Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio. | Antara/Jafkhairi
08 Apr 2021, 03:30 WIB

Virus ‘Eek’ Menurunkan Efikasi Vaksin Covid-19

Mutasi virus selalu terjadi setiap kali virus melakukan replikasi atau memperbanyak diri.

Mutasi virus korona E484K ditemukan di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman berhasil mendeteksinya pada Februari 2021 dan diumumkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Senin (5/4) lalu.

Kini, pasien yang terpapar sudah dinyatakan sembuh. Namun, mutasi E484K atau biasa disebut ‘Eek’ ini lebih cepat menular, bahkan mempengaruhi efikasi vaksin Covid-19. Berikut wawancara wartawati Republika Rr Laeny Sulistyawati, dengan Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio.

Bisa Anda jelaskan apa itu mutasi virus korona E484K?

Ada beberapa hal yang dikhawatirkan saat terjadi mutasi. Pertama, dia bisa menempel di reseptor ACE2 yang ada di permukaan sel manusia dan lebih kuat. Karena saat terjadi mutasi, ada perubahan pada receptor-binding domain (RBD), yaitu bagian dari virus yang menempel pada reseptor ACE2 di permukaan sel manusia. Baik mutasi virus B117 maupun E484K ini memiliki kekuatan menempel yang lebih kuat dan dikhawatirkan bisa menularkan lebih cepat.

Terkait

Artinya, varian baru ini membuat virusnya lebih cepat masuk dalam sel manusia sehingga dikhawatirkan akan menular lebih cepat atau menularkan ke lebih banyak orang.

Kedua, vaksinasi Covid-19 ditujukan untuk memblokir RBD, padahal mutasi membuat terjadi perubahan pada RBD. Kalau RBD-nya berubah, maka dikhawatirkan antibodi yang dibentuk setelah vaksinasi itu tidak terlalu baik. Ketika ada bagian RBD virus yang berubah, maka antibodinya tidak terikat dengan baik.

 
Mutasi virus selalu terjadi setiap kali virus melakukan replikasi atau memperbanyak diri. 
 
 

Ini analoginya sama seperti ketika membuka anak kunci pintu dan lubang kunci yang seharusnya klop. Sedangkan, kalau ada perubahan di lubang kuncinya maka si anak kunci jadi tidak pas atau jadi seret, sehingga mutasi virus ini bisa menurunkan efikasi vaksin.

Ada penelitian di Amerika Selatan bahwa varian baru B1351 yang terjadi di sana membuat penurunan efikasi vaksin sekitar 10 persen, tetapi karena di bawah 50 persen maka vaksin dinilai masih bisa digunakan.

Apakah mutasi virus akan selalu terjadi?

Mutasi virus selalu terjadi setiap kali virus melakukan replikasi atau memperbanyak diri. Virus hanya bisa melakukan replikasi kalau masuk dalam sel yang hidup. Ini berbeda dengan bakteri yang masih bisa tumbuh di medium seperti air.

Kemudian, semakin banyak orang yang terinfeksi, semakin besar kemungkinan virus untuk bereplikasi. Artinya, mutasi E484K bisa jadi bukan yang terakhir, masih bisa bermutasi lagi ketika menularkan ke yang lain.

Kalau mutasi virus terjadi, apakah long Covid-19 pada penyintas bisa bertahan lebih lama?

Tidak selalu, jadi kalau daya tahan tubuh penyintas bagus mungkin bisa berimplikasi tetapi tidak lama karena tidak memungkinkan si virus untuk hidup. Karena mutasi virus terjadi ketika hanya sebagian kecil yang lolos atau hanya 4 persen.

Kemudian mutasi virus ini yang paling kuat inilah yang ada di tubuh manusia. Oleh karena itu, virus di lingkungan manusia jangan sampai pindah menginfeksi ke sel orang lain.

Apakah ini artinya upaya memutus mata rantai penularan virus ini semakin sulit?

Mutasi terjadi kalau penularan virus masih berlangsung. Jadi, kalau kita bisa menghentikan penularan maka kita berarti menurunkan mutasi. Mutasi adalah konsekuensi dari penularan virus yang masih terjadi. Mutasi merupakan akibat penularan belum terkendali.

 
Yang harus dilakukan adalah mencegah jangan sampai virus itu menularkan ke lebih banyak orang lagi. 
 
 

Apa yang harus dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk memutus mata rantai penularan?

Yang harus dilakukan adalah mencegah jangan sampai virus itu menularkan ke lebih banyak orang lagi. Jadi, semakin sedikit orang yang terinfeksi maka akan semakin kecil kemungkinan virus itu bermutasi. Yang harus masyarakat lakukan adalah melakukan pencegahan yaitu melakukan protokol kesehatan 5M. 

Sementara yang bagi yang sudah divaksinasi artinya telah mempersempit ruang gerak si virus dalam tubuh manusia karena lingkungannya tidak terlalu nyaman buat si virus. Memang setelah vaksinasi diharapkan terbentuk antibodi yang bisa mencegah virusnya masuk ke dalam sel karena sudah diblok karena antibodinya telah mengenali RBD.

Jadi, si virus tidak bisa menempel karena sudah ada antibodi. Tetapi kalau merasa sudah punya antibodi kemudian tidak memakai masker atau protokol kesehatan kendor maka kalau ia ternyata kurang beruntung maka bisa terpapar virus. Ketika virus masuk sekalipun ada antibodi tetapi kalau jumlah virusnya lebih besar maka mungkin bisa sakit atau terinfeksi juga.

Sedangkan pemerintah tetap harus melakukan testing, tracing, dan treatment (3T) sebagai upaya untuk membatasi ruang gerak si virus. Ketika upaya tes, lacak, dan tindak lanjut isolasi ini dilakukan membuat semakin sedikit kemungkinan virus untuk melakukan replikasi dan mutasi.


×