Hikmah | Republika
26 May 2020, 11:51 WIB

Silaturahim Saat Pandemi

 

Oleh FAOZAN AMAR

Lebaran tahun ini akan terasa berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Tak ada lagi mudik dengan bermacet-macet ria, takbir keliling dengan pawai obor dan suara beduk yang bertalu-talu, sungkeman, shalat Idul Fitri di lapangan atau masjid, halal bihalal dengan keluarga dan teman, dan sebagainya.

Semua itu dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk menangkal penyebaran wabah korona. Islam mengajarkan bahwa mencegah kemudharatan itu lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. “... Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS al-Baqarah 195).

Terkini

Di antara ritual yang biasa menyertai perayaan Idul Fitri adalah mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahim dengan orang tua, sanak saudara, dan sahabat. Anjuran untuk bersilaturahim ditegaskan Allah SWT, “... Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-Nisa: 1).

Orang yang bersilaturahim merupakan pertanda; Pertama, beriman kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda; “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahim.” (HR Mutafaqun‘alaihi). Kedua, panjang umur dan banyak rezeki. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim.” (HR Bukhari).

Ketiga, dekat ke surga dan terjauh dari neraka. Dalam hadis dijelaskan, Dari Abu Ayub al-Anshari, beliau berkata, seorang berkata, "Wahai Rasulullah, beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga.” Beliau SAW menjawab, “Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan bersilaturahim.” (HR Jama’ah).

Lantas, bagaimana silaturahim saat pandemi Covid-19 sekarang ini? Esensi dari silaturahim tidak sebatas bersalaman (musafahah), bukan pula sekadar pertemuan (muwajahah), tetapi silaturahim yang menyebabkan kita semakin taat kepada Allah SWT dan menjadikan kita terhindar dari perbuatan maksiat. Sebab, silaturahim adalah ketaatan dan amalan yang mendekatkan kepada Allah, serta tanda takutnya seorang hamba kepada Allah. 

Hal ini sebagaimana firman Allah; “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS ar-Ra’d : 21). Jadi, jika kita tak mudik Lebaran karena khawatir menyebarkan atau tertular wabah virus korona, sesungguhnya itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SW agar tidak jatuh dalam kebinasaan. 

Walau tak mudik, mari kita tetap jalin silaturahim agar panjang umur dan banyak rezeki sekalipun pada masa pandemi. Dengan demikian, kita bisa saling mendoakan, menguatkan satu sama lain untuk menambah imunitas tubuh agar tetap bugar melawan Covid-19. Wallahua’lam. 


×