Abu Dzar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Rasulullah SAW yang memilih jalan hidup zuhud. | DOK PIXABAY
11 Apr 2021, 04:39 WIB

Petuah Penuh Hikmah Abu Dzar

Kepada mereka, Abu Dzar mengingatkan akan pentingnya mengutamakan urusan akhirat.

OLEH HASANUL RIZQA

Sahabat Nabi Muhammad SAW ini bernama asli Jundub bin Junadah al-Ghifari. Abu Dzar, demikian dirinya akrab disapa, pertama kali mengucapkan dua kalimat syahadat saat syiar Islam masih berlangsung sembunyi-sembunyi. Ketika Rasulullah SAW berhijrah, dia bertolak ke Madinah dari kampung halamannya.

Sudah menjadi karakteristik Abu Dzar al-Ghifari untuk berprinsip membela kebenaran dan keadilan. Pada masa-masa sesudah Rasulullah SAW wafat, ia termasuk yang gemar mengingatkan kaum pemimpin. Beberapa pejabat yang larut dalam kekuasaan dan kekayaan kadang merasa terganggu.

Di antara petuah-petuah Abu Dzar ialah sebagaimana dikisahkan Shadqah bin Abi Imran bin Hatthan. Katanya, “Aku menemui Abu Dzar. Kulihat ia berada di dalam masjid, menyendiri dengan kain hitamnya. ‘Abu Dzar, mengapa menyendiri seperti ini?’

Terkait

Ia menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sendirian lebih baik daripada teman yang buruk. Teman yang saleh lebih baik daripada sendirian. Ucapan yang baik lebih utama daripada diam. Dan diam lebih baik daripada berbicara yang buruk'.”

Pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, wilayah kedaulatan Islam membentang kian luas. Banyak orang Arab yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan kini menerima harta berlimpah. Di negeri-negeri luar Jazirah, semisal Persia, Suriah, atau Mesir, mereka mendirikan rumah-rumah megah.

Kepada mereka, Abu Dzar mengingatkan akan pentingnya mengutamakan urusan akhirat. Dibacakannya firman Allah SWT, yakni surah at-Taubah ayat 34-35. Artinya, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu'.”

Abu Dzar sempat menetap di Suriah. Gubernur wilayah tersebut kala itu adalah Muawiyah bin Abi Sufyan—kelak mendirikan Dinasti Umayyah. Di sana, banyak orang Arab yang hidup dalam kemewahan. Sosok dari Bani Ghifar itu terus mendakwahi mereka. Muawiyah pun merasa khawatir akan kedudukan Abu Dzar sebagai seorang sahabat senior.

Bagaimanapun, gubernur Suriah itu merasa segan. Alhasil, dipilihnya cara yang berbeda, yakni menulis surat kepada amirul mukminin di Madinah. Selang beberapa waktu kemudian, Khalifah Utsman mengundang Abu Dzar datang ke Kota Nabi. Terjadilah diskusi panjang antara dua sahabat utama ini.

Pada akhirnya, sang tamu mengambil kesimpulan. Ia berkata, “Aku tak butuh dengan dunia kalian ini.” Abu Dzar lantas meminta dengan hormat kepada Utsman untuk mengasingkan diri ke Rabadzah. Sang khalifah pun mengizinkannya.

 
Abu Dzar lantas meminta dengan hormat kepada Utsman untuk mengasingkan diri ke Rabadzah. Sang khalifah pun mengizinkannya.
 
 

Menyingkir tidak berarti membawa bara dalam sekam. Di Rabadzah, Abu Dzar mendengar kabar tentang ketidakpuasan segelintir kalangan terhadap kepemimpinan Utsman.

Bahkan, pernah seseorang datang dari Kufah khusus untuk menemuinya. Orang ini membujuknya agar mau ikut memberontak kepada pemimpin berjulukan Dzun Nurain itu.

“Demi Allah,” kata Abu Dzar, “seandainya Utsman menyalibku di batang kayu atau mengasingkanku di gunung, pasti aku akan menaatinya. Seandainya dia mengungsikanku dari ufuk ke ufuk, pasti aku tetap menaatinya. Kalau dia mengembalikanku ke rumahku, pasti aku akan menaatinya. Aku akan bersabar dan berharap pahala dari sisi Allah Ta’ala. Itulah yang terbaik untukku.”

 
Kehidupannya melambangkan kegigihan seorang Muslim yang konsisten zuhud. Hatinya tetap teguh meskipun kesendirian menjadi kawan setianya.
 
 

Abu Dzar al-Ghifari meninggal dunia di Rabadzah pada 32 H atau 652 M. Kehidupannya melambangkan kegigihan seorang Muslim yang konsisten zuhud. Hatinya tetap teguh meskipun kesendirian menjadi kawan setianya.

Kondisi wafatnya sekaligus membuktikan kebenaran nubuat Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda mengenai sahabatnya ini, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Dia berjalan sendirian. Wafat dalam kondisi sendirian. Dan dibangkitkan sendirian.”


×