Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. | Republika/Thoudy Badai
12 Nov 2020, 04:00 WIB

Dewan Anggap Pemprov DKI Jakarta Beprestasi

Wagub DKI Jakarta menerima kritik Jakarta amburadul dari Megawati.

 

 

JAKARTA -- DPRD DKI Jakarta menganggap pernyataan kondisi Jakarta amburadul tidak tepat. Wakil Ketua DPRD DKI Mohammad Taufik mengatakan, Jakarta baru-baru ini, justru memperoleh sejumlah penghargaan, salah satunya Sustainability Transport Award (STA) 2021. Penghargaan yang diberikan Institute for Transportation and Development (ITDP) tersebut terkait inovasi integrasi antarmoda di Jakarta.

Selain STA 2012, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dalam waktu yang hampir bersamaan juga meraih sembilan penghargaan di ajang Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2020 dan juara pertama aplikasi Jakarta Kini (Jaki). "Saya kira dalam waktu yang hampir bersamaan, DKI banyak mendapat penghargaan, berbagai jenis ya," kata politikus Partai Gerindra tersebut saat dikonfirmasi, Rabu (11/11).

Terkait

Taufik menjelaskan, penghargaan yang diterima Pemprov DKI itu tentu diberikan penyelenggara sesuai dengan pertimbangan dan penilaian tertentu. Oleh karena itu, ia menganggap harus ada kota pembanding jika Jakarta dikategorikan amburadul. Pasalnya, perolehan sejumlah penghargaan itu menandakan adanya peningkatan dalam tata kelola di berbagai bidang di Jakarta.

"Saya kira, saya belum bisa menilai pernyataan (Megawati) itu. Saya kira, penghargaan dari berbagai kelompok kayak kemarin soal transportasi, itu juga harus dilihat sebagai suatu bentuk, suatu upaya perbaikan," ucap Taufik.

Pada Selasa (10/11), Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku, heran lantaran Jakarta tidak masuk sebagai Kota Ramah Mahasiswa atau City of Intelect. Adapun penghargaan itu diberikan berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim yang dipimpin Ketua Senat dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hafid Abbas. Adapun tiga kota yang mendaptkan penghargaan City of Intelect adalah Kota Semarang, Solo, dan Surabaya, yang kebetulan ketiganya dipimpin wali kota asal PDIP.

"Saya bilang Jakarta ini menjadi amburadul, karena apa? Ini tadi seharusnya City of Intellect ini dapat dilakukan tata kotanya, masterplan-nya, dan lain sebagainya, siapakah yang buat hal ini tentunya para akademisi, insinyur, dan lain sebagainya," kata Megawati dalam diskusi daring bertajuk “Pembudayaan Pancasila dan Peneguhan Kebangsaan Indonesia di Era Milenial” yang digelar UNJ.

Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menerima kritik yang dilontarkan Megawati terkait keadaan Ibu Kota saat ini. Dia mengatakan, pernyataan Megawati itu dianggap sebagai pemicu bagi Pemprov DKI untuk meningkatkan kinerja yang lebih baik.

photo
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (kedua kiri)  - (Republika/Thoudy Badai)

"Jadi, siapa pun memberikan masukan kritik, kami anggap sebagai obat untuk menyemangati kami, untuk terus berbuat dan meningkatkan kinerja, perbaikan, dan kualitas daripada Kota Jakarta ke depan," tutur Riza di Balai Kota DKI, kemariin.

Riza mengatakan, segala komentar yang ditujukan kepada Jakarta patut dihargai. Dia menilai, adanya masukan dan kritikan malah dapat membantu perbaikan di Ibu Kota. Dia mengeklaim, Pemprov DKI telah bekerja sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Menurut Riza, bentuk pembangunan itu pun melibatkan legislatif, tokoh masyarakat dan agama, hingga ormas.

"Inilah Kota Jakarta yang kita bangun bersama dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami terus membangun untuk kepentingan warga Jakarta dan tentu untuk kepentingan masyarakat banyak," ucap Riza.

 

Mental katrok

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriayatna, mengaku setuju dengan anggaran Jakarta merupakan kota yang amburadul. Hal itu terlihat dari kurangnya edukasi masyarakat tentang budaya hidup di perkotaan.

"Jadi, ibaratnya Jakarta ini dibangun modern, apa-apa dibangun, tapi jiwa warganya itu belum terbangun. Jadi, ibaratnya kotanya metropolitan, tapi mentalnya masih katrok," kata Yayat kepada Republika.

Beberapa waktu lalu Jakarta memang mendapatkan penghargaan dunia, yaitu STA 2021. Sayangnya, Yayat menyebut prestasi itu tidak sejalan dengan tindakan sebagian masyarakat yang ketika ikut demonstrasi justru membakar fasilitas publik, seperti halte Transjakarta. Dari fakta itu, kata dia, sepertinya ada sebagian masyarakat yang tidak menyadari bahwa halte itu dibangun dari pajak masyarakat.

Belum tumbuhnya rasa memiliki itu lantaran tidak adanya budaya berkota di masyarakat. "Ketika dunia menilai, mengapresiasi penilaian transportasinya, tapi kok halte-haltenya kemarin dibakar waktu demo. Kenapa harus dirusak?" kata Yayat.

Yayat melanjutkan, budaya berkota artinya peduli dan merawat semua fasilitas yang dibangun di Jakarta. Kemudian, masyarakatnya taat terhadap aturan yang ada. Namun, ia menilai, hal itu belum tampak di Jakarta sehingga menimbulkan kesan amburadul.


×