Greysia Polii (kiri) dan Apriyani Rahayu merayakan kemenangann atas pasangan ganda putri Korea Selatan Lee Sohee dan Shin Seungchan pada semifinal cabang olahraga badminton di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Sabtu (13/7/2021). | EPA-EFE/MAST IRHAM
02 Aug 2021, 03:55 WIB

Indonesia Berharap Emas Olimpiade Tokyo

Pasangan Qingchen Chen/Jia Yifan dari Cina bukan lawan mudah.

TOKYO – Pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu kini satu-satunya asa Indonesia guna meraih emas pada Olimpiade Tokyo 2020 dalam pertandingan final cabang olahraga bulu tangkis pada Senin (2/8) ini. Meski demikian, pelatih berharap harapan tinggi masyarakat Indonesia jangan jadi beban yang terlampau berat dalam pertandingan.

Greysia/Apriyani akan menghadapi Qingchen Chen/Jia Yifan dari Cina dalam perebutan medali emas. Pasangan Cina itu mengalahkan pasangan Korea lainnya, So-yeong Kim/Hee-yong Kong, dua set langsung 21-15, 21-11. Greysia/Apriyani menyatakan akan berusaha untuk tetap fokus dan konsentrasi. 

Mengenai strategi mereka di final, Greysia mengatakan mereka cukup akrab dengan lawan di final karena telah saling berhadapan selama bertahun-tahun. "Kami ingin menjaga pola pikir kami sejak kami tiba di Tokyo. Kami ingin menikmati setiap pertandingan. Tidak ingin terlalu memikirkan lawan kami. Kami hanya mencoba untuk tetap tenang dan pulih untuk pertandingan berikutnya," kata Greysia, dilansir National Olympic Committee (NOC) Indonesia, Ahad (1/8).

Qingchen Chen/Jia Yifan bukanlah lawan mudah bagi Greysia/Apriyani. Dalam sembilan pertemuan kedua pasangan ini, Chen/Jia menang enam kali dan Greysia/Apriyani hanya tiga kali. Kendati begitu, Greysia/Apriyani yang berada di peringkat enam dunia memberikan perlawanan ketat dalam pertemuan di BWF Tour Finals 2019, dengan kalah dalam pertandingan tiga set.

Terkait

photo
Capaian Ganda Putri Indonesia di Olimpiade - (Republika)

"Masih ada tugas yang kami harus selesaikan. Belum banyak yang bisa disampaikan, tapi kami memohon doa restu dan dukungan seluruh rakyat Indonesia untuk kami di final. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik," ujar Greysia.

Pelatih ganda putri Eng Hian meminta masyarakat Indonesia bisa meredam ekspetasi berlebihan kepada anak-anak latihnya. Biarkan Greysia/Apriyani bermain dengan cara mereka sendiri di babak final. 

Menurutnya, akan jadi masalah nonteknis dalam pertandingan saat pemain tidak bisa mengontrol ekspektasi. "Olimpiade ini banyak unggulan tumbang karena bermain berbeda dengan standar karena beban berat. Mohon pemberitaan jangan terlalu berlebihan. Mohon doanya saja," kata Didi, sapaan karib Eng Hian.

Didi mengakui, Greysia/Apriyani tertinggal secara head to head dari Qing/Yi dengan agregat 3-6. Secara teknis, lanjut dia, sudah dipersiapkan dengan baik. Soal strategi yang ditetapkan berjalan atau tidak, semuanya bergantung situasi di lapangan.

photo
Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu berkespresi seusai mengalahkan ganda putri Cina Chen Qingchen/Jia Yifan di pada babak perempat final Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 di Nanjing, Cina, Jumat (3/8/2018). Greysia Polii/Apriyani Rahayu mengalahkan unggulan pertama Chen Qingchen/Jia Yifandi dengan skor 21-23, 21-23. ANTARA FOTO/Humas PBSI/pras/kye/18. - (ANTARA FOTO)

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali meminta Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang telah lolos ke babak final agar bertanding tanpa beban, tidak tertekan dan rileks. Menurutnya, bertanding di Olimpiade atmosfernya berbeda dengan pertandingan di ajang seri kejuaraan dunia lain. 

Sebab, pertandingan di ajang-ajang tersebut walaupun kalah masih ada kesempatan dalam ajang lain yang penyelenggaraannya hampir setiap tahun. Sedangkan, olimpiade hanya digelar empat tahun sekali.

"Jadi tekanan yang ada di olimpiade itu sangat besar, sangat sangat kuat. Jadi saya hanya berharap supaya mereka tidak terlalu tertekan, tidak terlalu merasa ada beban," kata Amali, dilansir Kemenpora.

Apapun yang terjadi di lapangan hari ini, Greysia/Apriyani tetap telah menorehkan sejarah bagi Indonesia. Keduanya jadi pasangan ganda putri pertama yang lolos ke final Olimpiade. Selama ini, perjalanan ganda putri Indonesia selalu terhenti di perempat final, termasuk Greysia Polii yang sampai perempat final di Olimpiade Rio pada 2016. Ketika itu Greysia berpasangan dengan Nitya Krishinda Maheswari.

photo
Greysia Polii (kiri) dan Apriyani Rahayu beraksi dalam laga melawan pasangan ganda putri Korea Selatan Lee Sohee and Shin Seungchan pasa semifinal cabang olahraga badminton di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Sabtu (13/7/2021). - (EPA-EFE/MAST IRHAM)

Capaian bersejarah tahun ini ditorehkan Greysia/Apriyani dengan menundukkan pasangan Korea Selatan Lee Soo Hee/Shin Seung Chan pada pertandingan semifinal di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Sabtu (31/7). Kedua pemain menunjukkan permainan menyerang dan kemampuan bertahan yang kompak pada pertandingan dua set langsung dengan skor 21-19/21-17 tersebut.

Meski awalnya bukan yang ditargetkan merebut medali, keduanya mengamankan raihan medali perak pada cabang olahraga badminton pada Olimpiade kali ini. "Saya masih belum percaya (masuk final). Sebelum berangkat saya sempat bilang, saya tidak pernah berpikiran main di Olimpiade secepat ini, tapi tiba-tiba sekarang saya ada di final," kata Apriyani dalam keterangan yang diterima Republika, Sabtu (31/7).

"Saya belum ingin puas dulu. Kami masih harus bermain untuk emas," ujar Apri menambahkan.


×