing-masing memberikan sanksi dan mengembargo militer untuk memotong pasokan senjata ke Israel.

Aksi unjuk rasa digelar di kota-kota negara Barat, seperti Berlin, Melbourne, London, dan Paris. Aksi serupa juga dijadwalkan di kota-kota besar lainnya seperti New York.

"Saya sangat bangga, kami bersatu untuk sesuatu yang penting," kata salah satu peserta pawai di London, Amal Nagvi pada Aljazirah, Ahad (23/6). "Banyak orang yang berpikir ini tidak akan berpengaruh. Mereka pikir kami hanya berpawai dan berteriak, tapi banyak hal sudah berubah dan kami tidak akan berhenti sampai akhirnya, ada perubahan dan Palestina merdeka," katanya menambahkan.

Aksi unjuk rasa juga digelar di ibu kota Israel, Tel Aviv. Para pengunjuk rasa menuntut agar masyarakat Yahudi dan Muslim dapat hidup berdampingan. Demonstrasi itu satu dari beberapa aksi unjuk rasa di Israel, yang menuntut perdamaian antara Israel dan Palestina. 

Pengunjuk rasa berpawai keliling kota dan akhirnya, berhenti di Alun-Alun Habima untuk mendengarkan politisi dan artis berpidato.

Aljazirah melaporkan, aksi unjuk rasa sebuah peristiwa langka, yakni warga Israel menyuarakan perlawanan mereka terhadap pendudukan. Aksi unjuk rasa ini sebagian besar diorganisasi partai sayap kiri dan partai Israel-Palestina. Para pengunjuk rasa memegang papan bertuliskan “Peace Now”. 

Di Sumatra Barat, Gubernur Mahyeldi Ansharullah melepas Aksi Solidaritas Palestina dari Forum Komunikasi Sumatra Barat menggelar Peduli Palestina di halaman Masjid Raya Sumatra Barat, Ahad (22/5).

Aksi tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat dan ormas di Sumbar, yang mengutuk serangan Israel dan mengajak masyarakat Indonesia untuk terus membantu dan mendukung perjuangan rakyat Palestina.

"Untuk itulah kita hadir pada hari ini, pertama-tama untuk melakukan pembelaan kepada Palestina. Perjuangan kemerdekaan dan perjuangan menuntut hak bagi warga masyarakat Palestina," ujar Mahyeldi.

Dia berharap, dukungan masyarakat di berbagai penjuru negeri dapat membuka mata dunia untuk peduli akan hak-hak dari Palestina dan HAM kaum Muslimin.

Aksi solidaritas mendukung Palestina juga berlangsung di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pada Ahad (23/5), berbagai organisasi kemasyarakatan dan ormas Islam serta kepemudaan, yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Sukabumi Bela Palestina ini menggelar aksi di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi.

Dalam aksinya, massa membawa bendera raksasa Palestina di tengah lapangan. Momen ini juga dihadiri para ulama dan tokoh masyarakat yang ada di Sukabumi.

''Sesuai dengan komitmen pada pembukaan UUD 1945, masyarakat Sukabumi Raya mengutuk keras tindakan Israel kepada bangsa Palestina,'' ujar Koordinator Lapangan Aksi, Budi Lesmana, dalam orasinya. Aksi ini juga mengeluarkan petisi Sukabumi Lawan Israel.

Petisi ini menyerukan kaum Muslimin Indonesia berdoa dan melaksanakan Qunut Nazilah untuk saudara Muslim di Palestina. Selain itu, menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk memboikot segala produk yang berasal dan berafiliasi dengan Israel.

Direktur Pusat Studi Hukum dan Hak Asasi Manusia (Pusham) UII, Eko Riyadi menekankan, bahwa solidaritas untuk Palestina dari akar rumput tersebut perlu terus digalakkan. Sebab, dunia sejauh ini belum bisa mengharapkan para pimpinan dunia untuk menyelasaikan persoalan di Palestina. 

“Mungkin sudah saatnya kita tidak berharap pada elite politik, tetapi membangun solidaritas kemanusiaan internasional yang tidak berbasis pada identitas tertentu,”ujarnya dalam seminar yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bersama Republika dan Umma pada Sabtu (22/5). Menurut dia, harus didorong wacana bahwa yang terjadi di Palestina adalah penjajahan yang harus dilawan seluruh umat manusia.

Sumber : Reuters


×