Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
05 Dec 2020, 08:30 WIB

Privasi, Keselamatan Publik, dan Donor Darah

Covid-19, antara privasi, keselamatan publik, dan donor darah.

 

OLEH ASMA NADIA

Salah satu dilema ketika virus korona menjangkiti Indonesia adalah saat ada pihak tertentu memublikasikan nama dan tempat tinggal mereka yang positif Covid-19, padahal seharusnya ini rahasia.

Di satu sisi, setidaknya menurut pendapat sebagian orang, tindakan ini melanggar hak individu penderita atas kerahasiaan medis. Di sisi lain, menyembunyikan identitas pasien Covid-19 hanya akan membahayakan lingkungan sekitar.

Terkait

Memublikasikan nama dan tempat tinggal penderita, mengingat cepat dan mudahnya virus berpindah, justru akan menyelamatkan ratusan bahkan ribuan jiwa.

Uniknya ketika perdebatan di atas masih terjadi di Indonesia, berbagai tokoh dan selebritas di negara maju, dengan sigap dan terbuka mengumumkan diri.

Sampai saat ini, tidak ada peraturan darurat yang mengizinkan lembaga tertentu mengumumkan daftar nama penderita Covid-19. Di Jakarta, hanya disebutkan kelurahan, kecamatan, dan jumlah penderita secara berkala.

 
Sampai saat ini, tidak ada peraturan darurat yang mengizinkan lembaga tertentu mengumumkan daftar nama penderita Covid-19.
 
 

 

Ketiadaan aturan darurat menyebabkan, tindakan mengumumkan penderita bisa digolongkan melanggar hukum. Kita membutuhkan kepastian, sebenarnya. Jika tidak, masyarakat seperti berperang melawan musuh yang tidak tampak.

Virusnya sendiri sudah merupakan musuh tak terlihat, setidaknya jika masyarakat memiliki data yang sudah terinfeksi, mereka bisa lebih baik dan tepat saat menjaga jarak. Mungkin saja, ini salah satu sebab virus kian tak terkendali dan masyarakat meremehkan, karena mereka tidak sadar ancaman yang sedemikian dekat.

Tanpa ada aturan yang membolehkan membuka identitas, harapan untuk mampu melihat dan melakukan antisipasi, selama pandemi, bergantung pada seberapa kestaria mereka yang mengidapnya.

Sepanjang pengetahuan saya, pejabat yang benar-benar secara resmi mengumumkan dirinya positif Covid-19, yakni Anies Baswedan. Sungguh berharap keberaniannya yang terdorong kepedulian untuk menyelamatkan masyarakat yang lebih banyak, bisa menjadi contoh bagi siapa saja khususnya tokoh publik.

Sang gubernur mengingatkan semua yang sempat berpapasan dan berkomunikasi langsung dengannya dalam kurun beberapa hari terakhir, untuk segera memeriksakan diri.

 
Gubernur Anies mengingatkan semua yang sempat berpapasan dan berkomunikasi langsung dengannya untuk periksa diri.
 
 

 

Beliau tidak malu atau takut disalahkan karena menularkan. Risiko ini ditempuh sebab kekhawatiran akan pandangan dan sikap orang lain terhadapnya kalah oleh kepedulian akan kemaslahatan masyarakat dan peluang menyelamatkan mereka.

Orang nomor satu di Jakarta itu juga menekankan, Covid-19 bisa menyerang siapa saja. Sekalipun selalu menjaga protokol kesehatan, upaya ini tidak serta-merta menjamin seseorang bebas dari jangkauan virus.

Dokter dengan APD lengkap saja banyak yang tertular. Salah seorang dokter di Kota Solo, dr Khoirul Hadi Sp.KK, justru meminta videonya saat dirawat di ruang ICU diambil sebagai pembelajaran masyarakat.

Perlu keberanian dan integritas untuk melakukan hal ini sebab profesi dokter identik dengan sosok sehat, gagah, mapan, bersih, dan rapi. Demi edukasi masyarakat, beliau tak keberatan video yang menampilkan sosoknya dengan wajah pucat dan dalam kondisi lemah, disebarkan.

Dalam pesan yang beredar luas, sang dokter menceritakan betapa dirinya jauh membaik setelah melewati terapi plasma. Selanjutnya, beliau meminta pasien yang sembuh dari Covid-19, rela mendonorkan darahnya.

Ia menerangkan, sumbangan darah bisa membantu proses terapi bagi pasien yang masih dalam perawatan. Dengan demikian, penderita Covid-19 yang khawatir akan dikucilkan, kini berkesempatan menjadi pahlawan.

 
Penderita Covid-19 yang khawatir akan dikucilkan, kini berkesempatan menjadi pahlawan.
 
 

 

Dulu, mungkin para pasiennya dianggap sebagai sumber penyebaran, tetapi sekarang setelah sembuh, mereka bisa menjelma pahlawan yang berkontribusi bagi kesembuhan pasien lain.

Pastinya perlu keberanian dan kepedulian terhadap sesama bagi mereka yang terkena Covid-19, hingga bisa bersikap tepat. Sementara kedewasaan masyarakat untuk tidak menghakimi atau mengucilkan penderita, akan terasa seperti oase.

Saya termasuk yang beruntung mendapatkan oase itu. Di perumahan tempat tinggal kami, saat terdapat warga terkena Covid-19, mereka secara terbuka menyampaikan kepada yang lain via Whatsapp. Selanjutnya, warga yang sehat berbondong-bondong meringankan kesulitan warga yang sakit dan harus melakukan isolasi mandiri.

Tidak ada yang menyalahkan, tidak ada yang dipermalukan sebab semua menyadari, yang terjadi adalah musibah dan ketika musibah terjadi yang bisa dilakukan mereka yang berada dalam kondisi lebih baik adalah mengulurkan tangan terhadap mereka yang terpapar kesulitan.

Di Tanah Air, kita yang rakyatnya terkenal dengan sikap gotong-royong, saya meyakini oase serupa kian mudah ditemukan. Sebuah contoh ideal ketika masyarakat paham, bagaimana harus bersikap terhadap penderita dan di sisi lain--penderita tahu bagaimana bersikap saat terpapar.

 
Bagaimana harus bersikap terhadap penderita dan di sisi lain--penderita tahu bagaimana bersikap saat terpapar.
 
 

Jika hal ini terus tumbuh, terlepas aturan tentang kerahasiaan penderita, apakah harus disembunyikan dan tidak boleh diumumkan, kebijakan itu pada prinsipnya berada di tangan setiap pasien. 

Semoga pada akhirnya, kepedulian dan keinginan menyelamatkan orang banyak, yang menang. Semoga, pandemi yang berlangsung panjang ini, kian mengeratkan serta menyatukan kita semua dan bukan menjauhkan.


×