Cover Republika yang terbit pada 10 November 2017 dan telah dilelang sebagai NFT. | Dok Republika

Inovasi

23 Jan 2022, 09:21 WIB

Gebrakan Awal Penanda Komitmen 

Republika akan terus fokus mengekplorasi peluang di ekosistem NFT dan metaverse. 

Sejak booming pada pertengahan tahun lalu, kini industri non fungible token (NFT) terus menjadi perhatian. Pada Selasa (18/1), salah satu pasar populer untuk NFT, OpenSea, telah mencatat volume perdagangan ethereum bulanan tertinggi sepanjang masa. 

Menurut data dari Dune Analytics, perdagangan di platform Open Sea pada bulan ini telah melewati 3,5 miliar dolar Aamerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 50,2 triliun. 

Dengan dua pekan tersisa sebelum pergantian bulan, volume perdagangan Open Sea juga tercatat telah melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,42 miliar dolar AS atau Rp 49 triliun pada Agustus tahun lalu. 

Di Tanah Air, geliat tren NFT pun memasuki babak baru. Kesuksesan akun Ghozali Everyday di Open Sea viral karena tingginya penjualan NFT swafoto miliknya yang mencapai miliaran rupiah. Pria bernama lengkap Sultan Gustaf AL Ghozali ini pun sukses meraup cuan dari konsistensinya menjual swafoto yang ia ambil dalam kurun waktu lima tahun terakhir. 

photo
Tampilan halaman di Republika edisi 10 November 2017 yang kini telah di-minting menjadi NFT. - (Dok Republika)

Besarnya potensi industri NFT sudah sejak awal 2021 ditangkap Republika. Hadirnya teknologi blockchain yang berada di belakang industri NFT, memungkinkan Republika memberi napas baru bagi berbagai aset karya yang selama 29 tahun terakhir ini telah dilahirkan. 

Dengan me-minting berbagai aset karya dari berbagai momen penting selama ini, Republika memberikan kesempatan bagi para kolektor aset digital untuk ikut memiliki karya tersebut di jagat blockchain. Hal ini pun sekaligus memberikan semangat baru bagi konsep media konvensional, seperti Harian Republika, untuk dapat terus melahirkan karya yang kreatif untuk makin meriahkan industri NFT ke depan. 

Pemimpin Redaksi Republika, Irfan Junaidi menjelaskan, Republika terus bersungguh-sungguh mengeksplorasi dunia NFT. "Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk mempersiapkan berkembangnya jagat metaverse di masa yang akan datang," ujarnya. 

Konsistensi ini, Irfan melanjutkan, juga diharapkan untuk dapat menjadi langkah awal untuk menancapkan terus bendera Republika di dunia baru, metaverse. Apalagi, saat ini dunia virtual tersebut mulai dikenal sebagian masyarakat Indonesia. "Mudah-mudahan dengan lebih cepat memulai, nantinya Republika bisa menjadi punya posisi yang kuat di metaverse," katanya. 

photo
Tampilan lipsus Hari pahlawan Republika yang terbit pada 10 November 2017 dan kini telah dijual dalam bentuk NFT - (Dok Republika)

Untuk mengawali sepak terjang Republika di tahun ini, pada Selasa (18/1), Republika merilis rangkaian koleksi NFT dari edisi Hari Pahlawan yang terbit pada 10 November 2017. Ada 10 seri NFT yang ditawarkan dalam bentuk aset digital kepada para kolektor. 

 

 

Republika terus bersungguh-sungguh mengeksplorasi dunia NFT. 

 

 

 

Hadir dengan tema nuansa jaman perjuangan, kesemua NFT yang ditawarkan ini, hadir dalam konsep koran yang kental dengan sentuhan suasana nostalgia. Bagian grafis Republik, Ali Imron menjelaskan, desain khusus ini mengadaptasi tampilan koran-koran lawas yang pernah terbit dan beredar di Indonesia. 

Di antaranya, Koran Indonesia Raja, Pelita, Medan Prijaji, dan Kedaulatan Rakjat. Namun dgn konten berita dan foto aktual saat ini. "Republika mencoba melakukan pendekatan visual sepersis mungkin dengan koran-koran lawas tersebut. Beberapa perbedaan yang mendasar dengan desain koran era sekarang, justru menjadi acuan untuk meniru tampilan koran-koran tersebut," Imron menjelaskan. 

Menurutnya, ciri utama tampilan koran lawas antara lain, tata letak setiap berita dalam satu halaman yang berundak-undak. Pembagian ruang halaman pun dibuat tidak beraturan. 

Hal ini terbilang menjadi salah satu pembeda utama dengan desain koran era sekarang. Sementara, untuk pemakaian huruf untuk bodyteks serta untuk judul beritanya, biasanya dibuat lebih terbatas. 

Imron menjelaskan, upaya khusus pun dibuat untuk membuat susunan huruf setelah dicetak, sengaja dibuat kurang rapih. Hal ini, karena proses pracetak dan cetak saat itu memang belum sebaik saat ini. 

photo
Tampilan Edisi Hari Pahlawan Republika yang terbit pada 10 November 2017 dan telah di-minting menjadi NFT. - (Dok Republika)

Kesepuluh seri NFT yang diberi judul 'Legendary Heroes' ini, ditawarkan mulai Selasa (18/1) seharga satu ethereum atau sekitar Rp 45,4 juta per NFT. Masa penawaran akan dilakukan selama satu bulan ke depan. 

Tahun ini, Republika bertekad akan terus memfokuskan diri pada pengembangan ekosistem NFT dan metaverse. Hal ini, tak lepas dari upaya untuk tetap dapat relevan dengan perkembangan zaman yang makin didominasi teknologi digital. 

 

 
Desain khusus ini mengadaptasi tampilan koran-koran lawas yang pernah terbit dan beredar di Indonesia. 
ALI IMRON, Bagian Grafis Republika
 
 

 


×