Pekerja menggunakan alat berat saat memindahkan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada triwulan II 2022 meningkat sebesar 19,74 persen jika dibandingkan dengan periode y | ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Ekonomi

06 Aug 2022, 05:12 WIB

Kinerja Manufaktur Melambat

BPS mencatat, porsi manufaktur dalam pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan.

JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja pertumbuhan industri pengolahan pada kuartal II 2022 melambat. Tak hanya itu, porsi manufaktur dalam pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan dibandingkan periode sebelum pandemi.

Meskipun begitu, kinerja manufaktur masih menjadi sektor lapangan usaha yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. "Industri pengolahan tetap tumbuh namun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal I 2022," ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Jumat (5/8).

Industri manufaktur tercatat tumbuh 4,01 persen (yoy) pada kuartal II 2022. Angka itu melambat dibandingkan pertumbuhan manufaktur pada kuartal I 2022 yang mencapai 5,07 persen (yoy) maupun pertumbuhan pada kuartal II 2021 yang mencapai 6,58 persen (yoy).  

Margo menjelaskan, industri tekstil dan pakaian mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi yakni hingga 13,74 persen (yoy). Kinerja positif industri tekstil didorong oleh peningkatan permintaan pakaian jadi saat momen Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara itu, pertumbuhan industri makanan dan minuman justru tertahan di level 3,68 persen akibat penurunan ekspor CPO dan minyak goreng.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (@bps_statistics)

Kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan nasional masih menjadi yang tertinggi di antara lapangan usaha lainnya, yakni mencapai 17,84 persen. Kendati demikian, kontribusi tersebut terus menurun dibandingkan kontribusi manufaktur terhadap PDB yang mencapai 19,52 persen pada kuartal II 2019 atau sebelum pandemi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, industri manufaktur saat ini menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku. Selain itu, kelancaran distribusi barang juga masih terkendala akibat adanya perang antara Rusia dan Ukraina.

"Permintaan masyarakat yang belum pulih sepenuhnya membuat pelaku industi tertekan," ujar Bhima.

Bhima menyampaikan, inflasi di sisi produsen mencapai 11 persen (yoy) namun inflasi di konsumen hanya 4,9 persen (yoy). Menurut dia, hal itu menunjukkan pelaku industri menahan selisih harga produksi dengan harga jual.

"Kalau situasi ini berlanjut karena produsen khawatir harga barang naik dan omzet turun maka pengembangan industri pengolahan bisa terganggu," katanya.

Bhima mengungkapkan, kurangnya investasi ke sektor manufaktur juga mempengaruhi kondisi kontribusi industri pengolahan terhadap PDB. Dia mengatakan, investasi langsung kini lebih bergeser ke pengolahan komoditas seperti smelter nikel dibandingkan industri lain.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya 3,07 persen (yoy) pada kuartal II 2022. Lonjakan realisasi penanaman modal belum mampu mendorong pertumbuhan PMTB. Dalam paparan Kementerian Investasi/BKPM, realisasi penanaman modal pada kuartal II 2022 mampu tumbuh 35,5 persen (yoy).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by #UangKita (@kemenkeuri)

Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Paramadina Handi Risza menilai, kondisi perekonomian nasional masih rentan terhadap faktor eksternal, khususnya pengaruh lonjakan harga komoditas global. Handi menyoroti, dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,27 persen.

Sementara, dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 19,74 persen. "Artinya, hingga kuartal II 2022, perekonomian nasional masih ditopang oleh kondisi windfall akibat tingginya harga komoditas terutama pangan dan energi di pasar internasional. Sedangkan dari dalam sendiri, pengaruh Idul Fitri membuat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh signifikan," ujarnya.

Handi mengatakan, risiko terjadinya stagflasi masih menghantui sejumlah negara. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 diperkirakan bisa lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Pada saat yang sama, angka inflasi terus menunjukkan tren meningkat di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Kondisi ini makin diperparah dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global yang mengakibatkan terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang sudah mengalami depresiasi rupiah terhadap dolar AS.

"Pencapaian kuartal II 2022 belum sepenuhnya menggambarkan kinerja ekonomi nasional secara riil. Motor pertumbuhan saat ini, ekspor dan konsumsi masyarakat masih mungkin melemah pada waktu yang akan datang seiring dengan ancaman stagflasi," ujarnya. 


Setoran Dividen BUMN Rp 35,5 Triliun 

BUMN berkontribusi sebesar Rp 3.295 triliun ke negara dalam 10 tahun terakhir.

SELENGKAPNYA

Cina Tembakkan Rudal di Selat Taiwan

Taiwan sejauh ini memilih menahan diri dan tidak menginginkan adanya eskalasi.

SELENGKAPNYA

PPATK Duga 176 Filantropi Selewengkan Donasi

Filantropi Indonesia menilai dibutuhkan aturan baru yang lebih detail mengatur ihwal donasi.

SELENGKAPNYA
×