Seorang siswa penyandang disabilitas membaca Alquran saat kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Dinsos Jabar, Kota Cimahi, Selasa (28/4). Pesantren kilat Ramadan yang diikuti oleh sedikitnya 15 siswa penyand | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
13 May 2020, 00:16 WIB

Qiraah Alquran Tenangkan Hati Selama Ramadhan

Ramadhan adalah waktu Allah menurunkan Alquran.

JAKARTA -- Habib Nabiel al-Musawa mengajak seluruh umat Islam meningkatkan interaksi dengan Alquran. Apalagi, bulan suci Ramadhan sudah mencapai lebih dari pertengahan jalan.

Tinggal beberapa hari lagi, Muslim akan memasuki waktu iktikaf. "Bagi yang belum berinteraksi dengan Alquran, mohon berinteraksi dengan sesegera mungkin. Bagi yang sudah berinteraksi, membaca Alquran, mohon ditingkatkan lagi," ujar Habib Nabiel dalam siaran langsung Hijrahfest from Home di Youtube, Selasa (12/5).

Habib Nabiel mengatakan, semakin menuju akhir waktu Ramadhan, para sahabat Nabi Muhammad SAW semakin banyak berinteraksi dengan Alquran. Dia menceritakan, salah satu sahabat Nabi, Qatadah bin Da'mah, pada 10 hari awal Ramadhan bisa mengkhatamkan Alquran satu kali, 10 hari berikutnya khatam dua kali, dan 10 hari terakhir khatam tiga kali. Unsur Dewan Syura Majelis Rasulullah SAW Indonesia ini mengingatkan Muslim untuk tidak berlaku sebaliknya. 

Menurut Habib Nabiel, pandemi global Covid-19 mendatangkan beberapa hikmah. Salah satunya, yang biasanya banyak orang berkeliling pusat perbelanjaan, kini terpaksa di rumah. Momen kali ini sebaiknya dimanfaatkan untuk lebih dekat dengan Allah SWT, Alquran, dan Nabi Muhammad SAW.

Terkait

Dalam Alquran surah Thaha ayat 124, Allah SWT berfirman, "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Habib Nabiel mengatakan, azab di dunia bagi orang-orang yang melupakan Alquran adalah diberi kehidupan yang berat, sempit, selalu merasa stres, frustrasi, hingga penuh kegalauan. Azab kedua akan dirasakan di akhirat, yakni dikumpulkan bersama seluruh manusia dan jin dalam keadaan buta.

Habib Nabiel lantas mengingatkan umat Islam tidak hanyamendekatkan diri kepada Allah SWT dan Alquran saat ada masalah saja. Alquran seyogianya menjadi sahabat yang disapa setiap saat. 

Jika ada ayat Alquran yang dirasa menarik atau terkena di hati, disarankan oleh Habib Nabiel untuk diulang-ulang dan tidak dilewatkan. "Mari kita mengimani Alquran dan manjadikan kalam Allah SWT sebagai panutan dalam kehidupan kita," ujarnya. 

Pada kesempatan berbeda, AQL Islamic Center bekerja sama dengan Yayasan Warisan Ummah Ikhlas (WUIF) di Malaysia menyelenggarakan program World Quran Hour. Program ini berlangsung pada 20 Ramadhan 1441 Hijriyah atau Rabu 13 Mei 2020.

"Kegiatan membaca Alquran akan berlangsung selama satu jam mulai pukul 11.00 hingga pukul 12.00 WIB, sedangkan untuk waktu Malaysia akan mulai pukul 12.00 hingga pukul 13.00," ujar Ketua Yayasan Pusat Peradaban Islam AQL Islamic Center Ustaz Iswahyudi Mukhlis kepada Republika, Selasa (12/5).

Sejak Yayasan ini berdiri pada 2013, AQL selalu mendukung program Alquran yang mereka selenggarakan. Biasanya program bersama ini dilangsungkan pada hari Arafah. 

Khusus untuk tahun ini, karena adanya pandemi Covid-19, keduanya menggunakan kesempatan untuk bersama-sama mendukung program World Quran Hour saat Ramadhan. 

"Kami ingin mengambil momen sehingga menarik perhatian dunia terhadap Alquran tidak hanya didukung oleh umat Islam di Malaysia dan Indonesia, tetapi juga umat Islam di negara lain karena disiarkan secara online," ujarnya. 

Kegiatan membaca Alquran selama satu jam ini tak hanya diisi dengan tilawah Alquran saja, tetapi juga beberapa acara lain. World Quran Hour diawali dengan pembukaan pembacaan al-Fatihah oleh qari asal Malaysia, Ustaz Fazrul. Lantas akan ada pembacaan Alquran surah ar-Rahman dan tadaburnya oleh Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Fazrul. 

"Surah ar-Rahman dipilih karena di dalamnya terdapat risalah untuk mengembalikan keharmonisan global," kata Ustaz Iswahyudi. 

Selain membaca Alquran, umat Islam yang bergabung dalam World Quran Hour secara daring juga dapat berfoto di rumah dan mengunggahnya ke media sosial dengan tagar #WORLDQuranHour. Kajian daring ini dapat diikuti melalui kanal Youtube AQL Islamic Center, Facebook, dan  akun media sosial pribadi Ustaz Bachtiar Nasir. 

Sembilan negara lain juga akan bergabung bersama dalam acara ini. Kesembilannya yakni Brunei Darussalam, Cina, Rusia, Filipina, Korea Selatan, Australia, Yordania, Inggris, dan Irlandia.

 

Shalat Id di rumah

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Syamsul Anwar membolehkan umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri 1441 Hijriyah di rumah. Sebab, pemerintah belum menyatakan penyebaran virus Covid-19 sudah selesai. 

Menurut dia, sebaiknya pelaksanaan shalat Idul Fitri memang dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid. "Karena keadaan darurat, (shalat Id) dilakukan di rumah, jadi dimbau untuk dapat melaksanakan di rumah masing-masing," ujarnya saat dihubungi Republika, Selasa (12/5).

Dalam konteks ini, menurut dia, sejumlah fatwa yang dikeluarkan juga membolehkan umat Islam untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah bersama keluarga. Misalnya, ayah atau anak laki-lakinya yang sudah dewasa bisa bertindak sebagai imam, sedangkan anggota keluarga lainnya menjadi makmum.

"Bahkan, Imam Bukhari mengatakan juga bisa dilakukan di rumah dan beliau mengutip sahabat Anas diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengerjakannya di rumah karena dia luput dari shalat di lapangan," kata Prof Syamsul.

Dia menyebut tata cara pelaksanaan shalat Idul di rumah sama saja dengan pelaksanaan Idul Fitri di lapangan terbuka. Pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram dan tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua membaca takbir sebanyak lima kali (selain takbir saat berdiri). 

"Sejumlah fawa juga berpendapat boleh tidak khutbah karena hukum khutbah itu sunah. Tapi, kalau bisa berkhutbah, boleh berkhutbah singkat," kata Prof Syamsul.

 


×