Zaid Mustafa (kiri) yang kehilangan ayah dan abangnya dalam serangan di Christchurch mengikuti shalat jumat di lapanga di seberang masjid Al Noor beberapa waktu lalu. | AAP/SNPA

Kisah Mancanegara

27 Aug 2020, 04:30 WIB

Sara: Cinta akan Selalu Menang

Keluarga korban bersaksi dalam sidang dengar di pengadilan Christchurch.

Ada banyak cara untuk melepaskan rasa marah dan sedih. Dalam sidang dengar di pengadilan Christchurch, Selandia Baru, sebagian orang memilih memaki atau berteriak marah kepada Brenton Harrison Tarrant (29 tahun). Ada pula yang menyebutnya monster, pengecut, atau tikus. 

Sebagian yang lain mengutip ayat Alquran. Ada pula yang tetap berbicara lembut dan mengatakan bahwa mereka sudah memaafkan Tarrant. Tarrant adalah pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret 2019. Aksinya menewaskan 51 orang dan puluhan orang cedera. 

Sara Qasem pun punya cara sendiri. Ayahnya menjadi korban penembakan Tarrant. Sara memilih berkisah tentang sang ayah saat memberikan kesaksian dalam sidang dengar yang digelar pada hari ketiga, Rabu (26/8). 

Kata-kata cinta yang indah dari Sara membuat banyak orang menangis. Sara mengatakan, ia sering bertanya-tanya, apakah pada saat-saat terakhir ayahnya merasakan rasa sakit atau ketakutan? Ia berharap berada di sana untuk menggenggam tangan ayahnya. Sara pun memberitahu Tarrant yang duduk di kursi terdakwa, bahwa nama ayahnya adalah Abdelfattah Qasem.   

photo
Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru yang menjadi lokasi penyerangan terhadap Muslim. - (EPA-EFE/MARTIN HUNTER)

"Semua hal yang diinginkan anak perempuan adalah ayahnya, saya ingin melakukan perjalanan lebih banyak dengannya, saya ingin menghirup lagi aroma masakan hasil kebunnya, wangi parfumnya, saya ingin dia menceritakan lebih banyak tentang pohon zaitun di Palestina, saya ingin mendengar suaranya, suara ayah saya, suara baba saya," kata Sara.  

Pada Maret, Tarrant sudah mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan terorisme. Ia mengubah pernyataan sebelumnya yang menyatakan dirinya tidak bersalah. Sidang kali ini memberi kesempatan bagi para penyintas dan keluarga korban untuk berhadapan langsung dengan Tarrant. 

Sara mengatakan, Tarrant telah mengambil pilihan. "Secara sadar, bodoh, tak bertanggung jawab, berdarah dingin, egois, menjijikkan, keji, busuk, tak tahu apa-apa, dan jahat," katanya. Sara menambahkan, cinta akan selalu menang. 

Selama sidang, Tarrant tidak menunjukkan emosinya sama sekali. Terkadang ia mengangguk kecil atau menyeringai menghina orang-orang yang sedang menyampaikan kisah mereka. Tarrant terlihat lebih kurus dibandingkan dengan saat ia ditangkap. Selama sidang ini, ia tidak menunjukkan ketangguhan yang ditampilkan dalam sidang pertamanya. Ketika itu, ia kerap menunjukkan gestur tangan, simbol supremasi kulit putih.   

Sebelumnya, Tarrant memutuskan mewakili dirinya sendiri dan tak lagi didampingi pengacara. Ia akan mendapatkan kesempatan berbicara pada Kamis (27/8), saat hukuman dijatuhkan. Saat itu, proses sidang dengar yang berlangsung sejak Senin (24/8) dan menghadirkan seluruh penyintas dan keluarga korban selesai. 

Namun, pria pendukung supremasi kulit putih ini mengatakan tak akan memanfaatkan kesempatan itu. Pada Rabu, ia mengatakan kepada hakim bahwa ia tidak akan mengatakan apa pun. Ia memiliki pengacara yang ada di pengadilan mewakilinya untuk membuat pernyataan singkat.  

Kesaksian ayah dari korban termuda penembakan tersebut, Mucaad Ibrahim yang berusia tiga tahun, juga dibacakan dalam sidang tersebut. Ia mengatakan, putranya senang bermain di halaman masjid dan berteman dengan semua orang, baik muda maupun tua. Ayahnya mengatakan, Mucaad senang berlari dan memakai seragam polisi.   

"Kekejaman dan kebencian Anda tidak menghasilkan apa yang Anda harapkan, tetapi justru mempersatukan masyarakat Christchurch, memperkuat iman kami, mengangkat harkat keluarga kami, dan membawa negara kami menuju perdamaian," katanya.

Sumber : Associated Press


×