Pasukan Pengawal Nasional berbaris melewati gedung Capitol AS saat istirahat siang hari di Washington, DC, AS, Kamis (14/1). Setidaknya 20.000 pasukan Garda Nasional akan dikerahkan di Washington untuk mengamankan upacara pelantikan Presiden Amerika Serik | EPA
21 Jan 2021, 08:05 WIB

Eksepsionalisme Amerika Setelah Donald Trump

Eksepsionalisme menjadi pedang bermata dua yang mengunggulkan, tapi juga menjatuhkan Amerika.

ZULKIFLI MUHADLI ; Alumnus Ex .Ed. Harvard Kennedy School Of Government AS

Setelah perang dunia berakhir pada 1945, Amerika Serikat dan sekutunya tampil sebagai ‘pemenang’. Kekuatan militernya terkuat di dunia. 10 kapal induknya tersebar di berbagai benua, menjadi kekuatan diplomasi yang disegani dalam setiap lobi. Ekonominya menjadi acuan dunia dengan pertumbuhan GDP 21.433 triliun Dolar. Budayanya ditiru jutaan orang di berbagai Negara. 

Dunia menyebutnya adidaya dan disegani. Amerika menjadi eksepsional (menganggap dirinya luar biasa). Profesor komunikasi dari Bridgewater State University Jason A Edward dan asisten professor bidang media dan komunikasi politik Montana State University David Weiss menjelaskan istilah eksepsionalisme Amerika. Menurut mereka, terma tersebut adalah keyakinan bahwa Negeri Paman Sam adalah Negara yang berbeda dari negara lain (distinct belief). Amerika adalah unik, jika tidak dikatakan lebih unggul.

Dalam The Rhetoric of American Exceptionalism: Critical Essays, mereka menjelaskan, keunggulan eksepsionalisme Amerika disebabkan kredo mereka, evolusi sejarah, dan asal yang unik. Keyakinan ini menjadi aspek mendasar dalam perkembangan Negara dan identitasnya, menjadi esensial dalam perpolitikan, budaya, dan sosialnya.

Terkait

Sosiolog politik Amerika Seymor Martin Lipset dalam bukunya American Exceptionalism: A Double Edged Sword (1996), menyatakan bahwa akar eksepsionalisme adalah mitos, simbol, dan Revolusi Amerika 1765-1783 yang disebut telah melahirkan anggapan sebagai the new first nation. Imigran kulit putih protestan dari Britania Raya yang disebut White Anglo Saxon Protestan (WASP) mendominasi dan menjadi unggul dari suku Indian yang sudah lebih awal berada di sana. 

Arus utama budaya Amerika:  yang disebut dengan WASP memiliki pengaruh lintas etnik dan agama. Ini  menjadi identitas nasional dan kultural. “WASP adalah karakter Amerika,” ditulis Richard Brookhiser dalam bukunya The Way Of The WASP (2004). 

Sosiolog Huntington menyatakan dengan tegas bahwa Amerika menjadi seperti sekarang ini adalah karena kedatangan pemukim protestan dari Britania Raya pada tahun tahun 1600an dan 1700an. Amerika akan seperti Meksiko atau Queebek bila yang datang itu imigran dari Prancis atau Spanyol yang beragama Katolik. Selama kurang lebih empat abad sejak pemukim pertama datang dari Eropa ke dunia baru yang disebut Amerika, para pendiri Amerika berikut budayanya sangat mempengaruhi dan menjadi komponen utama pembentuk identitas nasional. 

Sejarah Amerika mencatat bahwa dari 46 Presiden Amerika Serikat hanya Presiden John F Kennedy (1916-1963)  dan Presiden terpilih Joseph Robinette Biden Jr (Joe Biden) yang beragama Katolik, dan Barrack Husein Obama yang orang tuanya Muslim. Dominasi dan supremasi WASP menjadi warna kuat pada exceptionalisme Amerika. 

Profesor Jeffrey A Winters dalam suatu Webinar internasional bersama Civitas Academica Universitas Gajah Mada beberapa hari sebelum Pemilihan Presiden Amerika mengatakan bahwa banyak orang Amerika yang memplesetkan tagline kampanye Trump “Make America great again” menjadi “Make white great again”.

Tagline yang digunakan Trump dalam kampanye tahun 2016 itu berhasil membangkitkan sentimen kulit putih memenangkan Trump mengalahkan Hillary Clinton, bahwa Amerika sedang dipimpin Barrack Obama yang berkulit Hitam, bahwa ada kehawatiran dominasi kulit Putih Anglo Saxon akan berakhir bila Trump tidak terpilih. 

Beberapa kebijakan Donal J Trump sangat kental Ide eksepsionalisme Amerika seperti : Pelarangan warga dari tujuh negara muslim untuk masuk ke Amerika Serikat sejak tanggal 27 Januari 2017, hanya 9 hari setelah pelantikannya, motto America first seraya menolak para imigran dan pengungsi; Pembangunan tembok pembatas dengan Meksiko di saat Perdana Mentri Canada Justin Treudeu justru mendeklarasikan Kanada sebagai negara pertama di dunia yang menganut paham posnationalisme dengan membuka pintu lebar lebar bagi para imigran dan pengungsi. 

Kebijakan kontroversial Presiden Trump yang sangat menyakiti Bangsa Palestina dan Kaum Muslimin Dunia ialah memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerussalem adalah contoh eksepsionalisme Amerika. Langkah tersebut sama seperti apa yang dilakukan Presiden Bush ketika membombardir Bagdad dengan dalih melumpuhkan negara yang memiliki senjata kimia,tanpa bukti. 

Pengecualian Amerika dari hukum internasional yang telah disepakati dunia termasuk resolusi Dewan keamanan PBB. Proffesor Jeffrey A.Sachs dari Universitas Colombia yang diwawancarai Rob Jhonson dari Institute for New Economic Thinking 2018 menyebutkan bahwa Amerika sekarang berada di persimpangan jalan. Dia adalah seorang dari sekian banyak ilmuwan Amerika yang melihat ancaman ‘pedang bermata dua’ eksepsionalisme bagi Amerika sendiri. 

 

 

Terpilihnya Wapres Joe Biden yang Katolik bersama Kamala Haris yang keturunan Asia Afrika bahkan mendapatkan dukungan penuh dari Komunitas Muslim Amerika.

 

 
 

Tahun 1941 Henry Luz mendeklarasikan “Abad Amerika” dan tahun 1992 saat Uni Sovyet bubar,Amerika Serikat disebut sebagai The New Rome, adidaya Dunia. Selanjutnya dia katakan sebuah ilusi yang sangat naif dan bahaya bagi Amerika Serikat sendiri, sebuah negara dengan hanya 4,4 persen dari jumlah penduduk dunia, berambisi sebagai polisi dunia dengan menempatkan tentaranya di 700an pangkalan militer. 

The end of American exceptionalism yang diungkapkan Prof Jeffrey A.Sachs tahun 2018 semakin terbukti di akhir masa kepresidenan Trump. Terpilihnya Wapres Joe Biden yang Katholik bersama Kamala Harris yang keturunan Asia Afrika bahkan mendapatkan dukungan penuh dari Komunitas Muslim Amerika; Kekalahan calon petahana Donald Trump yang didukung WASP; Kerusuhan etnik dengan tagar Black lives Matter; Penghianatan Demokrasi oleh pendukung Trump dengan menduduki Capital Hill dan meninggalnya lima orang korban perusuh dan polisi; kegagalan pemerintahan Donald Trump mengatasi covid 19,dan menjadi negara dengan jumlah korban kematian warga tertinggi di dunia, karena menganggap virus ini tidaklah sulit untuk diatasi oleh para ahli dan ilmuan Amerika yang sangat hebat dan luar biasa sehingga tidaklah perlu belajar dari pengalaman negara lain, cukuplah menjadi tanda tanda akan berakhirnya eksepsionalisme Amerika sebagai kampiun demokrasi, pengawal hak asasi manusia,pembawa  kemakmuran dan kesejahteraan warga masyarakat dan keistimewaan lainnya. 

Seperti yang dikatakan Seymor Martin Lipset, eksepsionalisme Amerika adalah ‘pedang bermata dua’. Bisa menghegemoni negara lain,tapi bisa juga sangat merugikan Amerika sendiri.

Walaupun Amerika Serikat dan sekutunya masih menguasai dunia beberapa dekade kedepan, namun “Pengecualian Amerika” mungkin akan berakhir bersamaan lengsernya Presiden Donald J Trump pada 20 Januari 2021.


×