Warga saat mengunjungi Masjid Asmaul Husna, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (15/3). Masjid seluas 2.500 meter persegi yang memiliki pola kaligrafi Asmaul Husna di sepanjang dinding bagian luar bangunannya itu menjadi salah satu destinasi wi | Republika/Putra M. Akbar
28 Mar 2021, 20:47 WIB

Masjid Asmaul Husna, Desain Unik Berbalut Kaligrafi Kufi

Kaligrafi mempesona yang membalut bagian luar Masjid Asmaul Husna memiliki kesan tersendiri di mata arsiteknya.

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

“Sesungguhnya, Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” Begitu sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis sahih. Bagi kaum Muslimin, pesan Rasulullah SAW itu dapat diamalkan dengan berbagai cara. Misalnya, seni arsitektur yang dipakai dalam merancang sebuah bangunan tempat ibadah.

Terkait

Masjid Besar Asmaul Husna merupakan salah satu rumah ibadah yang memiliki keunikan seni rancang bangun. Masjid yang berlokasi di Jalan Raya Kelapa Dua Nomor 31, Gading Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, itu tidak tampak seperti masjid-masjid pada umumnya.

Tidak ada kubah besar yang berbentuk cembung atau setengah bola. Wujud menaranya pun tidak seperti biasanya.

Penampilan Masjid Asmaul Husna memang terbilang unik. Yang paling mencolok, dinding bagian luarnya dipenuhi ornamen kaligrafi 99 nama Allah. Kaligrafi tersebut bercorak kufi yang tegak lurus. Itu terlihat selaras dengan bentuk bangunan utamanya yang seperti kubus besar.

photo
Lantaran bentuknya yang unik, Masjid Asmaul Husna di Gading Serpong menarik pengunjung yang ingin berwisata religi - (DOK REP Putra M Akbar)

Mengutip laman resminya, masjidasmaulhusna.com, kompleks rumah Allah ini menempati area seluas kira-kira 5.780 meter persegi. Bangunannya meliputi luas sekitar 2.500 meter persegi.

Lokasinya sangat strategis karena bersisian dengan jalan raya di dalam kawasan Perumahan Gading Serpong. Selain itu, lingkungan perkantoran, perhotelan, dan perbelanjaan pun cukup dekat dari sana. Kapasitasnya cukup besar, yakni dapat menampung hingga 3.000 jamaah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Masjid_Raya_AsmaulHusna (masjidrayaasmaulhusna)

Masjid ini terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama berfungsi seperti aula. Masyarakat dapat memanfaatkannya dengan izin untuk penyelenggaraan berbagai acara, semisal seminar, kajian keagamaan, manasik haji, atau resepsi pernikahan.

Lantai kedua merupakan tempat orang-orang melaksanakan shalat lima waktu. Adapun lantai ketiga merupakan ruang tambahan untuk menampung jamaah, khususnya saat pelaksanaan shalat Jumat atau dua hari raya.

Kaligrafi mempesona yang membalut bagian luar Masjid Asmaul Husna memiliki kesan tersendiri di mata arsiteknya, Ridwan Kamil. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga mantan wali kota Bandung itu mengatakan, kaligrafi khas kufi menginspirasinya dalam membuat rancang bangun tempat ibadah tersebut.

“Masjid Asmaul Husna ini ada di Gading Serpong. Saya desain sebelum jadi wali kota. Temanya asmaul husna dengan tipe kaligrafi kufi yang tegak lurus, favorit saya,” tulis Gubernur Jawa Barat itu dalam akun Instagram resminya yang menanggapi video unggahan akun @Amritsaraje, seperti dilihat Republika beberapa waktu lalu.

photo
Masjid Raya Asmaul Husna beralamat di Jalan Raya Kelapa Dua Nomor 31, Gading Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten. - (DOK REP Putra M Akbar)

Sejauh ini, suami Atalia Praratya Kamil itu telah merancang banyak masjid. Sebut saja, Masjid al-Irsyad Padalarang (Kabupaten Bandung Barat), Masjid Jami Darussalam Tanah Abang (Jakarta Pusat), dan Masjid 99 Kubah (Kota Makassar). Seluruhnya menampilkan kesan arsitektur yang modern dan filosofis. Itu pun tampak dari masjid yang dibangun pada tahun 2010 tersebut.

“Semoga makin banyak orang yang lewat bisa rehat dulu untuk shalat di sana (Masjid Asmaul Husna). Dan semoga selalu makmur,” ujar pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Arsitek kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu juga menjadikan Masjid Asmaul Husna sebagai bangunan yang hemat energi. Masjid ini berukuran besar, tetapi pencahayaan di dalamnya tidak selalu mengandalkan lampu listrik. Terutama pada siang hari, bagian interiornya dapat menerima pancaran sinar matahari. Sebab, pada atapnya terdapat plafon yang didesain sedemikian rupa sehingga cahaya alami dapat menembus ke dalam ruangan.

photo
Warga berjalan di depan tembok dengan pola kaligrafi Asmaul Husna di Masjid Asmaul Husna, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (15/3). Masjid seluas 2.500 meter persegi yang memiliki pola kaligrafi Asmaul Husna di sepanjang dinding bagian luar bangunannya itu menjadi salah satu destinasi wisata religi. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Masih terkait atap, bentuk kubahnya pun berbeda dari umumnya masjid-masjid. Alih-alih setengah bola, kubah ini berupa lengkungan. Tampak dari depan, permukaannya semakin menjorok turun ke arah belakang. Bila dilihat dari ketinggian, atap tersebut membentuk pola bulan sabit dan bintang, lambang agama Islam.

Dengan berbagai kekhasannya itu, Masjid Asmaul Husna tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah harian bagi kaum Muslimin. Fungsinya pun mencakup destinasi wisata religi kebanggaan masyarakat Banten, khususnya Tangerang.

photo
Masjid Raya Asmaul Husna, Gading Serpong, Tangerang, berbalut kaligrafi 99 nama Allah. - (DOK REP Putra M Akbar)

Untuk itu, berbagai fasilitas penunjang sudah tersedia di sana. Misalnya, taman, area parkir kendaraan bermotor, aula serba guna, perpustakaan, serta ruang belajar untuk murid madrasah dan taman pendidikan Alquran (TPA).

Jamaah yang hendak melaksanakan shalat di sana pun akan merasa semakin nyaman. Sebab, sistem pendingin ruangan (air conditioner) dan suara (sound system) sangat mendukung. Pada masa pandemi seperti saat ini, pihak takmir masjid setempat menyediakan rupa-rupa sarana untuk menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Untuk sementara waktu, karpet masjid ini digulung dan tanda jaga jarak dipasang pada lantainya.

Masjid Besar Asmaul Husna ini dikelola oleh organ yang terdiri atas banyak pihak. Di antaranya adalah Dewan Pembina dan Dewan Syura. Yang pertama terdiri atas unsur-unsur dari Muspika Kecamatan Kelapa Dua dan Kabupaten Tangerang. Adapun yang terakhir terdiri atas para ulama maupun tokoh masyarakat lokal.

a

photo
Bagian interior Masjid Raya Asmaul Husna cukup lapang. Daya tampungnya mencapai tiga ribu orang jamaah - (DOK REP Putra M Akbar)

Terwujudnya pembangunan masjid ini adalah atas kerja sama yang baik dari pelbagai unsur. Di antaranya adalah Pemerintah Kabupaten Tangerang, Summarecon Serpong selaku pengembang, Paramount Land, dan warga Muslimin di Gading Serpong. Masjid ini dibangun pada 2010 dan diresmikan oleh Bupati Tangerang Zaki Iskandar pada Jumat, 06 Desember 2013.

Pada prasasti peresmiannya, terdapat tanda tangan bupati Tangerang Zaki Iskandar, mantan bupati Tangerang Ismet Iskandar selaku penggagas, manajemen Summarecon Serpong Johanes Mardjuki, serta Ervan Adi Nugroho dari Manajemen Paramount Land.


×