Priyantiningtyas (56 tahun) bersama salah seorang putranya, Peter, saat berkesempatan umrah di Tanah Suci. | DOK IST
27 Dec 2020, 04:00 WIB

Priyantiningtyas Merasakan Manisnya Iman

Sejak di bangku sekolah menengah, Priyatiningtyas terkesan pada ajaran Islam.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Priyantingtyas berasal dari keluarga multiagama. Ibunya mengikuti agama eyangnya dan bahkan terbilang taat karena aktif di gereja. Adapun ayahnya menganut aliran kepercayaan.

Sejak kecil, perempuan yang akrab disapa Yanti itu lebih memilih agama ibunya. Bagaimanapun, ada beberapa kebiasaan ayahnya yang diikutinya juga, seumpama berpuasa.

Terkait

Jadilah Yanti kecil mengakrabi dunia ibadah di gereja. Namun, sehari-hari dirinya banyak berinteraksi dengan tetangga dan kawan yang Muslim. Keluarganya memang terbiasa dengan budaya Islam di Jawa.

Maka dari itu, ada tradisi-tradisi yang sesungguhnya bernapaskan Islam, dijalaninya secara rutin. Sebagai contoh, setelah maghrib anak-anak, terutama para gadis, dilarang untuk keluar rumah. Yanti pun begitu. Dirinya langsung pulang ke rumah ketika petang menjelang.

Selain gereja, rumahnya juga dekat dengan masjid. Alhasil, setiap waktu maghrib tiba ia selalu mendengar kumandang suara azan.

“Awalnya saya biasa saja mendengar suara azan, tetapi lama kelamaan suara azan terdengar syahdu dan mendamaikan,” ujar perempuan yang kini berusia 56 tahun itu kepada Republika baru-baru ini.

Ia menuturkan, hingga dirinya lulus sekolah dasar belum muncul ketertarikan untuk mempelajari Islam. Barulah sejak menjadi murid SMP, Yanti sedikit tertarik untuk mengenal agama ini.

Bermula dari mata pelajaran agama Islam di sekolah. Sebenarnya, pihak sekolah saat itu mengizinkan siswa-siswi yang non-Muslim untuk tidak mengikuti pelajaran agama Islam di kelas. Mereka dipersilakan keluar kelas sejenak atau mengikuti mata pelajaran agama masing-masing.

Namun, Yanti saat itu merasa penasaran akan Islam. Ia pun tetap duduk di kursinya, alih-alih keluar kelas. Gurunya pun tidak mempermasalahkan hal itu karena si murid menunjukkan niatnya untuk belajar. Ibu dua anak itu mengenang, kala itu dirinya merasa senang saat mendengar materi-materi keislaman. Dirasakannya, Islam mengajarkan kedamaian.

 
Kala itu dirinya merasa senang saat mendengar materi-materi keislaman. Dirasakannya, Islam mengajarkan kedamaian.
 
 

Kebiasaannya untuk mengikuti mata pelajaran agama Islam terus berlanjut hingga ke jenjang SMA. Puncaknya terjadi tatkala Yanti duduk di bangku kelas III SMA. Ia membulatkan tekad untuk memeluk Islam.

Keinginan itu disampaikan kepada ibundanya. Sesungguhnya, itu terbilang “nekat”. Sebab, sangat mungkin ibunya akan marah-marah atau kecewa karena buah hatinya ingin memeluk agama yang lain.

Akan tetapi, di luar dugaan, baik ibu maupun ayahnya tidak antipati. Bahkan, keduanya mendukung keputusan Yanti untuk menemukan sendiri tambatan imannya.

Menurut sang ibu, jika memang dirinya yakin untuk memeluk Islam, maka lakukanlah. Yang penting, ia memahami betul agama yang dipilihnya, menjalankan hidup sesuai tuntunan ajaran Ilahi.

Karena merasa telah mendapatkan “lampu hijau” dari keluarga, Yanti pun mulai mengungkapkan keinginannya untuk memeluk Islam kepada guru agama di sekolahnya. Beberapa waktu kemudian, sang guru membimbingnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi itu berlangsung di mushola SMA-nya, dengan disaksikan sejumlah guru dan teman-temannya.

 
Prosesi bersyahadat itu berlangsung di mushola SMA-nya, dengan disaksikan sejumlah guru dan teman-temannya.
 
 

Seperti kalangan mualaf umumnya, langkah pertama Yanti setelah mengikrarkan keislaman ialah belajar amalan-amalan. Ia sudah mengetahui beberapa ibadah wajib dalam Islam.

Namun, baru kali ini dirinya melakukan semua itu. Yang paling pertama dipelajarinya adalah shalat. Pada awal-awal, perempuan kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, ini merasa kesulitan, baik dalam meniru gerakan-gerakan maupun bacaan shalat.

“Tetapi, alhamdulillah, lama-kelamaan bisa lancar. Saya bersyukur, Allah memudahkan proses itu sehingga saya mulai lancar shalatnya,” ujar dia.

Setelah shalat, ibadah berikutnya adalah puasa. Ia sudah mengenal amalan ini terutama dari ayahnya. Karena itu, berpuasa selama satu atau dua hari bukanlah hal yang memberatkan.

Apalagi, puasanya hanya menolak sajian selain nasi dan air putih—puasa mutih. Bagaimanapun, inilah untuk pertama kalinya Yanti berpuasa total 30 hari berturut-turut. Ramadhan pertama menjadi pengalaman tak terlupakan baginya.

photo
Priyantiningtyas bersama anak dan cucunya. Sosok yang akrab disapa Yanti itu memeluk Islam sejak masih usia remaja. - (DOK IST)

Dinamika iman

Yanti mengaku, dalam beberapa tahun sejak menjadi Muslim dirinya belum begitu taat. Dalam arti, ia sekadar menunaikan ibadah-ibadah wajib dan personal. Shalat lima waktu pun hanya sekadar menggugurkan kewajiban saja, bahkan kadang itu pun belum dilaksanakan secara rutin. Hatinya belum tergerak untuk lebih mendalami ajaran Islam.

Saat dewasa, Yanti kemudian menikah. Anak pertama lahir dengan baik dan sehat. Sekira 21 tahun lalu, ia dan suaminya dikaruniai anak kedua. Namun, buah hatinya itu istimewa karena menyandang disabilitas netra.

Saat itu, tutur Yanti, dirinya merasa sedih dan gundah gulana. Malahan, tak jarang ia merasa Allah sedang mengujinya. Ia pun menyalahkan dirinya sendiri. “Saya merasa banyak melakukan kesalahan sehingga Allah memberikan ujian besar kepada saya. Apalagi, beberapa (anggota) keluarga besar menyalahkan saya. Mereka bilang, saya menjadi Muslim dan itu adalah hukuman,” kenangnya.

Sebagai seorang ibu, wajar bila menginginkan anaknya kembali sehat wal afiat. Karena itu, Yanti pontang-panting mengupayakan agar anak keduanya itu dapat melihat seperti orang-orang normal.

Dalam upaya mencari kesembuhan bagi anaknya, imannya sempat goyah. Sekali waktu, dirinya mendatangi dukun atau paranormal. Bahkan, Yanti pernah pula datang ke gereja untuk mengharapkan kesembuhan bagi anaknya.

 
Dalam upaya mencari kesembuhan bagi anaknya, imannya sempat goyah. Sekali waktu, dirinya mendatangi dukun atau paranormal.
 
 

Empat tahun lamanya Yanti dan suaminya mengerahkan segala daya dan upaya demi penglihatan Peter —anak kedua mereka. Di tubir keputusasaan, perempuan ini merenungi keadaan dirinya. Ia pun menyadari, manusia hanya bisa berusaha, sedangkan keputusan akhir hanya Allah SWT Yang Mahamengetahui dan Mahamenetapkan. Keesokan harinya, suami-istri ini bersilaturahim dengan seorang ustaz, yang dahulu membimbing Yanti untuk menjadi Muslimah.

“Saya dinasihati untuk kembali kepada Islam. Saya juga sebenarnya merasa lelah untuk upaya-upaya tersebut waktu itu. Ingin segera kembali kepada Islam, berserah diri kepada-Nya,” jelasnya mengenang.

Sang ustaz juga menerangkan keutamaan berprasangka baik kepada Allah. Yanti diingatkan tentang firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 216, yang artinya, “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Benar saja, setelah menerima dan menghayati nasihat-nasihat itu, Yanti dan suaminya dapat bersikap lapang dada. Bahkan, keduanya menjadi semakin yakin, kelahiran anak bungsunya itu adalah suatu keberkahan. Mendapatkan anak istimewa adalah titipan yang berharga dan beruntung.

“Mendapatkan Peter, anak kedua saya, seperti saya mendapatkan kunci dan baju surga,” ucapnya.

Apalagi, anak keduanya itu rajin belajar dan berprestasi. Peter pernah meraih juara dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang digelar untuk penyandang disabilitas netra. Di bidang akademik, putra bungsu Yanti dan suaminya itu juga mendulang berbagai penghargaan.

“Semakin hari, bahkan hingga kini, saya banyak belajar. Belajar ilmu ikhlas, belajar bersyukur atas setiap rahmat-Nya,” kata Yanti yang kini sudah dikaruniai seorang cucu.

 
Semakin hari, bahkan hingga kini, saya banyak belajar. Belajar ilmu ikhlas, belajar bersyukur atas setiap rahmat-Nya
 
 

Keberkahan lain adalah ia dan keluarganya sudah diberi kesempatan untuk mengunjungi Tanah Suci. Mereka berumrah secara cuma-cuma hingga dua kali. Seluruh keluarga inti berangkat, termasuk putranya, Peter.

"Sejak usia delapan tahun, Peter sering mendengarkan tausiyah, sehingga saya juga ikut mendampinginya untuk memetik pelajaran dari berbagai ceramah yang Peter hadiri dan dengarkan lewat media elektronik,” jelas dia.

Dukungan almarhum suami juga sangat berpengaruh kepadanya, termasuk dalam urusan berhijab. Setelah mendalami Islam, ia pun mengetahui bahwa mengenakan hijab itu wajib bagi Muslim perempuan. Tujuh tahun yang lalu, Yanti pun memutuskan berjilbab.

Ada sebuah kejadian yang membuatnya mulai konsisten menutup aurat kepala. Saat itu, menantunya datang ke rumah. Secara tidak langsung, sang menantu berbicara tentang keutamaan berhijab. Itu terjadi ketika seorang kurir datang dan Yanti ingin mengambil sendiri kiriman.

photo
Priyantiningtyas sempat sedih karena upayanya menyembuhkan putra tercinta tak kunjung berhasil. Namun, nasihat seorang ustaz menyadarkannya tentang makna sabar dan syukur. - (DOK IST)

“Tetapi menantu saya melarang karena saya tidak menutup aurat. Maka dia (si menantu) yang kemudian menggantikan saya membayar buku kiriman. Saat itu, saya tidak marah, malah justru bahagia karena diingatkan. Sejak itu, saya memutuskan untuk berhijab,” kata warga Jakarta Timur itu.

Berkaca dari pengalamannya sejak menjadi mualaf hingga kini, Yanti merasa bersyukur. Memang, ada berbagai ujian hidup dialaminya. Namun, semua itu terasa menjadi ringan, asalkan diiringi dengan sabar dan syukur. Yang terpenting ialah selalu berprasangka baik kepada Allah.

“Saya tidak mau meninggal dalam keadaan tidak Islam. Membayangkannya saja sudah begitu ngeri. Saya selalu berdoa untuk saya, anak-anak, dan cucu-cucu saya agar semuanya dikuatkan iman dan islamnya,” ucapnya menutup pembicaraan.

 


×