Warga menyeberang di zebra cross di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,74 persen pada kuartal I 2021. | ANTARA FOTO
07 May 2021, 03:45 WIB

Percepat Penyaluran Program Pemulihan Ekonomi Nasional

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus membaik, sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi global yang semakin kuat.

JAKARTA -- Kalangan ekonom memproyeksikan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 akan tumbuh positif. Namun, tingkat pertumbuhannya diprediksi tidak akan setinggi yang diharapkan pemerintah. 

Menurut proyeksi Institite for Development of Economics and Finance (Indef), pertumbuhan ekonomi pada April-Juni tahun ini berada di kisaran lima persen. "Kuartal II 2021 kemungkinan perekonomian sudah keluar dari resesi, namun pertumbuhan ekonomi hanya akan 5 persen atau lebih rendah dari target Presiden sebesar 7 persen," kata Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto, Kamis (6/5). 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun ini masih mengalami kontraksi. Secara year on year (yoy), pertumbuhan ekonomi minus 0,74 persen, sedangkan dibanding kuartal sebelumnya minus 0,96 persen.

Menurut Eko, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih minus karena laju konsumsi rumah tangga masih negatif. Hal tersebut terjadi akibat daya beli masyarakat yang sangat melemah selama pandemi.

Terkait

Selain itu, laju investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga masih negatif. Padahal, komponen konsumsi dan investasi ini menyumbang 89 persen pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2021.

photo
Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 - (bps.go.id)

Eko menilai, upaya pemerintah dalam memulihkan ekonomi masih perlu didorong secara optimal, terutama dari sisi penanganan kesehatan serta percepatan realisasi pemulihan ekonomi nasional (PEN). Eko melihat pemulihan ekonomi berjalan lamban karena dorongan pemulihan konsumsi belum kuat. "Di samping itu, dukungan sektor perbankan masih belum optimal, kredit rendah dan bahkan negatif," tutur Eko. 

Untuk mendorong ekonomi agar segera pulih, menurut Eko, pemerintah harus melakukan perubahan skema stimulus fiskal pada program bantuan sosial yang lebih tepat sasaran. Program-program yang memiliki kecenderungan tidak efektif dan sasarannya tumpang-tindih lebih baik dihapuskan. "Ini karena kalau dibiarkan, bantuan sosial akan memberikan implikasi naiknya simpanan masyarakat dan bukan konsumsi," terang Eko. 

Ia menambahkan, pemerintah juga harus memperioritaskan insentif fiskal ke sektor usaha dan sektor yang masih mengalami pertumbuhan negatif, seperti hotel, restoran, dan angkutan. Pemerintah juga perlu melakukan perubahan mendasar pada postur APBN mengingat beberapa kondisi makro telah berubah, termasuk mengantisipasi masuknya gelombang serangan Covid-19 kedua maupun varian baru Covid-19.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai, kemungkinan ekonomi tumbuh positif pada kuartal II cukup besar. Namun, tingkat pertumbuhan tidak sampai tujuh persen. 

"Kuartal II kami perkirakan akan positif, meski tidak seoptimis pemerintah yang sampai tujuh persen. Kami tidak berani seyakin itu," ucapnya.

photo
Warga berjalan di jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,74 persen pada kuartal I 2021. - (Aprillio Akbar/ANTARA FOTO)

Secara pribadi, Piter berharap pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh sesuai yang diinginkan pemerintah. Namun, proyeksi itu tetap harus realistis dan disesuaikan dengan berbagai risiko yang masih besar, seperti terjadinya gelombang baru Covid-19.

Menurut Piter, pertumbuhan ekonomi telah menunjukkan perbaikan secara konsisten. Meski masih mengalami kontraksi, tapi ekonomi domestik masih bisa tumbuh lebih baik. "Tadinya saya perkirakan minus satu persen, ternyata justru lebih baik, yaitu 0,74 persen," katanya. 

Menurut Piter, sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah akan cukup mampu untuk membawa ekonomi Indonesia ke zona positif pada kuartal II tahun ini. Beberapa stimulus itu, kata dia, adalah relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan hingga pajak properti yang mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Sementara, pemerintah tetap yakin pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 tumbuh di kisaran tujuh sampai delapan persen. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi yang sudah menunjukkan tren pemulihan.

Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan, beberapa indikator ekonomi pada Januari sampai Februari 2021 masih ada yang 'merah'. Namun, pada Maret 2021 sudah mulai 'hijau'. 

photo
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2021 - (bps.go.id)

“Artinya ini menunjukkan perekonomian Indonesia sudah menunjukkan tren pemulihan sesuai yang diharapkan oleh pemerintah. Kita optimistis sekitar tujuh sampai delapan persen karena kuartal II 2020 kemarin negatif,” ujarnya saat acara Diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema Kabar Penyerapan Dana PEN 2021 secara virtual, Kamis (6/5). 

Untuk mewujudkan target itu, pemerintah berupaya mempercepat belanja negara dan dukungan bagi sektor UMKM. Per akhir April 2021, realisasi PEN sebesar Rp 155,63 triliun atau mencapai 22,3 persen dari pagu yang disediakan sebesar Rp 699,43 triliun.

"Bismillah, kuartal dua bisa mencapai itu. Tentu, kita tetap waspada terhadap penularan Covid-19 dengan selalu menjaga prokes," ujar dia. 

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus membaik, sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi global yang semakin kuat dan dorongan stimulus kebijakan yang berlanjut. Namun, implementasi vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol Covid-19 tetap diperlukan untuk mendukung akselerasi perbaikan permintaan domestik.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk implementasi Paket Kebijakan Terpadu KSSK, untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional," katanya dalam keterangan, Kamis (6/5).

Erwin mengatakan, perbaikan ekonomi domestik terjadi pada hampir semua komponen PDB sisi pengeluaran dan lapangan usaha (LU). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor pada kuartal I 2021 tumbuh positif untuk pertama kalinya sejak merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia, sebesar 6,74 persen (yoy), meningkat dari capaian kuartal sebelumnya yang terkontraksi 7,21 persen (yoy).

Perbaikan kinerja ekspor itu terutama ditopang peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama, khususnya Cina dan Amerika Serikat. Perkembangan positif pada sektor eksternal dan perbaikan investasi mendorong perbaikan kinerja impor yang tumbuh sebesar 5,27 persen (yoy).

Sementara itu, perbaikan konsumsi rumah tangga dan lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) masih terbatas. Ia mengatakan, hal ini terjadi karena masih adanya pembatasan mobilitas masyarakat di sejumlah wilayah. 


×