Ilustrasi iktikaf. | Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
14 May 2020, 04:11 WIB

Iktikaf di Tengah Pandemi

Iktikaf bukan satu-satunya ibadah untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

 

 

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, iktikaf menjadi salah satu ibadah yang digiatkan umat Islam. Tapi, bagaimana dengan iktikaf di tengah situasi pandemi virus korona (Covid-19) saat ini ketika banyak masjid masih menutup pintu untuk kegiatan ibadah?

"Iktikaf adalah taukifi atau ta'abbudi, ibadah yang tidak bisa diubah-ubah yang ketentuannya sudah dijelaskan di dalam ajaran agama," kata Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa KH Salahuddin Al-Ayyubi.

Terkait

Pada intinya, ia menekankan, tempat iktikaf adalah di masjid. Tapi, jika terjadi kondisi sehingga kita tidak bisa melakukan ibadah yang biasa dikerjakan pada waktu iktikaf, diperbolehkan iktikaf di luar masjid, misalnya, di rumah.

Keadaan pandemi Covid-19 sekarang ini, lanjut Kiai Salahuddin, bisa menjadi uzur (penghalang) sehingga dianjurkan untuk mengerjakan ibadah tersebut di rumah. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mendirikan di malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.

Maksud dari ‘’mendirikan’’ tersebut, yakni memperbanyak ibadah di malam-malam Ramadhan. "Mendirikan di malam-malam bulan Ramadhan itu tidak harus di dalam masjid. Di luar masjid juga bisa dilakukan," ujar dia.

Iktikaf, lanjut Kiai Salahuddin, juga bukan satu-satunya ibadah untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Memperbanyak ibadah di rumah, termasuk di tengah pandemi sekarang ini juga bisa menjadi cara untuk meraih malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu.

"Maka, kita fokus beribadah di rumah masing-masing dan itu bisa dikategorikan sebagai qiyamul lail, mendirikan malam-malam Ramadhan. Kalau di saat itu ada Lailatul Qadar, kita Insya Allah termasuk orang yang mendapatkan Lailatul Qadar itu," katanya.

Soal pahala beriktikaf, pengajar di Ma'had Daarussunnah Bekasi, Ustaz Muhammad Azizan Lc, menjelaskan, tidak ada riwayat tentang pahala besar bagi orang yang beriktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Namun, Rasulullah SAW selama hidupnya tidak pernah meninggalkan aktivitas tersebut. "Dan ini menunjukkan keutamaan iktikaf di 10 hari terakhir pada Ramadhan," ujar dia.

Dalam hadis riwayat Muttafaqun 'Alaih dari jalur Aisyah disebutkan, Rasulullah SAW beriktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan sampai beliau wafat. Lalu, kegiatan iktikaf itu dilanjutkan oleh istri-istri beliau.

Bahkan, di tahun wafatnya, Rasulullah beriktikaf pada 20 hari terakhir Ramadhan. (HR Bukhari, No 2040).

Ustaz Azizan menerangkan, iktikaf pada dasarnya di masjid, sehingga tidaklah dianggap iktikaf kecuali di dalam masjid. Ini menjadi ijma para ulama berlandaskan firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 187, "Dan janganlah kalian berhubungan dengan istri-istri kalian, sedangkan kalian dalam keadaan beriktikaf di masjid.’’

Namun, Ustaz Azizan melanjutkan, sebagian ahli ilmu seperti Imam Abu Hanifah, Ibrahim an-Nakho'i, dan Sufyan al-Tsauri berpendapat, wanita boleh beriktikaf di rumahnya, yakni di mushala dalam rumah. Walaupun, secara zhahir, ayat dan hadis tentang iktikaf sama saja antara wanita dan laki-laki. "Bahwa iktikaf itu di dalam masjid," ujar dia.

Dalam konteks pandemi sekarang ini, apakah dibolehkan beriktikaf di rumah? Ustaz Azizan mengungkapkan, sebagian ulama membolehkan beriktikaf di mushala dalam rumah, tetapi memberikan beberapa syarat.

Syarat pertama, harus memiliki mushala di dalam rumah yang dikhususkan untuk beribadah. "Jadi, bukan seluruh space (ruang) di rumahnya," kata alumnus Fakultas Syariah Universitas al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh Cabang Jakarta ini.

Kedua, berkomitmen untuk tidak meninggalkan tempat tersebut kecuali dalam kondisi darurat, seperti jika ia hendak buang hajat. "Dan yang perlu menjadi catatan, iktikaf ini hanya berlaku dalam kondisi sekarang ini (pandemi Covid-19).’’


×