Tenaga kesehatan saat menyuntikan vaksin Sinovac kepada anak-anak di Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (6/7/2021). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menargetkan 1,3 juta anak usia 12 hingga 17 tahun di Jakarta untuk disuntik vaksin Covid- | Republika/Putra M. Akbar
27 Oct 2021, 03:45 WIB

Anak 5-11 Tahun Divaksin pada 2022

Pemberian vaksinasi untuk anak-anak usia 5-11 tahun akan dilaksanakan pada awal 2022.

JAKARTA -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan pemberian vaksinasi untuk anak-anak usia 5-11 tahun akan dilaksanakan pada awal tahun depan. Pemerintah masih menunggu hasil uji klinis dari tiga produsen vaksin, yakni Sinovac, Sinofarm, dan Pfizer.

"Diharapkan sampai akhir tahun bisa keluar ketiganya untuk emergency use authorization," ujar Menkes dalam konferensi pers virtual di YouTube Perekonomian, Selasa (26/10).

Menkes memaparkan, pemerintah akan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan ketiga vaksin tersebut bisa secepat mungkin digunakan di Tanah Air. Vaksinasi akan dilakukan setelah negara asal produsen menggunakan lebih dulu vaksinasi anak tersebut.  "Rencanaya kalau sudah keluar hasil uji klinisnya, bisa mulai digunakan di awal tahun depan," kata Menkes.

Budi juga mengatakan, vaksinasi booster untuk masyarakat berisiko tinggi dan yang mengalami defisiensi imunitas juga rencananya akan diberikan pada tahun depan. Saat ini, dosis booster sedang dikaji oleh lembaga penelitian dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) untuk dilihat kombinasi vaksin mana yang paling baik.

Terkait

photo
Seorang anak disuntik vaksin COVID-19 di Pattimura Park, Kota Ambon, Maluku, Kamis (2/9/2021). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Ambon, hingga Agustus 2021 realisasi vaksinasi bagi anak usia 12-17 tahun mencapai 20 persen, yakni 7.729 dari target 33.322 anak. - (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

"Apakah Sinovac- Sinovac dengan booster Sinovac, Sinovac- Sinovac dengan Astrazeneca atau Sinovac- Sinovac dengan Pfizer, demikian juga kombinasi Astrazeneca dan Pfizer. Diharapkan akhir tahun bisa selesai sehingga bisa jadi basis kita ambil kebijakan ke depan," ujar Menkes dalam konferensi pers virtual di Youtube Perekonomian RI, Selasa (26/10).

Menurut Menkes, sesuai dengan saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan yang sudah dilaksanakan oleh tujuh negara, suntik booster akan diberikan ke kalangan masyarakat berisiko tinggi dan yang juga mengalami defisiensi imunitas. "Masyarakat berisiko tinggi, nakes dan lansia, nakes sudah jalan. Sedangkan masyarakat yang masuk terganggu imunitasnya yaitu masyarakat terkena HIV dan kanker," jelas Menkes.

Berdasarkan data pemerintah di https://vaksin.kemkes.go.id/#/vaccines, hingga Selasa (26/10) pukul 18.00 WIB, jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dosis kedua mencapai 69.456.890 orang atau 33,35 persen dari target vaksinasi. Sementara, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama yakni sebanyak 114.843.810 orang atau 55,14 persen.

photo
Anak remaja berusia 12 tahun lebih mengikuti vaksinasi Covid-19 di pusat perbelanjaan, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (31/7/2021). Kementerian Kesehatan menargetkan sebanyak 26.705.490 anak remaja berusia 12-17 tahun akan mendapatkan vaksin Covid-19 pada Desember 2021. - (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra)

Pemerintah menetapkan sasaran vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity) yaitu 208.265.720 orang. Sasaran vaksinasi itu terdiri atas tenaga kesehatan, lanjut usia petugas publik, masyarakat rentan, dan masyarakat umum termasuk anak-anak usia 12-17 tahun.

Saat ini diketahui jumlah pasien pneumonia anak di RSUD di DKI Jakarta membludak. Semua kasus pneumonia itu untuk sementara akan dicurigai sebagai Covid-19 sampai hasil tes PCR menyatakan negatif. Banyaknya kasus pneumonia anak dicurigai karena melonggarnya protokol kesehatan di saat masyarakat sudah mulai berlibur bersama keluarga mereka.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Program Vaksinasi Covid-19, dr Siti Nadia Tarmizi menambahkan, pihaknya berupaya terus melakukan edukasi masif dan berbagai kebijakan untuk memperkuat prokes, dan juga pembatasan pergerakan masyarakat.

"Untuk tenaga kesehatan, sampai saat ini masih cukup dan kita cegah anak anak untuk tidak jatuh ke kondisi dengan gejala berat," kata dr Siti Nadia melalui pesan singkat.

Ia memastikan, anak-anak akan segera divaksinasi secepat mungkin setelah uji klinis selesai. "Ini yang pasti akan menentukan jenis vaksin yang digunakan. Kalau tenaga vaksinator kita cukup," tambahnya.


×