Industri halal. | ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
23 Sep 2021, 09:25 WIB

Dua Kawasan Industri Halal Dibangun di NTB

BRIN berkomitmen mengembangkan riset dan inovasi industri halal Indonesia.

JAKARTA – Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengungkapkan, saat ini tengah dilakukan persiapan pengembangan dua kawasan industri halal (KIH) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dua kawasan industri tersebut akan menambahkan jumlah KIH yang sudah ada di Indonesia.

"Tengah dipersiapkan pengembangan dua KIH di Nusa Tenggara Barat," ujar Kiai Ma’ruf dalam Indonesia Sharia Summit 2021, Rabu (22/9).

Wapres mengatakan, saat ini sudah ada tiga KIH yang ditetapkan pemerintah, yakni di Sidoarjo, Jawa Timur; Cikande, Banten; dan Bintan, Kepulauan Riau. Seluruh KIH ini merupakan bagian dari inisiatif strategis pemerintah bersama Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah.

Dia menekankan, sektor ekonomi syariah di Indonesia menunjukkan ketahanan tinggi meski diterpa pandemi. Karena itu, pemerintah tengah melakukan penguatan halal assurance system melalui penetapan sertifikasi halal tanpa tarif bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Terkait

Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas pelaku usaha syariah dengan memperkuat ekosistem rantai nilai halal, sektor pertanian terintegrasi, kuliner halal, dan fashion Muslim.

Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen mengembangkan riset dan inovasi industri halal Indonesia. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menjelaskan, dukungan riset sangat vital dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Ia mengatakan, BRIN telah aktif dalam pengembangan riset bahan substitusi non-halal dan autentikasi halal. Program ini mempertimbangkan standar nilai halal yang baku hingga mencakup aspek molekuler. Terkait hal strategis ini, turut dilakukan koordinasi yang kuat dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

"BRIN juga telah melakukan investasi menggunakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam mendirikan Pusat Sains dan Teknologi Pangan di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, di mana Pusat Halal dialokasikan di tempat tersebut," katanya.

Dia mengatakan, berbagai pemangku kepentingan seperti perguruan tinggi dan pelaku industri dapat bekerja sama serta memanfaatkan fasilitas laboratorium halal tersebut. BRIN mendukung kegiatan riset dan pengembangan dan inovasi produk dalam rangka mendukung industri halal nasional.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Ventje Rahardjo, menekankan, Indonesia tengah membidik predikat pusat produsen produk halal dunia. Menurut dia, saat ini Indonesia telah memiliki berbagai lembaga atau pusat-pusat riset strategis yang berkontribusi pada pengembangan ekonomi syariah nasional, baik dalam bentuk riset ilmiah maupun riset terapan yang dikomersialisasi.

"Indonesia memiliki lebih dari sembilan pusat riset di bidang sains halal, lebih dari 58 program atau pusat studi ekonomi syariah dan sains halal yang aktif dalam kegiatan riset dan inovasi, serta lebih dari 1.084 peneliti dengan spesialisasi ekonomi syariah serta industri produk halal," kata dia.


×