Wisatawan beraktivitas di kawasan wisata alam Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/12). Kawasan wisata alam Kawah Putih mulai dipadati pengunjung saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan | Republika/Thoudy Badai
25 Dec 2020, 06:59 WIB

Berstrategi Jalani Liburan Panjang Akhir Tahun

Masyarakat berstrategi dalam liburannya, memanfaatkan empat hari pertama atau empat hari terakhir.

 

Meningkatnya kasus Covid-19 seusai cuti bersama Oktober 2020 membuat pemerintah memutuskan mengurangi cuti serupa pada akhir tahun ini. Pengurangan cuti bersama ini tentu berdampak pada sektor-sektor lain, terutama pariwisata.

Namun, seberapa dampaknya keputusan pemerintah tersebut?

Terkait

Menurut Staf Khusus dan Juru Bicara di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Prabu Revolusi, pengurangan cuti bersama terhadap industri pariwisata belum bisa diketahui pengaruhnya. "Kita belum melewati liburan panjang tersebut. Apakah berpengaruh atau tidak, belum bisa dikatakan sekarang," ujarnya ketika dihubungi Republika, pekan ini.

Namun, yang jelas, kata Prabu, masyarakat tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan pemotongan libur panjang tersebut terhadap okupansi dan pemesanan akomodasi untuk berlibur. Dia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, pada Oktober dan November 2020 saja sudah ada peningkatan enam persen wisatawan domestik.

Informasi lain yang diterima Kemenparekraf dari Bali, tingkat okupansi hotel pada akhir tahun ini mencapai 40 sampai 70 persen. Maskapai penerbangan melaporkan hal yang sama adanya peningkatan pemesanan tiket pesawat pada akhir tahun. "Mungkin masyarakatnya sekarang sudah semakin cerdas, jadi mereka berstrategi dalam liburannya, memanfaatkan yang empat hari pertama atau empat hari terakhir," kata dia.

Menurut dia, masyarakat yang ingin berwisata tidak bisa dilarang, terlebih setelah menjalani berbagai pembatasan selama berbulan-buan pandemi. Masyarakat pun, kata Prabu, sudah semakin paham dengan adaptasi kebiasaan menjalankan protokol kesehatan (prokes).

"Kita harapkan, kalaupun liburan, jauhi keramaian dan tetap disiplin melakukan protokol kesehatan, termasuk pilah-pilih maskapai atau hotel yang menerapkan protokol kesehatan," kata Prabu.

 
Kalaupun liburan, jauhi keramaian dan tetap disiplin melakukan protokol kesehatan, termasuk pilah-pilih maskapai atau hotel.
PRABU REVOLUSI
 

Sementara itu, Head of Corporate Communications Traveloka Reza Amirul Juniarshah mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah dan siap bekerja sama untuk pemulihan sektor pariwisata Tanah Air. Namun, dari data internal Traveloka terkait pengurangan cuti panjang pada akhir tahun, terjadi kenaikan pembatalan reservasi sebesar 15 persen.

"Namun, pembatalan ini relatif kecil terhadap total pemesanan untuk akhir tahun," kata Reza.

Platform manajemen pemesanan hotel daring RedDoorz juga mencatat adanya konsekuensi pembatalan cuti bersama. Country Marketing Director RedDoorz Indonesia Sandy Maulana mengatakan, RedDoorz juga mencatat permintaan pembatalan pemesanan serta pengembalian dana.

photo
Penumpang pesawat berjalan menuju pintu keluar Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Kulonprogo, Rabu (23/12). PT Angkasa Pura I memprediksi kenaikan jumlah penumpang pada liburan Nataru 2021 sebesar 25 persen - (Wihdan Hidayat / Republika)

"Jumlahnya tidak terlalu signifikan," kata dia karena akumulasi pemesanan selama periode awal Desember 2020 terdapat lonjakan pemesanan akomodasi.

Selama pandemi Covid 19, Traveloka memantau perkembangan situasi terkini agar dapat menyesuaikan produk dan layanannya untuk memenuhi kebutuhan para pengguna. "Kami percaya bahwa inovasi dan kolaborasi dengan mitra kami merupakan kunci agar industri pariwisata dapat cepat pulih dari dampak pandemi Covid 19," ujar Reza.


×