Peneliti dari Professor Nidom Foundation (PNF) melakukan proses pemisahan cairan (ekstraksi) struktur pernafasan (respirasi) kelelawar asal Kepulauan Riau di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2). Penelitian itu untuk memelajari keberadan virus SARS-CoV2. | ANTARA FOTO

Internasional

17 Apr 2020, 01:50 WIB

WHO: Tiga Vaksin Mulai Uji Klinis 

Perang kata-kata memercik antara AS dan Cina soal asal muasal virus korona.

 

JENEWA -- Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, proses penelitian dan pengujian vaksin untuk virus korona Covid-19 terus berlangsung. Ia menyebut terdapat puluhan kandidat vaksin. 

"Tiga vaksin telah memulai uji klinis, lebih dari 70 lainnya sedang dalam pengembangan. Kami bekerja dengan para untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan distribusi vaksin," ujar Ghebreyesus, Rabu (15/4), dikutip laman UN News

Penelitian obat-obatan untuk menangani pasien Covid-19 juga terus berlanjut. Menurut Ghebreyesus, sejauh ini lebih dari 90 negara telah bergabung dan menyatakan minatnya pada inisiatif untuk membandingkan efektivitas empat pilihan pengobatan dengan lebih 900 pasien terdaftar. WHO pun telah mengumpulkan kelompok dokter untuk mempelajari dampak kortikosteroid dan obat antiradang lainnya pada hasil pengobatan. 

 
 

Melinda Gates dari lembaga filantropi the Bill & Melinda Gates Foundation mengumumkan menambah dana hibah sebesar 150 juta dolar AS untuk WHO. Ia mengatakan, langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan pendanaan WHO selama pandemi virus korona tidak masuk akal dan berbahaya. Menurut dia, hanya WHO organisasi yang dapat mengatasi pandemi ini. 

"Menghentikan pendanaan WHO selama pandemi jelas tidak masuk akal, kami membutuhkan respons global yang terkoordinasi, ketika Anda sedang berada di krisis seperti ini, semua tangan di atas dek," kata Gates, Kamis (16/4). 

photo
Melinda Gates (tengah). - (AP)

WHO saat ini mengawasi Eropa yang memiliki kasus Covid-19 nyaris menyentuh angka 1 juta. Data Johns Hopkins University menunjukkan, saat ini terdapat lebih dari dua juta kasus Covid-19 di seluruh dunia dan pasien yang meninggal melampui 137 ribu jiwa. Ini berarti, separuh dari kasus global ada di Eropa.

"Badai pandemik ini masih berada di kawasan Eropa," kata Direktur WHO kawasan Eropa Hans Kluge yang dikutip Aljazirah. "Tidak ada jalur cepat untuk menuju situasi normal," ujarnya memperingatkan.

Sementara itu, kehidupan mulai berjalan normal di Wuhan, Cina, yang menjadi pusat penyebaran virus korona pertama kali. Setelah menjalani //lockdown// selama 76 hari, kini warga Wuhan bahkan mulai diizinkan menggelar acara, seperti pernikahan. 

Peng yang bekerja sebagai resepsionis dan tunangannya Yao seorang petugas bandara sudah lama membuat rencana pesta pernikahan. Namun, pandemi menunda rencana mereka. 

"Kami harusnya menikah pada 20 Februari 2020," kata Peng, Kamis. 

Namun, Kota Wuhan ditutup pada 23 Januari dan badan pendaftaran pernikahan di seluruh Cina juga ditutup. Pasangan itu akhirnya menikah pada Sabtu (11/4). Kini mereka sedang mempersiapkan pesta pernikahan tradisional pada Mei. 

Memercik

Perang kata-kata kembali memercik antara AS dan Cina. Trump mengatakan, pemerintahannya sedang menyelidiki apakah virus korona baru penyebab Covid-19 berasal dari laboratorium di Wuhan, Cina. 

“Kami sedang melakukan pemeriksaan yang sangat teliti terhadap situasi yang mengerikan ini,” kata Trump saat ditanya awak media di Gedung Putih, Rabu, tentang laporan virus yang “bocor” dari laboratorium di Wuhan.

Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, Covid-19 memang berasal dari Wuhan. Dia menyebut terdapat Institute of Virology beberapa mil dari pasar basah Wuhan, tempat yang diyakini menjadi sumber penularan virus.  

“Kami benar-benar memerlukan Pemerintah Cina membuka diri dan membantu menjelaskan bagaimana sebenarnya penyebaran virus ini. Pemerintah Cina perlu berterus terang,” kata Pompeo.  

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian mengatakan, tidak ada bukti bahwa virus korona penyebab Covid-19 dibuat di laboratorium. Zhao mengungkapkan, para pejabat WHO pun telah menyatakan secara berulang tak ada bukti bahwa virus tersebut hasil sintesis atau buatan. 

"(WHO) telah mengatakan berkali-kali tidak ada bukti bahwa virus korona baru dibuat di laboratorium,” ujarnya dalam pertemuan pers pada Kamis. 

Kondisi Arabia

Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) mengatakan, 74 juta orang di negara-negara Arab berisiko terinfeksi virus korona penyebab Covid-19. Hal itu karena mereka tak memiliki akses ke fasilitas cuci tangan dasar.  ESCWA mengungkapkan, mencuci tangan dengan sabun dan air merupakan salah satu cara efektif mencegah penularan Covid-19. Mereka memperkirakan kebutuhan air bagi setiap warga Arab akan meningkat antara sembilan hingga 14 liter per hari. 

Jika dikalkulasi, diperlukan 4 juta sampai 5 juta meter kubik air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketiadaan akses ke fasilitas cuci tangan dasar diperburuk oleh pasokan air pipa yang tidak memadai di 10 dari 22 negara Arab. ESCWA menyebut hampir 87 juta orang di wilayah Arab juga tidak memiliki akses ke sumber air minum yang lebih baik di rumah-rumah. ESCWA mengatakan mereka yang diwajibkan untuk menyediakan air dari sumber publik setiap hari menghadapi risiko terinfeksi Covid-19 lebih besar. 

photo
Garda medis Hizbullah bersiap menyemprotkan disinfektan di Beirut, beberapa waktu lalu.- (AP)

“Diperkirakan 26 juta pengungsi dan orang-orang terlantar internal di wilayah ini juga berisiko lebih tinggi tertular Covid-19 karena kurangnya air, sanitasi dan layanan kebersihan yang memadai,” ungkap ESCWA dalam pernyataan pada Rabu (15/4), dikutip laman Anadolu Agency.  

ESCWA turut menyoroti kondisi di Jalur Gaza. Ia menyebut dari sepuluh rumah tangga di sana, hanya satu yang memiliki akses air bersih. Kehidupan warga semakin sulit karena blokade yang diterapkan Israel.  

Saat ini, negara-negara Arab masih menghadapi peningkatan kasus Covid-19. Yaman, Suriah, dan Palestina adalah beberapa negara yang dianggap rentan terhadap wabah. Suriah dan Yaman diketahui masih dibekap peperangan. Sementara Palestina berada di bawah pendudukan Israel. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih menyoroti kondisi di Jalur Gaza yang telah diblokade selama 14 tahun. n 


×