Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara dalam konferensi pers di Kabul, Selasa (17/8/2021). | AP/Rahmat Gul
19 Aug 2021, 03:55 WIB

Taliban Cari Pengakuan 

Taliban terus berupaya meyakinkan dunia akan menghormati perempuan.

KABUL-- Front peperangan kelompok Taliban mulai bergeser dari pertempuran fisik ke ranah diplomasi. Sejak mengambil alih Kabul, ibu kota Afghanistan pada Ahad (15/8), Taliban terus berupaya meyakinkan dunia soal legitimasi kekuasaan mereka.

Pada Selasa (17/8) malam, juru bicara utama Taliban Zabihullah Mujahid meminta masyarakat internasional mengakui kekuasaan mereka atas wilayah Afghanistan. Dalam konferensi pers pertama yang disiarkan langsung di Kabul, Mujahid mengumumkan bahwa setiap orang dimaafkan bahkan jika mereka bekerja dengan pemerintah sebelumnya atau dengan pemerintah atau pasukan asing.

"Kami meyakinkan Anda bahwa tidak ada yang akan pergi ke pintu mereka untuk bertanya mengapa mereka membantu," katanya. Dia juga berjanji atas nama Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan, tetapi dalam norma hukum Islam.

Juru bicara itu juga mengeklaim Taliban ingin media swasta tetap independen, tetapi menekankan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai nasional. Dia juga memastikan keamanan properti dan warga Afghanistan dan asing oleh Taliban. 

Terkait

“Kami ingin memastikan negara-negara internasional termasuk Amerika Serikat bahwa tidak ada yang akan dirugikan dalam pemerintahan kami. Kami tidak akan membiarkan tanah kami digunakan untuk melawan negara mana pun di dunia,” ujarnya.

Negara-negara dunia sejauh ini belum ada yang secara resmi melayangkan dukungan terhadap Taliban. Terlebih, belum ada juga pimpinan pemerintahan resmi yang ditunjuk kelompok tersebut.

Salah satu pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, juga baru tiba di Afghanistan dari Qatar pada Selasa (17/8). Ia disebut bakal menggantikan posisi Ashraf Ghani yang sebelumnya menjabat sebagai presiden Afghanistan.

Ada banyak alasan dunia skeptis terhadap janji-janji kelompok yang berdiri pada 1994 itu menyusul berakhirnya invasi militer Uni Soviet. Sepanjang berkuasa pada 1996-2001, Taliban melarang perempuan bekerja dan bersekolah serta mewajibkan mereka mengenakan burqa dengan hukuman keras bagi pelanggar. 

Salah satu korban tersohor adalah Malala Yousafzai yang ditembak karena mengampanyekan pendidikan bagi perempuan. Malala selamat dan kemudian memenangkan Nobel Perdamaian. Hukuman potong tangan dan rajam juga awam saat Taliban berkuasa. Memelihara jenggot jadi kewajiban bagi para lelaki. 

photo
Pemenang Nobel Malala Yousafzai berpidato di Birmingham, Inggris pada 2014 lalu. (AP Photo/Rui Vieira, File) - (AP)

Dalam upaya mengubur citra itu, pada Rabu (18/8) anggota senior tim media Taliban Mawlawi Abdul Hak Hammad tampil di program televisi Tolo News didampingi pembawa berita perempuan, Behesha Arghanda, yang tampil tanpa burqa. Dalam kesempatan itu Hammad menyampaikan janji Taliban untuk menjalankan pemerintahan yang adil dan setara sesuai dengan hukum syariah Islam.

Taliban, katanya, sedang melakukan pembicaraan untuk memfinalisasi sistem pembagian kekuasaan di Afghanistan. "Negosiasi untuk membentuk pemerintah di masa depan terus berlanjut, tampaknya dewan akan terbentuk, konstitusi akan disimpulkan setelah itu," katanya. "Ada pembicaraan pemerintahan yang komprehensif dan inklusif," kata Hammad menambahkan.

Taliban juga memberikan indikasi tidak mewajibkan lagi burqa sebagai pakaian perempuan. “Burqa bukan satu-satunya. Ada berbagai jenis pakaian Muslim dan jilbab lain. Jadi, tidak terbatas pada burqa,” kata juru bicara Taliban lainnya, Suhail Shaheen di Doha, Qatar, seperti dilansir Al Arabiya.

Shaheen tidak merinci jenis jilbab lain yang dianggap dapat diterima oleh Taliban. “Perempuan dapat mengenyam pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, seperti universitas. Kami telah mengumumkan kebijakan ini di konferensi internasional, konferensi Moskow, dan di sini di konferensi Doha,” ujar dia.

Bahkan, dia menyebut ribuan sekolah di daerah yang telah direbut Taliban masih beroperasi. Taliban juga mengumumkan amnesti bagi semua orang di Afghanistan dan meminta warga untuk kembali bekerja seperti biasanya. Selain mengumumkan amnesti, Samangani juga meminta para perempuan di Afghanistan untuk bergabung dalam pemerintahan. 

photo
Para pengungsi dari luar provinsi tinggal dalam tenda-tenda darurat di Kabul, sebelum kota itu dikuasai Taliban, awal Agustus ini. - (AP/Rahmat Gul)

"Imarah Islam tidak ingin perempuan menjadi korban. Struktur pemerintahan belum sepenuhnya diklarifikasi, tetapi sesuai dengan pengalaman kami, harus ada kepemimpinan Islam yang penuh dan semua pihak harus berpartisipasi," kata anggota komisi budaya Taliban, Enamullah Samangani, pada televisi pemerintah Afghanistan, kemarin.

Nada damai yang disampaikan pihak Taliban belakangan sangat kontras dengan komentar Wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh. Ia menyatakan dirinya sebagai "presiden sementara yang sah" dan bersumpah tidak akan tunduk pada penguasa baru Kabul.

Pengajar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah mengatakan, saat ini Taliban sedang dalam euforia kemenangan. Dalam kondisi seperti itu, menurut Teuku, Taliban akan berbicara pada tataran idealis. 

"Taliban ingin rujuk nasional. Untuk rujuk nasional itu hendaknya mereka lakukan juga dengan menciptakan opini positif di dunia. Tadi kan di dalam sekarang di luar karena jangan sampai pergerakan mereka di dalam salah ditafsirkan oleh masyarakat internasional," kata Teuku.

Harga Burqa dan Janji Taliban

Sementara, harga burqa di Afghanistan melonjak drastis ketika Taliban berhasil menduduki Kabul. Para perempuan Afghanistan bergegas membeli burqa karena takut Taliban akan kembali memberlakukan aturan yang ketat seperti masa lampau.

Seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan, dia hanya memiliki satu atau dua burqa. Burqa tersebut harus dibagikan antara dia, saudara perempuannya, dan ibu mereka.

"Jika hal yang lebih buruk terjadi dan kami tidak memiliki burqa, kami harus menggunakan sprei atau sesuatu yang dapat digunakan menjadi jubah yang lebih besar," kata perempuan itu, dilansir CNN, Rabu (18/8).

photo
Perempuan berjualan sambil mengenakan burqa di Jalalabad, Afghanistan pada 2019 lalu. EPA-EFE/GHULAMULLAH HABIBI - (EPA)

Burqa mulai ramai dijual di sebuah pasar di Kabul pada 31 Juli ketika pergerakan pasukan Taliban makin tak terbendung. Harga burqa melonjak 10 kali lipat di Kabul. Seorang perempuan lain yang tidak disebutkan namanya mengatakan, sebagian besar perempuan di Kabul berebut untuk membeli burqa sebelum Taliban memberlakukan aturan ketat.

Beberapa perempuan tidak dapat pergi ke pasar karena toko telah tutup dan pemilik toko bergegas pulang pada Ahad (15/8). "Kami berjuang selama bertahun-tahun untuk keluar, apakah kami perlu berjuang lagi untuk hal yang sama? Untuk mendapatkan izin bekerja, dan untuk mendapatkan izin pergi ke rumah sakit sendirian?" kata perempuan tersebut.

Taliban berkuasa di Afghanistan selama 1996-2001. Ketika itu, mereka menerapkan hukum syariah Islam yang cukup ketat. Taliban melarang perempuan untuk bekerja dan anak perempuan tidak diizinkan pergi ke sekolah. Selain itu, perempuan harus mengenakan burqa ketika keluar rumah. Perempuan juga harus ditemani oleh kerabat laki-laki jika keluar rumah. 

Pendiri dan direktur eksekutif Learn, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan dan hak-hak perempuan, Pashtana Durrani, mengatakan, dia sudah kehabisan air mata untuk negaranya. Dia berkabung atas jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban.

"Saya telah menangis begitu banyak sehingga tidak ada lagi air mata yang tersisa di mata saya. Kami telah berkabung atas jatuhnya Afghanistan untuk beberapa waktu sekarang. Saya merasa sangat putus asa," kata Durrani.

Durrani mengatakan, dia telah menerima pesan teks dari anak laki-laki dan perempuannya. Anak-anak Durrani mengaku putus asa karena pendidikan yang telah mereka capai selama bertahun-tahun akan sia-sia.

photo
Perempuan Afghanistan berjalan melintasi toko yang menjual baju-baju modern di Kabul, beberapa waktu lalu. - (AP/MUSADEQ SADEQ)

Durrani mengatakan, Taliban terus berbicara tentang pendidikan anak perempuan, tetapi mereka tidak menjelaskannya secara detail. "Bagaimana dengan pendidikan gender? Bagaimana dengan pendidikan profesional? Jika Anda memikirkannya, itu membuat Anda putus asa karena tidak ada jawaban untuk itu," ujar Durrani.

Sementara Kepala Operasi Lapangan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) Mustapha Ben Messaoud mengungkapkan optimismenya untuk bekerja dengan Taliban. Ia telah dijanjikan bahwa  Taliban mengeklaim akan mendukung pendidikan bagi anak perempuan. 

UNICEF sejauh ini masih mengirimkan bantuan ke sebagian besar wilayah di Afghanistan. Mereka dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Taliban di kota-kota yang baru ini direbut, seperti Kandahar, Herat, dan Jalalabad.

"Kami sedang menggelar diskusi, berdasarkan diskusi yang sedang berlangsung kami cukup optimistis," kata Mustapha Ben Messaoud, Rabu (18/8).

Ia mengatakan, saat ini 11 dari 13 kantor lapangan UNICEF masih beroperasi. "Kami sama sekali tidak memiliki masalah dengan Taliban di kantor-kantor lapangan tersebut."

UNICEF mengutip sejumlah perwakilan Taliban yang mengatakan sedang menunggu arahan dari pemimpin mereka mengenai pendidikan anak perempuan. Sementara beberapa perwakilan Taliban lainnya mengatakan, mereka berharap sekolah terus berjalan.  

Ben Messaoud mengatakan, seorang direktur kesehatan Taliban di Herat meminta pegawai perempuan UNICEF untuk melapor. Namun, UNICEF belum melakukan komunikasi langsung dengan Taliban di ibu kota Kabul. 

Juru bicara Komisioner Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet, Rupert Colville mengatakan, kekhawatiran masyarakat Afghanistan 'sangat amat dipahami'. "Kami meminta Taliban untuk menunjukkan lewat tindakan, tidak hanya perkataan bahwa ketakutan begitu banyak orang dari berbagai lapisan atas keamanan telah teratasi," katanya. 

Sumber : Reuters


×