Polisi menghalau aksi unjuk rasa menentang karantina wilayah di Beijing, Ahad (27/11/2022). | AP Photo/Ng Han Guan

Internasional

Mahasiswa Cina Dipulangkan

Kebijakan pemulangan dilakukan untuk mencegah unjuk rasa berlanjut.

BEIJING — Universitas-universitas di Cina telah memulangkan para mahasiswanya. Hal itu dilakukan ketika Cina berusaha mencegah pecahnya lebih banyak demonstrasi yang dipicu kebijakan nol-Covid pemerintah. 

Sejumlah universitas menyiapkan armada bus untuk mengantar para mahasiswanya ke stasiun kereta. Mereka mengatakan, kelas dan ujian akhir akan dilaksanakan secara daring. 

"Kami akan mengatur agar para mahasiswa bersedia untuk kembali ke kampung halaman mereka," kata Beijing Forestry University di situs webnya, Selasa (29/11), seraya menambahkan bahwa para mahasiswanya telah dites negatif Covid-19. 

Tsinghua University, almamater Presiden Cina Xi Jinping, juga memulangkan para mahasiswanya ke kampung halaman mereka. "Dengan memulangkan para mahasiswa, otoritas berwenang berharap meredakan situasi," kata pakar politik Cina di University of Chicago Dali Yang.

photo
Pengunjuk rasa memegang kertas kosong dalam aksi unjuk rasa menentang karantina wilayah di Beijing, Ahad (27/11/2022). - (AP Photo/Ng Han Guan)

Menurut Dali, berpartisipasinya kalangan mahasiswa dalam unjuk rasa menentang kebijakan nol-Covid merupakan bentuk frustrasi mereka karena telah dikunci di kampus selama berbulan-bulan. "Bagi yang lain, tentu saja prospek pekerjaan telah hancur, bisnis, dan semua itu menambah frustrasi. Ada sedikit kecemasan," ujarnya. 

Sementara, Wang Dan, yakni mantan aktivis mahasiswa yang pernah berpartisipasi dalam demonstrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989 dan kini tinggal di pengasingan di Taiwan, mengatakan, pecahnya unjuk rasa baru-baru ini merupakan penanda penting bagi masa jabatan ketiga Presiden Xi Jinping. "Artinya, dia (Xi) akan menghadapi banyak tantangan dalam lima tahun ke depan," katanya.  

"Protes ini melambangkan awal era baru di Cina, di mana masyarakat sipil Cina telah memutuskan untuk tidak diam dan menghadapi tirani," ujar Wang seraya memperingatkan bahwa otoritas Cina kemungkinan akan mengambil respons keras guna menekan massa pengunjuk rasa.  

Pada Selasa, tidak ada demonstrasi digelar di kota-kota besar di Cina, termasuk Beijing dan Shanghai. Cina telah melonggarkan peraturan pembatasan anti-Covid pada Senin (28/11) guna meredam kemarahan publik. Kendati demikian, Cina masih menegaskan berlakunya kebijakan nol-Covid.  

Otoritas Cina telah memerintahkan pengujian massal di wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan infeksi Covid-19. Peraturan pembatasan sosial masih akan diterapkan di wilayah-wilayah terkait. Pada Selasa, Cina melaporkan 38.421 kasus baru Covid-19.  

Belum ada laporan tentang apakah ada penangkapan terhadap warga maupun mahasiswa yang berpartisipasi dalam unjuk rasa. Namun, beberapa pengunjuk rasa mengaku telah ditelepon oleh polisi. Mereka diminta datang ke kantor kepolisian. "Kami semua berusaha menghapus riwayat obrolan kami," ujar seorang warga yang sempat ikut dalam aksi unjuk rasa akhir pekan lalu.  

Seorang saksi yang enggan dipublikasikan identitasnya mengungkapkan, polisi Shanghai sempat melakukan pemeriksaan acak pada ponsel warga di stasiun kereta bawah tanah Peolple's Square. Belum diketahui apa tujuan dari "razia" ponsel tersebut.   

photo
Pengunjuk rasa memegang kertas kosong dalam aksi unjuk rasa menentang karantina wilayah di Beijing, Ahad (27/11/2022). - (AP Photo/Ng Han Guan)

Sementara, Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menyatakan dukungan terhadap aksi protes damai yang berlangsung di sejumlah wilayah di Cina. "Para pengunjuk rasa ini berbicara untuk diri mereka sendiri. Apa yang kami lakukan adalah memperjelas bahwa kami mendukung hak protes damai," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby saat ditanya pendapatnya tentang pecahnya unjuk rasa di Cina, Senin.  

Pemerintah Taiwan turut mengomentari munculnya aksi memprotes kebijakan nol-Covid di Cina. "Kami meminta pihak berwenang Cina untuk secara aktif menanggapi permintaan masyarakat yang masuk akal dan membiarkan masyarakat di Cina daratan kembali normal secepat mungkin," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Joanne Ou pada konferensi pers mingguan.   

Aksi unjuk rasa memprotes penerapan karantina wilayah (lockdown) terjadi di sejumlah wilayah di Cina, termasuk Beijing, Ahad (27/11) lalu. Dalam aksinya, massa yang telah frustrasi dengan kebijakan nol-Covid pemerintah pusat tak segan menyerukan Presiden Cina Xi Jinping mundur.

Kebakaran mematikan di Urumqi, Xinjiang, pekan lalu yang menewaskan 10 orang merupakan pemantik kemarahan warga Cina. Mereka menilai, upaya penyelamatan dalam insiden itu terhambat karena adanya peraturan lockdown. Kejadian tersebut mendorong warga Cina turun ke jalan untuk memprotes penerapan lockdown dan menunjukkan simpati pada masyarakat Xinjiang.

Kasman Singodimedjo, Perumus dan Pejuang NKRI

Kasman selalu menyampaikan arti penting pemuda Muslim untuk mencintai Tanah Air dan memiliki nasionalisme.

SELENGKAPNYA

Bantu Korban Bencana, DD Gelar Konser Kemanusiaan

Beberapa musisi dan selebritas Tanah Air turut hadir dalam acara tersebut.

SELENGKAPNYA

Danareksa Emban Tugas Menantang

Kebangkitan Sarinah tak hanya karena peran BUMN, tapi juga dukungan penuh masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

SELENGKAPNYA