Awan hitam menyelimuti langit Jakarta, Kamis (4/11/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi curah hujan yang tinggi dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis di sejumlah daerah akibat adan | ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz

Tajuk

05 Nov 2021, 03:45 WIB

Antisipasi La Nina

Kementan harus memantau dengan cermat lahan-lahan yang berpotensi rusak akibat bencana banjir.

Cuaca ekstrem sedang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Hujan deras disertai angin kencang telah menimbulkan kerusakan di berbagai daerah. Banjir menyebabkan warga harus mengungsi.

Sesungguhnya cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir ini sudah diperkirakan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) awal pekan ini kembali mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di hampir semua provinsi dalam sepekan ke depan. Cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi, yakni hujan disertai petir dan angin kencang.

Selain menggenangi rumah-rumah warga, bencana banjir sering kali juga merendam lahan-lahan pertanian. Lahan pertanian yang rusak menyebabkan produksi pertanian terancam. Kita memang belum mengetahui berapa luas lahan yang rusak akibat banjir dalam beberapa hari terakhir ini. Di samping itu, belum diketahui pula berapa potensi produksi pertanian yang terganggu akibat bencana banjir ini.

Kita tentu berharap agar bencana banjir yang terjadi saat ini tidak meluas. Tidak banyak merusak lahan pertanian dan juga tidak mengganggu panen petani. Sebab, ketika produksi pertanian anjlok akibat lahan pertanian tersapu bencana, masyarakat luas yang akan menanggungnya. Karena di pasar akan terjadi kekurangan pasokan sehingga menyebabkan harga komoditas pertanian seperti beras melambung tinggi.

 
Kita tentu berharap agar bencana banjir yang terjadi saat ini tidak meluas. 
 
 

Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah melakukan antisipasi dengan sangat matang terhadap potensi penurunan produksi pertanian akibat bencana banjir.  Bisa saja bencana banjir memang hanya terjadi sesaat sehingga tidak memengaruhi produksi pertanian nasional. Namun, bukan tidak mungkin cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana banjir terjadi berkepanjangan.

Antisipasi kemungkinan terburuk ini yang harus dilakukan pemerintah. Tidak boleh terlambat mengantisipasi. Sebab, bila antisipasi terlambat, rakyat yang akan menjadi korbannya. Jangan sampai harga produk pertanian melonjak di pasar karena produksinya yang turun akibar banjir, pemerintah baru mencari jalan keluar untuk mengatasinya.

Sejak saat ini pemerintah sudah harus memiliki opsi terbaik bila pada akhirnya bencana banjir menyebabkan produksi pertanian turun. Pemerintah harus memilah-milah produksi pertanian apa saja yang akan terancam produksinya. Beras menjadi salah satu yang harus menjadi perhatian sangat serius pemerintah. Sebagai bahan makanan pokok, jangan sampai produksi beras nasional terganggu, tapi pemerintah terlambat memenuhi kekurangan yang terjadi.

Kita tidak ingin masyarakat mengeluhkan harga beras melonjak akibat produksi padi merosot dipengaruhi bencana banjir. Ketika harga beras melonjak, hampir seluruh masyarakat akan menanggungnya karena jarang ditemukan masyarakat Indonesia tidak mengonsumsi nasi.

Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi salah satu faktor sentral dalam persoalan produksi padi di dalam negeri dan produksi komoditas pertanian lainnya. Sejauh ini, Kementan menyatakan telah menyiapkan skenario mengantisipasi badai La Nina untuk sektor pertanian, sebagaimana diprediksi oleh BMKG.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, Kamis (4/11), menegaskan, dalam situasi dan kondisi apa pun sektor pertanian harus terus berjalan sehingga tidak boleh terganggu sekalipun oleh faktor cuaca. Sebab, pertanian merupakan sektor yang berkaitan dengan pemenuhan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia.

 
Ketika harga beras melonjak, hampir seluruh masyarakat akan menanggungnya karena jarang ditemukan masyarakat Indonesia tidak mengonsumsi nasi.
 
 

Kementan harus memantau dengan cermat lahan-lahan yang berpotensi rusak akibat bencana banjir. Setelah itu, Kementan menghitung berapa potensi produksi pertanian yang gagal panen. Dari perhitungan seperti itu akan diketahui, apakah produksi komoditas pertanian seperti beras masih cukup memenuhi kebutuhan nasional. 

Kalau banjir menyebabkan produksi pertanian turun, apakah Kementan dapat mengantisipasinya dengan meningkatkan produksi pertanian di lahan-lahan yang tidak terendam air bah di wilayah lain? Data produksi pertanian Kementan ini menjadi kunci untuk mengetahui, apakah kebutuhan komoditas pertanian di dalam negeri sudah tercukupi.

Kalau ternyata diketahui masih kurang, Kementan bisa melakukan koordinasi dengan kementerian lain untuk menutupi kekurangan tersebut. Impor mungkin menjadi salah satu opsi. Namun, impor komoditas pertanian ini harus dipertimbangkan dengan matang dan jangan sampai merugikan petani. 


×