Musisi Eric Clapton | X02120

Geni

Eric Clapton dan Propaganda Musik Antivaksin Covid-19

Eric Clapton enggan divaksin. Neil Young meminta musiknya dihapus dari Spotify sebagai protes atas dugaan misinformasi vaksin Covid-19. 

Musisi Eric Clapton hampir “kehilangan” kariernya ketika menyuarakan keengganannya divaksinasi. Gitaris berusia 76 tahun asal Inggris ini membuka saluran Youtube Real Music Observer untuk membahas bagaimana hidupnya berubah sejak enggan mengambil vaksin Astrazeneca pada 2021. 

Sejak itu, Clapton blak-blakan tentang sikap antivaksinasinya. Dia mengeklaim, telah “ditipu” untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 lewat pesan bawah sadar dalam iklan farmasi yang berada di mana-mana.

Clapton merujuk tudingan pada teori konspirasi hipnosis pembentukan massa. Teori tersebut cukup populer pada 2021 sebagai bagian dari propaganda antivaksin. 

Menurut psikolog dari Belgia, Mattias Desmet, hipnosis pembentukan massa pada dasarnya menunjuk pada pengendalian pikiran yang telah mengambil alih masyarakat. Teori ini memungkinkan para pemimpin dengan mudah memanipulasi populasi, misalnya, menerima vaksin atau memakai masker wajah.

“Teori hipnosis pembentukan massa. Saya bisa melihatnya saat itu. Begitu saya mulai mencarinya, saya melihatnya di mana-mana. Saya melihat hal-hal kecil di Youtube yang seperti iklan bawah sadar," kata dia, dilansir di New York Times pada akhir Januari lalu. 

Clapton merasa dirinya dipensiunkan secara paksa dari panggung bersama banyak musisi lainnya ketika pandemi Covid-19 melanda. Mantan gitaris band Cream ini juga berbicara tentang usahanya bersama penulis lagu asal Inggris, Van Morrison, yang menentang persyaratan vaksin untuk bisa manggung.

“Karier saya hampir hilang. Sudah hampir 18 bulan sejak saya pensiun secara paksa,” kata dia.

Di tengah pandemi, Clapton merilis lagu "This Has Gotta Stop” sebagai cara untuk mengatasi sikapnya terhadap kebijakan Covid-19. Lagu yang diproduseri oleh Simon Climie ini muncul beberapa bulan setelah ia merilis lagu anti-lockdown berjudul "Stand And Deliver" bersama Van Morrison. 

Dilansir di laman Blabbermouth.net, Clapton juga menolak melakoni live music yang mengharuskan penonton membuktikan dirinya telah divaksinasi. Clapton membuat pernyataan menentang mandat vaksin pada Juli 2021, tak lama setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan bahwa izin vaksin diperlukan bagi pengunjung tempat-tempat hiburan di Inggris.

“Saya tidak akan tampil di panggung mana pun, di mana ada penonton yang didiskriminasi," kata dia.

Pada kesempatan berbeda, Graham Nash mengecam Robert F Kennedy Jr karena menggunakan lagunya, "Chicago”, dalam sebuah video promosi demonstrasi antivaksin di Washington DC, AS.

Legenda band CSNY ini memberi tahu penggemar bahwa penggunaan lagu yang juga dikenal dengan judul "We Can Change the World” itu tidak diizinkan. Nash telah mengambil langkah-langkah untuk penghentian tersebut. 

“Saya tidak mendukung posisi antivaksinasinya karena sejarah kemanjuran vaksin Covid-19 didokumentasikan dengan baik,” ujar Nash seperti dilansir di laman Rolling Stones.

photo
Musisi Eric Clapton enggan divaksin Covid-19 - (Invision)

Musik propaganda tentang vaksinasi Covid-19 juga tersebar di platform musik digital. Lagu-lagu yang mengeklaim bahwa Covid-19 adalah palsu dan menggambarkan vaksin sebagai racun secara aktif dipromosikan ke pengguna Spotify melalui daftar putar yang dihasilkan oleh mesin rekomendasi kontennya.

Trek yang ditemukan di Spotify secara eksplisit mendorong orang untuk tidak divaksinasi. Tembang tersebut juga secara tersirat menuding orang-orang yang menjalani vaksinasi Covid-19 adalah budak, domba, dan korban setan. Ada juga yang menyerukan pemberontakan dan mendesak pendengar agar berjuang untuk hidupnya.

“Mereka membodohi seluruh dunia dengan tes PCR. Polisi mengira sedang berpatroli. Tidak bisakah kamu melihat apa yang sedang terjadi?” bunyi salah satu lirik lagu.

Pada akhir pekan lalu, Spotify menghapus beberapa lagu yang dianggap melanggar aturan. Spotify melarang materi yang mempromosikan  konten berbahaya, palsu, atau menipu tentang Covid-19. Sebab, hal tersebut dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Sebelum dihapus, lagu-lagu tersebut dapat dengan mudah ditemukan dengan menggunakan kata kunci di fitur pencarian Spotify. Seorang pengguna yang memutar lagu yang mengandung lirik antivaksin diberi playlist yang dipersonalisasi. Playlist tersebut mengarahkan mereka ke lagu yang lebih ekstrem. Dari 50 lagu dalam playlist itu, 19 menyertakan referensi eksplisit tentang antivaksin dan misinformasi Covid-19, termasuk klaim bahwa vaksin sedang digunakan untuk orang mikrocip.

Di antara musisi yang kontennya direkomendasikan kepada pengguna adalah Edward Freeman, seorang rapperyang dikenal sebagai Remeece. Dia menjadi berita utama di Inggris setelah berkeliling sekolah dengan menyanyikan lagu antivaksin berjudul “Don't Tek Di Vaccine” kepada siswa di luar gerbang sekolah.  Lirik lagu tersebut di antaranya menggambarkan vaksin sebagai racun.

Spotify pertama kali mengetahui konten rapper tersebut dari orang tua salah satu siswa yang sekolahnya didatangi oleh Remeece. Temuan itu memicu perdebatan tentang penanganan misinformasi raksasa streaming tersebut. 

Penyanyi Neil Young meminta agar musiknya dihapus dari Spotify sebagai protes atas dugaan misinformasi Covid-19 di platform tersebut. Beberapa artis termasuk Joni Mitchell juga menuntut konten mereka dihapus dari Spotify sebagai protes atas dugaan peran Joe Rogan dalam menyebarkan informasi keliru tentang Covid-19 pada podcast-nya yang tayang di Spotify.

Spotify menghapus beberapa episode dan menerbitkan aturan baru sebagai respons dari kritik tersebut. Spotify memberitahu pengguna bahwa mereka harus menghindari hoaks Covid-19 dan menyebarkan informasi antivaksin yang salah. 

Menurut Kepala Eksekutif Center for Countering Digital Hate, Imran Ahmed, materi yang diidentifikasi mengandung informasi yang salah, terbukti salah. Materi tersebut mendorong pendengar untuk menolak vaksinasi yang sebenarnya dapat menyelamatkan nyawa.

“Algoritma Spotify secara proaktif menghubungkan bagian-bagian berbeda dari informasi yang salah yang berbahaya dan mengemasnya ke pendengar,” uja Ahmed dilansir di laman The Guardian pada Ahad (13/2).

Spotify sebelumnya telah menghapus jenis konten berbahaya dari platformnya yang dianggap melanggar kebijakan. Dilansir di laman Sky News, Spotify pada Desember 202 menghapus hampir 150 jam konten yang dinilai melanggar kebijakan konten kebencian, termasuk materi antisemit, rasis, dan supremasi kulit putih yang ditemukan di podcast.

Menurut salah seorang juru bicara Spotify, platform tersebut melarang konten di platform yang mempromosikan konten palsu berbahaya atau menipu berbahaya tentang Covid-19 yang dapat menyebabkan kerugian offline dan/atau menimbulkan ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat. “Ketika konten yang melanggar standar ini teridentifikasi, tindakan penegakan yang sesuai akan diambil,” ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Eric Clapton (ericclapton)

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat