Ilustrasi saham BRI | Youtube
07 Oct 2021, 00:27 WIB

Investor Asing Beli Rights Issue BRI

BRI siap masuk ke segmen bisnis yang lebih kecil dari mikro atau go smaller,

JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengantongi dana sebesar 2 miliar dolar AS atau sekira Rp 29 triliun dari investor asing atau foreign buy setelah menggelar rights issue dengan nominal terbesar di Asia Tenggara. Total nilai rights issue emiten berkode saham BBRI itu adalah Rp 95,9 triliun dan 70 persennya diborong investor asing.

Di kawasan Asia tercatat nilai transaksi rights issue BRI menjadi yang terbesar. Rights issue BRI hanya kalah dari Bank of China dengan nilai mencapai Rp 124,6 triliun dan Reliance sebesar Rp 102 triliun. Aksi rights issue BRI juga masuk tujuh besar di seluruh dunia sejak 2009.

BRI menawarkan 28,213 miliar saham baru Seri B atas nama senilai Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) I. Rights issue BRI telah diperdagangkan sejak 11 September 2021 lalu.

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, total dana Rp 95,9 triliun dengan perincian Rp 55 triliun berupa noncash karena berbentuk inbreng saham pemerintah di PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Sementara, Rp 41 triliun merupakan dana tunai dari investor.

Terkait

“Lebih menggembirakan lagi, lebih dari 70 persen dari total Rp 41 triliun itu atau sekitar 2 miliar dolar AS merupakan dana dari investor asing yang akan memperkuat devisa kita juga. Rights issue BRI ini pun mengalami oversubscribe sampai 1,53 persen dari total 28,2 miliar lembar saham yang diterbitkan,” ujar Sunarso di Jakarta, Rabu (6/10).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BANK BRI (bankbri_id)

 

Sunarso mengatakan, kunci sukses rights issue tersebut adalah kejelasan visi dan strategi BRI ke depan dengan value proposition dari rights issue, yaitu penguatan ekosistem usaha ultramikro nasional bersama PNM dan Pegadaian melalui Holding BUMN Ultramikro (UMi) sebagai sumber pertumbuhan baru bagi perseroan.

Sunarso menegaskan, hal tersebut mencerminkan komitmen BRI dalam memperkuat core competency pada segmen mikro dan UKM secara umum. Dengan menyasar segmen ultramikro, BRI siap masuk ke segmen bisnis yang lebih kecil dari mikro atau go smaller, tetapi dengan potensi ekonomi yang sangat besar.

Selain itu, Sunarso menambahkan, keberhasilan aksi korporasi BRI tak terlepas dari komitmen tinggi dari para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Indonesia dan regulator untuk mendukung terbentuknya Holding BUMN UMi. “Ini merupakan spirit sebenarnya struktur ataupun pilar ekonomi Indonesia memang masih mayoritas didukung oleh segmen yang kecil-kecil, terutama UMKM dan terutama lagi ultramikro yang masih banyak yang harus kita layani,” kata Sunarso.

Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebut, pada 2019 dari 65 juta usaha mikro atau 98,67 persen dari total usaha di Indonesia, terdapat sekitar 58 juta usaha ultramikro. Namun, hanya sekitar 20 juta usaha ultramikro yang telah memperoleh akses pendanaan dari sumber formal, seperti bank, BPR, perusahaan gadai, koperasi, ataupun lembaga keuangan lainnya.

Bisnis mikro dan UMi mampu menyerap sebanyak 109,84 juta tenaga kerja di Tanah Air atau menyedot 89,04 persen dari total pekerja secara nasional dengan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 37,35 persen. Ke depan, BRI optimistis dengan bergabungnya Pegadaian dan PNM, porsi kredit mikro BRI sebesar 50 persen dari total portofolio yang saat ini masih berada angka 40 persen.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BANK BRI (bankbri_id)

“Dengan bergabungnya dua saudara baru ini (Pegadaian dan PNM), yang spesialisasinya ultramikro, porsi mikro dapat mencapai 50 persen. Sedangkan, porsi UMKM sekarang 80 persen, kita mau naikkan menjadi 85 persen,” ujar Sunarso.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, aksi rights issue BRI merupakan bukti Indonesia memiliki pasar yang besar. "Di kala market sedang turbulence, kita bisa membuat market ini lebih bergairah. Ini membuktikan kita punya market yang sangat besar sehingga pertumbuhan ekonomi akan terus berlangsung," ujar Erick.

Kementerian BUMN mendorong agar BEI menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, ia juga mendorong korporasi BUMN untuk go public sehingga bisa menopang bursa.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, kesuksesan rights issue BRI ini tak lepas dari upaya dan kerja keras bank pelat merah itu, terutama dalam menjaga kinerja dan fundamental perusahaan. Inarno mengatakan, BRI memiliki kinerja saham yang luar biasa dan selalu masuk konstituen LQ45.

Inarno menyebutkan, saham BRI sejak Februari 2005 hingga sekarang masuk LQ45. BRI juga termasuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, serta menjadi saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai.


×