Ilustrasi Wakaf Uang | Republika/Thoudy Badai

Laporan Utama

07 Feb 2021, 11:34 WIB

Wakaf Uang demi Kesejahteraan Umat

Wakaf uang masih terdengar asing bagi masyarakat Muslim.

Gerakan nasional wakaf uang telah diresmikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin belum lama ini. Wakaf yang lebih dikenal sebagai ibadah lewat “menahan” aset tidak bergerak belum familiar ketika bertransformasi dalam bentuk lain seperti wakaf uang.

Dalam peluncuran gerakan nasional wakaf uang, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya potensi wakaf di Tanah Air. Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia dinilai harus mampu memberikan praktik pengelolaan wakaf yang kompeten, profesional, akuntabel, dan terpercaya. “Keberadaan wakaf dan wakaf uang bisa menjadi dampak produktif bagi kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat,” kata dia.

Ketua Divisi Pengelolaan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Nurul Huda mengakui, wakaf uang memang masih asing terdengar di kalangan masyarakat Muslim. Untuk itu, gerakan nasional wakaf uang tidak sepenuhnya menjadi andil kendali BWI. Diperlukan peran semua pihak untuk menjadikan gerakan itu semakin populer di tengah masyarakat.

“Kita memang harus ubah mindset masyarakat tentang wakaf. Bahwa tidak selalu wakaf itu adalah yang sifatnya aset tidak bergerak, contohnya ada wakaf uang. Pemahamannya harus kuat di sana,” kata Huda saat dihubungi Republika, Rabu (27/1).

Selanjutnya, dia menjelaskan, literasi dan sosialisasi mengenai wakaf uang pun terus dilakukan. Salah satunya lewat pelibatan kalangan milenial dan lingkungannya. BWI, kata dia, memiliki program Wakaf Goes to Campus yang menyasar para milenial.

Tujuan dari program tersebut, dinilai untuk menciptakan duta-duta wakaf dari kalangan kampus agar literasi mengenai wakaf semakin menguat. Kalangan muda, kata dia, merupakan segmen yang perlu dibidik karena cukup prospektif untuk pengembangan wakaf uang. Oleh karena itu, digitalisasi wakaf pun dinilai menjadi hal krusial dalam mewadahi kalangan milenial.

“Dari mulai nominalnya, wakaf itu ternyata terjangkau. Maka kita sadari bahwa milenial memang dekat dengan ini, dan ini bagus dan sangat prospektif bagi dunia perwakafan Indonesia ke depannya,” kata dia.

Namun demikian, dia menjelaskan, literasi dan sosialisasi mengenai wakaf tak hanya menyasar pada segmen digital dan kaum muda. Menurut dia, segmen konvensional berbasis masjid, lembaga, dan segmen lainnya masih diupayakan menyusul peluang dalam bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia.

Saat ini, dia menambahkan, aspek wakaf mulai meraih segmen negara dengan melibatkan aparatur sipil negara (ASN) untuk berwakaf, serta produk-produk wakaf. Hal itu sebagaimana produk yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan, seperti cash waqf linked sukuk (CWLS).

“Mengapa kita juga lari ke negara? Karena gerakan ini dapat serentak, berkelanjutan, dan tidak berhenti. Maka, jika ada suara-suara negatif tentang gerakan ini, kami berupaya untuk menjelaskannya dengan baik,” ungkapnya.

Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh menjelaskan, BWI sebagai inisiator gerakan nasional wakaf uang memang menjadi penggerak wakaf. Namun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan peran dari berbagai sektor lainnya yang memiliki kompetensi secara profesional dalam wakaf.

“Kita tidak boleh menggunakan konsep musabaqah (berlomba), tapi kita bersinergi. Kita tunjukkan the power of we. Dengan itulah BWI mencoba merangkul semua pihak,” ujar dia.

photo
Model bisnis canvas Wakaf Uang - (Dok Iqtishodia)

Kepercayaan masih rendah

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan tidak mudah bagi gerakan nasional wakaf uang. Pengamat ekonomi syariah dari Universitas Indonesia (UI), Yusuf Wibisono, menilai tujuan dihadirkannya gerakan wakaf uang memang sudah cukup baik secara prinsip. Namun, ia menggarisbawahi kondisi yang terjadi pada era pandemi seperti sekarang bisa menjadi penghambat. 

Menurut dia, saat ekonomi umat belum pulih benar, kepercayaan terhadap pemerintah pun terus merosot. Hal itu dibuktikan dengan adanya kasus-kasus korupsi yang masih terjadi, terlebih kasus korupsi bansos yang menyesakkan sanubari.

Dia pun melihat, dengan adanya target, gerakan wakaf uang yang lebih menyasar ke sektor ritel diproyeksi akan sulit bergerak. “Bagi saya, sasaran ritel ini kurang pas, ya. Kalau memang mau begitu, harus ada trust yang terbangun dari umat kepada pemerintah,” ujar dia.

Yusuf menyarankan, akan lebih baik jika gerakan wakaf uang dimulai dari segmen-segmen besar, seperti korporasi, pengusaha, hingga ke yayasan-yayasan. Sebab, jika hal itu sudah disemarakkan dan dimulai, segmen ritel akan memiliki panutan atau role model yang dapat diikuti.


×