Presiden AS Joe Biden saat tiba di Gedung Putih beberapa waktu lalu. | AP/Andrew Harnik
23 Oct 2021, 03:45 WIB

Isu Taiwan Memercik di Antara AS dan Cina

Pernyataan Biden tidak menunjukkan perubahan kebijakan AS

BALTIMORE – Isu tentang Taiwan kembali memercik di antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Percikan dimulai dari komentar Presiden AS Joe Biden pada Kamis (21/10). Namun, Gedung Putih menegaskan tidak ada perubahan kebijakan AS dalam isu Taiwan.

Yes, kita memiliki komitmen untuk itu,” kata Biden di forum yang digelar CNN, ketika dia ditanya apakah AS akan mempertahankan Taiwan jika diserang. Belakangan, Taiwan kerap mengeluhkan tekanan militer dan politis dari Cina.  

Pernyataan Biden ini dinilai mengejutkan. Selama ini, AS menerapkan kebijakan Taiwan Relations Act. Kebijakan ini hanya mengizinkan AS membantu Taiwan menyediakan perlengkapan untuk mempertahankan diri.

Menyusul pernyataan Biden, Gedung Putih pun menegaskan bahwa kebijakan AS tidak  berubah. Menurut mereka, pernyataan Biden tidak menunjukkan perubahan kebijakan.

Terkait

“Hubungan pertahanan AS dengan Taiwan dipandu oleh kebijakan Taiwan Relations Act,” kata juru bicara Gedung Putih menegaskan, Kamis. “Kami akan menunjung komitmen berdasarkan akta pertahanan itu, kami akan terus mendukung Taiwan untuk mempertahankan diri, dan kami akan terus menentang setiap perubahan sepihak pada status quo.”

“Presiden (Biden) tidak mengumumkan perubahan apapun pada kebijakan kami dan tidak ada perubahan pada kebijakan kami,” kata Gedung Putih menambahkan.

Taiwan memiliki perjalanan sejarah berbeda dari Cina daratan. Wilayah Taiwan sempat berada di bawah penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Jalinan sejarah ini beririsan dengan perang saudara di Cina daratan. Taiwan memisahkan diri dari Cina pada 1979.

Dalam perkembangan selanjutnya, status Taiwan menjadi perdebatan. Taiwan mengeklaim sebagai negara berdaulat. Sementara Cina menilai, Taiwan adalah salah satu provinsinya yang membangkang.

Hingga kini, banyak negara dunia menerapkan kebijakan “One China policy” yaitu mengakui satu Cina, sementara pada saat yang sama tetap berhubungan dengan Taiwan. AS memutus hubungan resmi dengan Taiwan pada 1979 untuk mengakui Cina. Namun, hubungan dengan Taiwan dituangkan dalam Taiwan Relations Act.

photo
Foto yang dilansir Kantor Berita Militer Taiwan menunjukkan latihan tempur militer Taiwan di Pingtung, Taiwan, Kamis (16/9/2021). - (AP/Military News Agency)

Sementara itu Juru Bicara Kepresidenan Taiwan Chang Tun-han mengatakan, AS telah menunjukkan dukungannya untuk Taiwan dengan cara konkret. Ia juga mengatakan, rakyat Taiwan yang berjumlah 23 juta jiwa tidak akan menyerah pada tekanan.   

“Taiwan akan menunjukkan tekad kuat kami untuk mempertahankan diri dan terus bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki nilai yang sama untuk memberikan sumbangan positif pada perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik,” kata Chang.

Tak ada kompromi

Menanggapi pernyataan Biden, Cina menyatakan, tidak ada ruang bagi kompromi jika menyangkut isu kedaulatan Taiwan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin menegaskan kembali klaim lama Cina bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya.

“Jika terkait isu yang berkaitan dengan kedaulatan dan integrtas teritorial Cina, tak ada ruang untuk berkompromi atau membuat kekecualian, dan tidak seorang pun boleh meremehkan kekuatan tekad, keinginan kokoh, dan kemampuan rakyat Cina untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan intergitas teritorialnya,” kata Wang, Jumat (22/10).

“Taiwan adalah bagian dari teritorial Cina. Isu Taiwan sepenuhnya masalah dalam negeri Cina dan tidak boleh ada intervensi asing,” kata Wang menambahkan.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Cina meningkatkan tekanan militer, diplomatik, dan ekonomi terhadap Taiwan. Pada Hari Nasional Taiwan 10 Oktober lalu, 149 pesawat Cina terbang dalam formasi serangan di baratdaya Taiwan. Aksi ini membuat Taiwan menggiring formasi itu dan mengaktifkan sistem pertahanan rudalnya.

Sumber : Reuters/Associated Press


×