Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
27 Oct 2020, 04:52 WIB

Dan Korona Kian Dekat

Harus seberapa dekat lagi korona hingga sikap kita berubah?

OLEH ASMA NADIA

Di masa awal sebelum pendemi, ketika berita korona terdengar,  sebagian besar kita bisa dengan santai berujar.

“Oh, di Cina kan?”

Santuycuma di Wuhan, bukan di Beijing!”

Terkait

Saat itu korona terasa jauh, dan kita seolah mustahil tersentuh. 

Ketika wabah kemudian mulai menyebar ke Jepang, Korea, dan negara di timur jauh, kita pun masih tenang.  

Indonesia dan Cina terpisah lautan. Terjeda jarak lebih dari 2.260 mil di perairan atau 4.197 kilometer. Virus, makhluk kecil yang tak terlihat dengan mata telanjang, tak akan semudah itu menghampiri. Logika ini tentu saja menenangkan. Bahkan ketika mulai masuk ke Asia Tenggara hingga Singapura, kita masih belum juga panik. 

Ketika negara-negara lain sudah merilis jumlah pasien terpapar korona dari waktu ke waktu, beberapa pejabat justru merilis komentar cenderung guyon, yang meramaikan laman berita, cetak dan daring. 

“Kita kebal korona karena doyan nasi kucing!”

“Virus korona nggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah.”

Seorang pejabat pemerintah bahkan mengaitkan virus ini dengan merek mobil jadul, ketika sambil berkelakar berkata, 

“Korona (masuk Batam)? Corona kan sudah pergi.... Corona mobil?"

Kelakar demi kelakar yang berbanding lurus dengan keseriusan pejabat pemerintah saat itu terhadap wabah. 

“Ini lebih bahaya MERS dan SARS dibanding itu daripada si korona, kecuali (maksudnya) 'komunitas rondo mempesona'... Bapak-bapak kalau kena korona yang itu ngeri kita. Itu korona beneran, korona yang membahayakan itu, komunitas rondo mempesona.” 

 
Ketika negara-negara lain sudah merilis jumlah pasien terpapar korona dari waktu ke waktu, beberapa pejabat justru merilis komentar cenderung guyon.
 
 

Bagi yang belum familiar, kata rondo itu berarti janda, dalam bahasa Jawa. Ada-ada saja memang canda ketika kita merasa Indonesia sedemikian hebatnya hingga seolah memiliki alasan untuk tenang dan santai, meski pandemi terus meluas. Seorang menteri yang dikenal humoris bahkan sempat mengingatkan yang penting enjoy dan makan yang cukup. 

“Dari 1,4 miliar penduduk (Tiongkok) paling dua ribuan (tertular). Dua ribu dari 1,4 miliar itu kan kayak apa. Karena itu pencegahannya jangan panik, jangan resah. Enjoy saja, makan yang cukup."

Saat itu memang masih banyak yang meyakini, korona hanya menyerang etnis tertentu atau masyarakat yang kaya raya dan biasa hidup bersih. Sementara sebagian besar rakyat terbawa ketenangan para pejabat pemerintah. Sementara kepanikan di Cina, dan negara-negara lain lewat berita dan video yang viral belum cukup mengusik tombol kecemasan kita. 

Bahkan ketika pemerintah akhirnya mengumumkan kasus pertama korona di Indonesia, sejumlah canda masih terdengar dari sosok-sosok yang seharusnya mengajak rakyat bersiap. Maka wajar jika rakyat tetap merasa betapa jauhnya korona dari mereka. 

"Oh, di kotaku masih aman sih."

"Belum ada kenalan yang kena sih."

Hiruk pikuk komentar yang berangsur berubah haluan. Setelah pemandangan ambulans membelah kota dan desa, dan staf berbaju tertutup rapat menggali kuburan di perkotaan hingga pelosok desa. Setelah tetangga, saudara, kenalan, ada yang kena barulah kita mulai menganggap serius. 

“Astaghfirullah, dia kena? Kenal sih…"

"Tetangga dua rumah, ibunya meninggal karena korona. Sekarang sekeluarga isolasi mandiri."

 
Mungkin mentalitas ini juga membuat kita terlambat bersiap diri. Lebih buruk lagi ketika akhirnya berhadapan dengan musuh semua sudah terlambat. 
 
 

Media sosial mulai bertubi-tubi dipenuhi status korban yang menceritakan kronologis termasuk sulitnya mendapatkan perawatan. Juga mereka yang kehilangan ibu, kehilangan ayah, kehilangan pasangan, bahkan anak. Nama-nama tokoh publik yang usianya terampas karena korona mulai menyentakkan.  Rumah sakit penuh, mereka yang perlu ICU bahkan meski pejabat daerah, tak mendapat jaminan akan memperolehnya. Lebih dari 100 dokter gugur. Daerah yang dulu zona hijau, tiba-tiba merah semua. 

Tuhan, betapa dekat korona ternyata. 

Saya yakin saat itu tidak terbayang di benak para pejabat yang sempat berseloroh bahwa jumlah kasus korona kemudian menyentuh angka 30 juta di dunia, per tanggal 18 September ini. 

Kata orang, bahasa adalah hasil budaya. Ungkapan dalam bahasa mencerminkan sikap masyarakat setempat. Di Indonesia terkenal kalimat, "Belanda masih jauh." Biasa disampaikan agar kita tidak usah terburu-buru atau santai-santai saja karena musuh masih jauh.

Mungkin mentalitas ini juga membuat kita terlambat bersiap diri. Lebih buruk lagi ketika akhirnya berhadapan dengan musuh, semua sudah terlambat. Ketidaksigapan merespons atau menyepelekan korona ternyata kemudian bukan cuma terjadi di Indonesia. 

Seorang teman putra saya yang berasal dari Uzbekistan sempat mengirim pesan melalui wapri.

"Gila ya, dulu di sini kami bilang tidak ada satu pun yang kami kenal terkena korona, kini justru terbalik. Tidak satu pun orang di sini yang tidak kenal mereka yang terkena korona."

 
Harus seberapa dekat lagi korona agar mereka yang berwenang bisa mengatasinya dengan kebijakan searah? Harus seberapa dekat lagi? 
 
 

Italia, Spanyol, dan beberapa negara di Eropa juga termasuk yang cukup terlambat mengantisipasi hingga bertengger menjadi negara dengan jumlah penderita terbanyak. Ketika angka kasus harian kita baru belasan, kita bisa belajar dari mereka sudah mencapai ratusan.

Namun bedanya, begitu mereka menyadari kesalahan tersebut, mereka segera berbenah dan melakukan evaluasi hingga lambat laun mulai pulih, dan masyarakat di sana kembali beraktivitas dengan pembatasan ketat.

Di Tanah Air, setelah korona kian dekat pun, walau ada sebagian yang sadar, masih ada saja yang menganggap sepele. Tidak mengenakan masker, tetap keluar rumah tidak untuk hal-hal yang penting, dan bukan saja tidak menjaga jarak, tapi ikut berada dalam kerumunan. Kesemrawutan di masyarakat yang mirip dengan kebijakan pihak berwenang yang berbeda-beda antara satu dan lainnya.  

Korona kian dekat. Saking banyaknya orang tanpa gejala (OTG), bisa jadi virus ini tak hanya dekat, tapi mungkin sudah ada dalam diri kita. Pertanyaannya adalah harus seberapa dekat lagi korona hingga sikap kita berubah? Harus seberapa dekat lagi korona agar mereka yang berwenang bisa mengatasinya dengan kebijakan searah? Harus seberapa dekat lagi? 


,
×