Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
04 May 2021, 03:20 WIB

Ranah Minang, ABS-SBK-AM-SM, dan Kebanggaan Semu (IV)

Mimbar agama yang semestinya memberi keteduhan dalam merajut persaudaraan.

OLEH  AHMAD SYAFII MARIF

Tetapi, tokoh Minang yang berwawasan nasional menilai usul itu  sebagai sesuatu yang usang. Prof DR Asvi Warman Adam (LIPI) menolak usul euforia itu, “Saya termasuk yang tidak setuju. Kenapa kok kita kembali lagi ke kesukuan, itu menurut saya kemunduran pemakaian nama suatu etnis untuk menjadi identitas kebangsaan dalam bernegara.”

Asvi  melanjutkan: “…memakai nama suatu etnis atau suku tertentu untuk  identitas dalam sebuah negara, seperti provinsi akan menyebabkan bangsa Indonesia terpecah dan kembali ke era sebelum Sumpah Pemuda.” (Lih Tempo, 12 Maret 2021). 

Pendapat Prof Asvi, sejarawan dari etnis Minangkabau ini, patut didengar dan dipertimbangkan oleh mereka yang bersemangat dengan  usul yang ganjil itu.

Terkait

Dalam otak Haji Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Hamka, Muhammad Yamin, dan  banyak yang lain, tidak pernah terbayang adanya mimpi sebuah DIM itu.

 

 
Pendapat Prof Asvi, sejarawan dari etnis Minangkabau ini, patut didengar dan dipertimbangkan oleh mereka yang bersemangat dengan  usul yang ganjil itu.
 
 

Saya khawatir, yang terjadi adalah gatal di kepala, lutut yang digaruk!  Sebagai kawasan yang dulu dikenal dalam sebutan “pabrik kearifan kata” dan “industri otak,” sekarang sebagian orang mengapa tampil sebagai  manusia yang kehilangan perspektif dengan menonjolkan identitas  primordial, yang seharusnya sudah dimasukkan dalam museum sejarah.

Tentang “industri otak,” perlu dilihat data terbaru tentang tingkat pendidikan rata-rata warga ranah Minang. Kemudian simpulkan sendiri,  apakah julukan “industri otak” itu sebuah kenyataan atau hanya hiburan  kosong.

Rektor UNP (Universitas Negeri Padang) Prof Ganefri, Ph.D pada 19 Maret 2021 mengatakan, warga Sumatra Barat cuma sampai kelas VII SMP. Maka rektor “mempertanyakan jargon Sumatra Barat sebagai industri otak, yang menghasilkan orang-orang cerdas dan berkontribusi secara nasional.” (Lih. http.//regional.kompas.com/read/ 2021/03/19/125313878/rektor-unp-rata-rata-sumbar-cuma-sampai-kelas vii-smp).

Data ini semakin memperkuat hipotesis kita, memang  “kebanggaan semu” itu adalah sebuah realitas, bukan tafsiran yang direkayasa. 

Tentang otak Minang ini, Riki Dhamparan Putra menulis, “Otak pada  masyarakat Minang, sesungguhnya sama nilainya dengan pikiran bagi  Descartes. Otak ada maka Minang ada. Kalau tak ada otak, yang akan tinggal hanya restoran gulai otak, yang hanya tahu mengenyangkan  perut, tapi membuat orang Minang menjadi pengantuk dan tertidur.” (Lih.  Riki Dhamparan Putra, “Tarbiyah Islamiyah, Otak Minangkabau, dan Buya  Syafi’I Ma’arif” dalam Jaringan Tarbiyah Islamiyah, 17 Agustus 2020). Tentang Riki ini akan dibicarakan lebih jauh. 

Fenomena lain yang muncul sejak akhir abad yang lalu adalah cara  beragama dengan menonjolkan serbalahiriah: pakai jenggot, kopiah  putih, baju koko, celana cingkrang, dan cadar bagi perempuan.

 
Tetapi ada hal lain yang lebih serius: pendangkalan paham agama.
 
 

Ketika saya  tanyakan kepada budayawan Minang, Edy Utama, melalui WA tertanggal  14 Maret 2021 mengenai gejala ini, jawabannya tidak terlalu mencemaskan: “Secara umum kelihatannya stagnan…, kecuali di  Bukittinggi yang wali kotanya dukungan... (disebut partai tertentu). Kelihatannya yang semakin banyak itu perempuan bercadar. Sering jumpa  di jalan.” 

Tetapi ada hal lain yang lebih serius: pendangkalan paham agama. Di samping model pakaian khas yang dipakai, banyak mubaligh, dai, ustaz, menyampaikan ceramah agama dengan marah-marah, hantam kiri-hantam kanan, tidak jarang dengan nuansa politik.

Akibatnya, polarisasi dalam masyarakat semakin tajam. Mereka ini lebih mengutamakan kulit, lupa isi. Mimbar agama yang semestinya memberi keteduhan dalam merajut persaudaraan telah berubah menjadi ajang penyulut sengketa.

Masyarakat diombang-ambingkan oleh ceramah agama yang tidak  mendidik, jauh dari kesopanan. Bagaimana dengan kondisi ninik-mamak sebagai pemangku adat? 

 
Masyarakat diombang-ambingkan oleh ceramah agama yang tidak  mendidik, jauh dari kesopanan. Bagaimana dengan kondisi ninik-mamak sebagai pemangku adat? 
 
 

Lagi, ini pengamatan Edy Utama via WA-nya tertanggal 14 Juni 20 dalam bahasa Minang: “Alah marato kondisi niniak mamak di Ranah Minang,  krisis kepemimpinan yang luar biasa. Diangkek niniak mamak atau  penghulu nan tingga di rantau, hanyo manambah masalah baru. Sekadar untuak maajan tuah sajo.” (Sudah merata kondisi ninik mamak di ranah Minang, krisis kepemimpinan yang luar biasa. Diangkat ninik mamak atau pengulu yang tinggal di rantau, hanya menambah masalah baru. Sekadar meminta tuah saja). 

Pengamatan Edy Utama di atas ditanggapi oleh pengusaha muda  Muhammadiyah di Yogyakarta asal Bukittinggi: “Terima kasih atas  beberapa testimoni dan dialog Buya, sangat bisa kami pahami Buya.

Kalau melihat kondisi Minang hari ini, ibarat ‘rami kadai urang, langang kadai awak, nan dibaka kadai urang’. Bukannya memperbaiki ‘kadai awak’. Agar bisa berkompetisi, bersaing, dan maju.” (‘…ramai warung orang, sepi warung kita, yang dibakar warung orang’. Bukannya memperbaiki ‘warung kita’, dan seterusnya). 


×