Khilda Baiti Rohmah dihadapkan pada rentetan peristiwa yang menyayat hati. Mengelola sampah Jadi permata. | Dok Pribadi

Uswah

26 Jun 2022, 09:24 WIB

Mengelola Sampah Jadi ‘Permata’

Khilda Baiti Rohmah dihadapkan pada rentetan peristiwa yang menyayat hati.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Segala niat baik akan selalu mendapatkan jalan yang terbaik dari Allah SWT dalam pelaksanaannya. Mengubah masalah menjadi peluang yang dapat memberdayakan banyak orang pun sebuah niatan yang baik yang patut disimak. 

Adalah Khilda Baiti Rohmah, seorang Muslimah asal Jawa Barat yang banyak berkecimpung dalam isu lingkungan hidup. Di tangan Khilda, dia dapat mengubah sampah dengan cara mengelolanya untuk menjadi nilai tambah dan ‘permata’ dengan melibatkan dan memberdayakan banyak masyarakat di sekelilingnya.

Pada 2006, Khilda dihadapkan pada rentetan peristiwa yang menyayat hati. Pada tahun tersebut, dia menjumpai seorang istri pengangkut sampah yang dijual ayah kandungnya sendiri kepada rentenir karena tak sanggup membayar utang akibat judi. Tak sampai di situ, Khilda juga dihadapkan pada dua kisah lainnya, yakni tentang seorang kakek dengan delapan orang anak yang harus menelan kenyataan bahwa anak-anaknya harus putus sekolah akibat pendapatannya yang hanya Rp 350 ribu per bulan. 

Selanjutnya, dia juga menemui seorang anak kecil dan nenek lansia yang tidak dapat melihat dibuang oleh wali mereka di tempat pembuangan akhir sampah. Mereka berdua akhirnya harus hidup dan tinggal di kandang sapi untuk melanjutkan hidup. Dari tiga kisah itu, Khilda pun tergerak untuk membantu mereka dengan pemberdayaan. 

“Tapi, bagaimana caranya? Waktu itu ekonomi keluarga saya sedang sulit. Maka saya berpikir, saya harus lakukan pemberdayaan, saya harus cari cara,” kata Khilda saat dihubungi Republika, Selasa (14/6).

 
Waktu itu kita buat dompet yang dipasarkan TKW dari Brunei. Alhamdulillah, laku 400 pcs, dari sanalah kami punya dana.
 
 

Tekad untuk melakukan pemberdayaan benar-benar dijalankankan Khilda. Dia melepas beasiswa ke luar negeri yang ia terima guna mencari cara dan ilmu mengenai lingkungan hidup. Dia meyakini, dengan pengelolaan sampah yang baik, setidaknya para masyarakat rentan yang menggantungkan hidup dari sampah dapat teberdayakan secara ekonomi dan juga sosial. 

ulailah Khilda berkelana dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari tahu tentang pengelolaan sampah, ia juga mengikuti komunitas lingkungan, dan juga mengambil kuliah di jurusan teknik lingkungan di Universitas Pasundan Bandung. Dari sana, ia makin banyak menggali ilmu dan menemui fakta bahwa sejatinya sampah merupakan ‘berlian’ yang telah lama dipandang sebelah mata. 

Awal melakukan pemberdayaan, Khilda berfokus pada aspek edukasi. Saat itu, dia hanya mengajarkan bagaimana cara membuat kompos dan kemudian mengajarkan cara mendaur ulang sampah. Pada suatu kesempatan dalam kuliah kerja nyata semasa kuliah, Khilda ditunjuk sebagai fasilitator di sebuah tempat pengolahan sampah di Sukabumi. Di sana ia memberdayakan warga setempat untuk membuat sebuah kerajinan yang bahan bakunya terbuat dari sampah. 

“Waktu itu kita buat dompet, misalnya, dari sampah-sampah kopi sasetan. Ternyata, ada seorang TKW dari Brunei yang baru pulang dan dia tertarik, dia coba bawa dan tawarkan kerajinan itu ke Brunei. Alhamdulillah, laku 400 pcs, dari sanalah kami punya dana dan mulai berpikir bagaimana agar terus dapat mandiri secara ekonomi dalam pemberdayaan,” ujar dia.

Produk sampah pun menjadi unggulan di wilayah tersebut. Maka, pada saat penilaian di tingkat provinsi, Kota Sukabumi didapuk menjadi salah satu peraih kemenangan dalam pengelolaan sampah. Khilda pun terus melakukan pemberdayaan dan pengelolaan sampah, dari sanalah kemudian berbagai penghargaan banyak ia raih. Pada 2009, dengan beragam proyek yang Khilda kerjakan dalam bidang pengelolaan sampah, dia mendapatkan penghargaan di Asoka Young Changemaker. 

Kompos dan kerajinan dari sampah yang menjadi salah satu produksi pengelolaan sampah pun dinilai Khilda cukup dapat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Misalnya, ketika pembuatan kerajinan dari daur ulang plastik maupun sampah-sampah plastik dan juga kompos dilangsungkan, pada satu orangnya dapat meraup peningkatan penghasilan sebesar Rp 300 ribu-Rp 350 ribu.

Mengolah sampah sebagai pengabdian

Dalam melakukan pengelolaan dan pemberdayaan dalam bidang lingkungan, tak terhitung penghargaan --baik di dalam maupun luar negeri-- yang Khilda telah terima. Menurutnya, melakukan pengelolaan sampah dan memberdayakan masyarakat adalah bentuk pengabdian dan ‘penebusan’ dosa yang ia lakukan.

Betapa tidak, Khilda teringat sebuah kisah dari seseorang yang ia kenal yang menceritakan peristiwa pahit yang dialami. Saat itu anaknya tewas tertelan tumpukan sampah akibat longsor yang terjadi di TPA Leuwi Gajah. Khilda berpikir bahwa tumpukan-tumpukan sampah itu berasal dari tiap individu yang hidup di muka bumi ini.

Hal itulah yang secara tidak langsung membuatnya berpikir bahwa tanggung jawab terhadap sampah sudah seharusnya digerakkan agar tidak menelan korban jiwa yang lebih banyak lagi. 

Untuk itu, dia berpesan kepada generasi muda yang mencintai lingkungan agar terus bermimpi dan bergerak menciptakan perubahan. “Jangan hanya menuntut perubahan itu datang, kita harus ciptakan dan bentuk perubahan itu sendiri untuk dunia yang lebih baik,” kata Khilda. 

PROFIL

Riwayat pendidikan: S-1 Teknik Lingkungan di Universitas Pasundan Bandung

Prestasi:

Young Change maker Award (YCM) 2009 bidang Air dan sanitasi Ashoka

Peraih Sampoerna pejuang 9 Bintang bid. Managemen lingkungan 2010

Peraih termuda dan favorit danamon award 2011

Wanita inspiratif pilihan Tupperware she can 2012

Srikandi merah putih bidingkungan hidup 2014

Perempuan inspiratif pilihan tabloid Nova bidang lingkungan tahun 2014

Perempuan inspiratif pilihan Nature-E 2015

Pemenang Wirausaha inovatif berbasis sosial dan lingkungan Inotek 2016


Kongres Bahasa Indonesia Pertama yang Bikin Gempar

Soerabaiasch Handelsblad menyebut Kongres Bahasa Indonesia sebagai demonstrasi radikalisme.

SELENGKAPNYA

Waspadai Kanker Darah

Lamanya prosedur pemeriksaan menghambat deteksi dini kanker.

SELENGKAPNYA

Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA
×