Petugas melakukan disinfeksi lorong kelas usai digunakan pembelajaran tatap muka di SMA Darul Hikam, Bandung, Jawa Barat, Senin (25/10/2021). | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
28 Oct 2021, 03:45 WIB

Tes PCR Sekolah PTM Diperluas

Tes PCR terhadap siswa dan guru sepekan terakhir disebut memicu kenaikan kasus Covid-19 di Kota Bandung.

BANDUNG -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat berencana memperluas pengetesan polymerase chain reaction (PCR) terhadap siswa dan guru di sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Saat ini, pengetesan PCR dilakukan 10 persen atau 212 sekolah dari 2.120 total sekolah yang melaksanakan PTM.

Dinas Kesehatan Kota Bandung melansir siswa dan guru di 157 sekolah telah dilakukan tes PCR dari target 212 sekolah. Sampel yang sudah diperiksa sebanyak 5.993 dengan hasil yang sudah keluar sebanyak 3.530 sampel. Dari sampel yang sudah keluar, 117 orang dinyatakan positif Covid-19.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mendorong agar seluruh sekolah yang menggelar PTM terbatas dilakukan tes PCR. Kebijakan tersebut untuk mendorong aktivitas PTM di sekolah yang bukan sampel dijamin bebas Covid-19.

"Ini ada peluang secara keseluruhan tidak hanya sekolah yang dijadikan sampel, kalau saya ingin menyeluruh saja. Karena siapa yang memberikan jaminan yang tidak jadi sampel itu aman, makanya kita harus dorong," ujarnya di Balai Kota Bandung, Rabu (27/10).

Terkait

photo
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di ruang kelas SDN 065 Cihampelas yang ditutup sementara di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Senin (25/10). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Ia menuturkan, bagi sekolah yang didapati siswa dan guru terpapar Covid-19 melebihi 5 persen harus menghentikan terlebih dahulu PTM terbatas. Sementara ini, ada 22 sekolah yang dihentikan PTM-nya. "Kalau ini bagian dari konsekuensi dan kita tidak akan berhenti surveilans karena harus dikejar keberadaan kesehatan tenaga pengajar, utama juga anak-anak siswa didik," ungkapnya.

Menurut dia, siswa dan guru yang terpapar Covid-19 dikategorikan terpapar dengan kondisi ringan. Ema meminta mereka tetap ditangani dengan serius. "Ini semua sudah bergerak dan puskesmas sudah melakukan proses lebih lanjut," katanya. Puskesmas juga diwajibkan melacak kontak erat.

Kepala Dinkes Kota Bandung, dr Ahyani Raksanagara mengatakan, tes PCR terhadap siswa dan guru dalam sepekan terakhir memicu kenaikan kasus Covid-19 di Kota Bandung. "Udah naik, naiknya karena yang surveilans itu saja, survei anak sekolah. Kalau data lapangan (Selasa) kemarin nol, karena ada surveilans aktif saja," ujar dia, kemarin. Kasus konfirmasi aktif di Kota Bandung hingga Selasa (26/10), ada 144 orang.

Sementara, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat ada 14 orang warga sekolah yang dinyatakan reaktif Covid-19, seiring dengan berlangsungnya pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di tengah pandemi Covid-19. Belasan orang tersebut diketahui reaktif usai dilakukan tes swab antigen secara acak.

photo
Sejumlah siswa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Pasar Baru 1, Kota Tangerang, Banten, Senin (25/10/2021). - (ANTARA FOTO/Fauzan)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menjelaskan, pengambilan sampel dilakukan terhadap 249 sekolah yang ada di Tangsel. Ratusan sekolah itu meliputi dua sekolah jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD)/ sederajat, 21 jenjang taman kanak-kanak (TK)/ sederajat, dan 141 jenjang sekolah dasar (SD)/ sederajat. Juga 49 jenjang sekolah menengah pertama (SMP)/ sederajat, dan 33 jenjang sekolah menengah atas (SMA)/ sederajat, serta tiga pondok pesantren.

“Sasarannya adalah guru, murid, dan yang lainnya. Rinciannya 2.447 guru, 3.215 murid, dan 149 orang kategori yang lainnya dengan total sampel 5.811,” kata Allin kepada wartawan, Rabu (27/10).

Tes tersebut dilakukan sekitar akhir September 2021 atau dua pekan setelah dimulai PTM di Tangsel pada 6 September 2021. "Yang 14 itu (reaktif) kami mengadakan tes waktu awal-awal mulai PTM, dua minggu setelah PTM berlangsung, sampai minggu lalu. Itu kan laporan minggu lalu," jelasnya. 

Namun, Allin mengatakan, belasan orang tersebut sudah dinyatakan negatif Covid-19 setelah dilakukan tes polymerase chain reaction (PCR). Allin menyebut belum ada hasil positif Covid-19 dari tes PCR hingga saat.

"Total 14 orang dari mulai tes dilaksanakan, sudah dicek ulang dengan PCR dan hasilnya negatif,” terangnya. Yang PCR belum (ada kasus positif)," terangnya. 

photo
Seorang guru mengukur suhu tubuh siswa sebelum memasuki lingkungan sekolah saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Pasar Baru 1, Kota Tangerang, Banten, Senin (25/10/2021). - (ANTARA FOTO/Fauzan)

Atas temuan tersebut, Allin menuturkan, pihaknya bersama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di setiap sekolah melakukan sejumlah upaya untuk menekan penyebaran Covid-19. Dia mengimbau warga sekolah agar lebih ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. 

Kasus Covid-19 juga ditemukan di sekolah yang melaksanakan (PTM terbatas, seperti di SMK Negeri 1 Sedayu, Kabupaten Bantul. Namun, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menegaskan, kasus yang ditemukan tersebut tidak berasal dari penularan yang terjadi di lingkungan sekolah. "Bukan dari sekolah, (virus) memang dari luar terbawa (ke sekolah)," kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (27/10).

Sultan menyebut, kasus positif Covid-19 yang ditemukan di sekolah dibawa dari luar. Pelajar yang sebelumnya sudah tertular dari lingkungan rumah dan merupakan orang tanpa gejala (OTG).  

Walaupun begitu, Sultan menegaskan, agar kasus yang sudah ditemukan di sekolah cepat ditangani. Sehingga, penyebarannya tidak meluas dan tidak menjadi klaster baru penularan Covid-19. "Yang penting itu cepat ditangani, tidak jadi klaster, yang namanya anak terus bermain ya repot," ujar Sultan.

photo
Guru mengikuti tes Swab antigen di SD Negeri Samirono, Yogyakarta, Kamis (21/10). Tes Swab antigen untuk guru dan murid ini untuk mengetahui kesehatan siswa dan guru saat uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Tes ini diadakan acak di beberapa sekolah di Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Jika ditemukan kasus di sekolah, Sultan meminta agar diambil langkah cepat untuk menghentikan pelaksanaan PTM. Sementara, bagi pelajar maupun tenaga pendidik yang ditemukan positif, diminta untuk segera menjalankan isolasi. "Menurut pendapat saya, itu perlu dilihat OTG itu (tertularnya) dari luar atau memang dari sekolah. Kalau dari sekolah ya ditutup, kalau dari luar ya isolasi, tapi kan rata-rata (penularannya) ya dari luar," jelasnya.

Dalam menunjang pelaksanaan PTM di DIY, vaksinasi terhadap pelajar dan tenaga pendidik juga sudah dilakukan. Menurutnya, capaian vaksinasi pelajar sudah 90 persen untuk dosis pertama. "90 persen peserta didik di DIY telah memperoleh vaksin dosis pertama dan sebanyak 54 persen telah memperoleh vaksin dosis kedua," tambahnya.

Hingga saat ini, sekitar 360 sekolah di tingkat SMA/SMK yang sudah melaksanakan tatap muka. Di tingkat SMP, tercatat sekitar 500 sekolah yang menjalankan PTM. Sementara, di tingkat SD belum seluruhnya diizinkan untuk melaksanakan tatap muka. "Hanya beberapa SD yang telah ditunjuk yang diperbolehkan untuk melakukan uji coba PTM secara terbatas," ujar Sultan.

Terkait dengan vaksinasi guru, Sultan menuturkan, sudah mencapai 95 persen baik itu dosis pertama maupun dosis kedua. Vaksinasi ini terus ditingkatkan agar dapat diselesaikan pada Oktober 2021 ini, termasuk penyuntikan dosis kedua.


×