Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
15 Feb 2021, 02:00 WIB

Ekonomi Rajab

Inilah ekonomi Rajab. Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan ijinkan kami bertemu bulan Ramadhan.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Ada tiga peristiwa penting di bulan Rajab. Bila kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa bulan Rajab itu, ekonomi Indonesia diperkirakan akan segera membaik dengan ekonomi syariah sebagai pemicu momentum perbaikannya.

Pertama, peristiwa Isra Mi’raj satu tahun sebelum hijrah mengirim pesan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perjalanan horizontal memperbaiki hubungan sesama manusia, dan perjalanan vertikal menerima penuh ridha ketentuan Allah.

Kedua, peristiwa perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram tahun kedua Hijriyah mengajarkan bahwa kebaikan sesungguhnya bukanlah berkiblat pada kekuasaan Barat atau Timur. Kebaikan yang hakiki adalah beriman, beramal saleh, menolong yang lemah, memenuhi janji, dan bersabar.

Terkait

Ketiga, peristiwa hijrah pertama ke Ethiopia tahun ketujuh sebelum hijrah memberikan teladan sikap siap berkorban meninggalkan yang dicintai, mundur selangkah untuk lompat maju tiga langkah. Strategi mengalah untuk menang. Strategi mendapatkan dukungan politis Kerajaan Nasrani untuk mengalahkan penindasan HAM penguasa lokal.

Perjuangan panjang itu akhirnya mengantarkan umat Islam pada kemenangan atas Romawi, negara terkuat dunia saat itu, dalam perang Tabuk pada tahun 9 Hijriyah, hanya dua tahun sebelum wafatnya Rasulullah SAW.

 
Perjuangan panjang itu akhirnya mengantarkan umat Islam pada kemenangan atas Romawi, negara terkuat dunia saat itu, dalam perang Tabuk.
 
 

Pelajaran pertama, kebiasaan buruk saling lapor dengan sentimen politik harus segera diakhiri dalam bulan haram ini untuk menghentikan kegaduhan yang hanya akan menghambat ekonomi. Kekecewaan dan kepedihan atas apa yang telah terjadi hanya patut dikembalikan dengan ridha kepada takdir Allah yang Maha Pengatur.

Ramadhan tinggal dua bulan lagi. Ramadhan dan Idul Fitri adalah momentum kebangkitan ekonomi yang sangat signifikan. Perputaran uang tunai selama Ramadhan 2019 mencapai Rp 160 triliun, separuhnya di Pulau Jawa senilai Rp 84 triliun, dan separuh dari Pulau Jawa di Jabodetabek senilai Rp 41 triliun. Sebagai gambaran, perputaran uang tunai Ramadhan 2019 di Sultra, misalnya, setara dengan separuh APBD Sultra selama satu tahun.

Kita semua berharap, dengan disiplin prokes, Ramadhan dengan semua kegiatan ekonomi yang mengikutinya dapat berjalan. Mudik dan pulang kampung Lebaran dengan THR-nya juga mendorong ekonomi secara signifikan. Pemudik Lebaran 2019 yang menggunakan alat transportasi umum mencapai 22,83 juta penumpang.

Pemudik bus paling besar, yaitu 4,68 juta orang, kereta api sebanyak 6,45 juta orang, kapal laut sebanyak 1,08 juta orang, dan pesawat 5,78 juta orang. Belum terhitung yang menggunakan kendaraan pribadi. Pergerakan orang dan uang serta bisnis yang melayani menjadi momen bangkitnya ekonomi Indonesia.

Pelajaran kedua, Cina dan AS serta sekutunya tidak akan pernah menjadi pendorong hakiki pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pendorong hakiki pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat. Tanpa mengecilkan peran penting ekspor, impor, dan investasi asing, langkah prioritas utama adalah memulihkan konsumsi masyarakat.

 
Tanpa mengecilkan peran penting ekspor, impor, dan investasi asing, langkah prioritas utama adalah memulihkan konsumsi masyarakat.
 
 

Merebut kembali kepercayaan konsumsi masyarakat dengan memenuhi janji akan menaikkan permintaan masyarakat bawah, menggerakkan produksi, dan akhirnya memberikan kenyamanan masyarakat menengah atas mengembalikan tingkat konsumsi mereka pada level sebelum Covid-19.

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2019 ditopang komponen konsumsi rumah tangga dengan porsi terbesar terhadap struktur PDB yaitu mencapai 56,62 persen dengan tingkat pertumbuhan 5,04 persen. Porsi pengeluaran konsumsi pemerintah dalam struktur PDB hanya 8,75 persen dengan pertumbuhan 3,25 persen.

Adapun, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi memegang porsi terbesar kedua terhadap PDB yaitu sebesar 32,33 persen, dengan pertumbuhan 4,45 persen. Terakhir, porsi komponen ekspor terhadap PDB sebesar 18,41 persen, sedangkan porsi impor -18,4 persen terhadap PDB. Pertumbuhan masing-masing -0,87 persen dan -7,69 persen.

Pelajaran ketiga, HAM harus ditegakkan dengan adil dan transparan bila kita tidak ingin dikucilkan dalam pergaulan dunia internasional. Sulit dipungkiri kenyataan bahwa setiap negara kadang memiliki double standard dalam penegakan HAM. Namun negara adikuasa memiliki posisi tawar yang kuat dalam menghadapi pengucilan pergaulan internasional dibandingkan dengan negara kecil atau negara tanggung.

 
HAM harus ditegakkan dengan adil dan transparan bila kita tidak ingin dikucilkan dalam pergaulan dunia internasional.
 
 

Pengucilan itu lazimnya juga mencakup pengucilan ekonomi. Tahun 2020, misalnya, AS menjatuhkan sanksi kepada lembaga pemerintahan Cina dan sebelas perusahaan yang dinilai melanggar HAM terhadap warga suku Uighur dan beberapa suku minoritas lainnya.

Dampaknya sangat berbeda ketika sanksi itu dijatuhkan kepada negara yang bukan adikuasa. Misalnya, AS pernah menerapkan embargo pengadaan peralatan militer terhadap Indonesia dari tahun 1999 hingga 2005. Sanksi AS kepada Iran dan Korut adalah contoh lainnya.

Bagi Indonesia, Cina dan AS adalah dua negara tujuan ekspor terbesar. Sanksi ekonomi dari salah satu negara saja akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Di awal tahun 2020, misalnya, AS mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang dampaknya akan mempengaruhi eligibilitas Indonesia sebagai penerima Generalized System of Preferences yaitu fasilitas kemudahan eksportir.

 
Bagi Indonesia, Cina dan AS adalah dua negara tujuan ekspor terbesar. Sanksi ekonomi dari salah satu negara saja akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.
 
 

Kaisar Romawi, Heraklius, ragu kekuatan Islam dapat menghadapi pasukan Romawi yang telah menaklukkan Persia. "Dalam cuaca yang sangat panas seperti ini, unta pun tidak mampu melewati padang pasir, apalagi manusia. Orang-orang Arab itu akan mati kekeringan di padang pasir."

Hanya dengan keyakinan kuat umat Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW dapat menjalani perang Tabuk. Inilah perang yang sangat kental intrik politik kaum munafik mengadu domba kaum Muslimin, bahkan sampai mendirikan Masjid Dhirar untuk memecah belah umat Islam. Inilah perang yang panjang lebar dijelaskan dalam surat at-Taubah.

 
Inilah bulan kita bersiap melakukan kebangkitan ekonomi rakyat semesta menyambut momentum ekonomi Ramadhan, Lebaran, dan Haji.
 
 

Perang dalam keadaan ekonomi sedang sulit dan musim panas yang menyengat. Tak heran Rasulullah SAW menamakan pasukannya Jaisul Usrah, pasukan dalam situasi sulit. Selama 30 hari perjalanan pulang pergi dan 20 hari menetap di Tabuk. Perang yang diawali di bulan Rajab dan berakhir di bulan Ramadhan.

Inilah bulan kita bersiap melakukan kebangkitan ekonomi rakyat semesta menyambut momentum ekonomi Ramadhan, Lebaran, dan Haji. Inilah ekonomi Rajab. Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan ijinkan kami bertemu bulan Ramadhan.


×