Warga menunjukkan tiga lembar uang Rp100 ribu dalam kegiatan Bantuan Langsung Tunai (BLT) selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Desa Tibubeneng, Badung, Bali, Selasa (27/7/2021). Sejumlah pembatasan yang dilakukan saat ini akan sang | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Kabar Utama

29 Jul 2021, 03:50 WIB

Kemenkeu: Pertumbuhan Ekonomi Masih Sesuai Proyeksi 

Sejumlah pembatasan yang dilakukan saat ini akan sangat berdampak pada tingkat konsumsi.

JAKARTA -- Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan laporan IMF World Economic Outlook edisi Juli 2021, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 3,9 persen pada tahun ini atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang 4,3 persen.

Menurut Kementerian Keuangan, proyeksi IMF tersebut masih sesuai dengan rentang pertumbuhan yang diproyeksikan pemerintah. IMF juga menurunkan angka proyeksi pertumbuhan negara ASEAN-5, yang terdiri atas Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun dari awalnya 4,9 persen menjadi 4,3 persen.

“Penurunan proyeksi dikarenakan adanya gelombang kedua Covid-19 dan menyebabkan mobilitas menjadi terhambat, sehingga pemulihan ekonomi diperkirakan melambat,” tulis IMF dalam laporannya, Rabu (28/7).

Namun, IMF merevisi ke atas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022, yaitu dari 5,8 persen menjadi 5,9 persen. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 4,9 persen pada 2022 dan enam persen pada tahun ini.

IMF dalam laporannya juga menyebutkan, negara-negara yang tertinggal dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19, seperti India dan Indonesia akan menjadi negara yang ekonominya paling terdampak di antara kelompok G-20. Hal ini lantaran varian Delta lebih cepat menular dibandingkan varian Alpha. 

Meningkatnya penularan Covid-19 dapat menekan perekonomian karena menyebabkan turunnya mobilitas masyarakat. “Turunnya aktivitas atau mobilitas masyarakat yang berlarut-larut berisiko menimbulkan dampak panjang pada perekonomian," demikian laporan IMF.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, proyeksi IMF atas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih berada dalam rentang proyeksi pemerintah. "Proyeksi pemerintah pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 3,7 persen hingga 4,5 persen," kata Febrio, Rabu (28/7).

Pemerintah, ungkapnya, memiliki lima strategi utama untuk mendorong perekonomian tahun ini. Strategi berfokus pada upaya pengendalian pandemi, melindungi kesejahteraan masyarakat, mendorong pemulihan ekonomi nasional, serta meningkatkan daya saing.

Indonesia akan terus mengambil manfaat dari prospek ekonomi global yang masih kondusif sembari mewaspadai risiko penularan yang ada, yaitu kehadiran varian Delta. Selain itu, Indonesia terus berupaya mempercepat pelaksanaan vaksinasi.

photo
Petugas gabungan melakukan razia nonyustisi PPKM Level 4 di Batas Kota Yogyakarta, Rabu (28/7/2021). Pada operasi ini, petugas gabungan memeriksa kartu vaksinasi Covid-19 bagi warga dengan kendaraan berpelat nomor luar Yogyakarta dan keperluan masuk ke Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Ia mengatakan, risiko yang diwaspadai juga meliputi potensi percepatan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai implikasi dari percepatan pemulihan ekonomi. Hal tersebut berpotensi mendorong pembalikan arus modal.

Tak hanya itu, permintaan produk ekspor yang diperkirakan masih baik seiring solidnya outlook pertumbuhan global juga menjadi peluang untuk terus mendorong kinerja manufaktur Indonesia pada 2021. Volume perdagangan global sepanjang 2021 diprediksi mencatatkan kinerja solid, yaitu mengalami pertumbuhan 9,7 persen atau naik 1,3 persen.

“Pertumbuhan yang kuat pada aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa sektor eksternal juga menjadi faktor utama yang mendorong tumbuhnya ekonomi global,” kata Febrio.

Ancaman penularan varian Delta membuat Indonesia terus memperkuat kebijakan bidang kesehatan dan perlindungan sosial dengan menambah alokasi anggaran untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di APBN. “APBN hadir memberi perluasan perlindungan sosial dan dukungan bagi UMKM yang diiringi upaya percepatan penyaluran,” ucapnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by #UangKita (kemenkeuri)

Menurutnya, Indonesia harus belajar dari pengalaman berbagai negara dalam kurun 1,5 tahun pandemi, yaitu pemulihan akan terjadi jika diiringi penanganan kesehatan yang tepat. Saat ini, Indonesia menargetkan untuk mendorong vaksinasi harian di tingkat 1,5 juta dosis dan akan terus ditingkatkan secara gradual.

Per 27 Juli 2021, total kumulatif vaksin yang telah diberikan pada masyarakat mencapai 63,94 juta dosis. Pemerintah juga memastikan jumlah vaksin terus tersedia agar percepatan vaksinasi bisa dilaksanakan sesuai target. “Vaksinasi memang salah satu kebijakan kunci bagi setiap negara untuk mengendalikan pandemi Covid-19," katanya.

Menurut Febri, banyak negara berkembang yang mengalami penurunan proyeksi, terutama akibat pemberlakuan restriksi lebih ketat di tengah penyebaran varian Delta. Beberapa negara yang mendapat revisi ke bawah, antara lain, India turun tiga persen dari proyeksi awal, Malaysia turun 1,8 persen, Filipina turun 1,5 persen, dan Thailand turun 0,5 persen. 

Di sisi lain, kelompok negara maju mengalami kenaikan proyeksi sejalan dengan perluasan pelonggaran aktivitas, jangkauan vaksinasi yang tinggi, serta stimulus yang masif. Sebagai contoh, proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat naik 0,6 persen dari proyeksi awal, zona Euro naik 0,2 persen dari proyeksi awal, dan Korea Selatan naik 0,7 persen dari proyeksi awal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Kebijakan Fiskal (bkfkemenkeu)

Konsumsi turun 

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, sejumlah pembatasan yang dilakukan saat ini akan sangat berdampak pada tingkat konsumsi. Selama ini, konsumsi menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi.

“Konsumsi jelas akan menurun,” katanya, kemarin. 

photo
Warga menunggu giliran menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Desa Tibubeneng, Badung, Bali, Selasa (27/7/2021). - (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Berdasarkan proyeksi CORE, ekonomi Indonesia pada tahun ini tumbuh di kisaran 2,5 persen sampai 3,5 persen. Rentang pertumbuhan tersebut dinilai sudah sangat optimistis.

CORE memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II, III, dan IV masih akan positif walaupun dihantam gelombang kedua Covid-19. “Tetapi secara keseluruhan tahun ini tidak akan lebih dari 3,5 persen,” kata Piter.

Menurutnya, pemulihan ekonomi akan dibantu kinerja ekspor yang meningkat karena kenaikan permintaan dan kenaikan harga. Di sisi lain, pertumbuhan impor masih terbatas. “Investasi masih tumbuh terutama pada sektor tertentu yang masih bisa berjalan baik di tengah pandemi,” ucapnya.

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menambahkan, saat ini pola pergerakan masyarakat ke tempat ritel mengalami perlambatan seiring diperketatnya pembatasan aktivitas. Penurunan kegiatan masyarakat ke tempat ritel secara tidak langsung akan ikut menekan laju konsumsi masyarakat.  

“Belajar dari pemberlakuan pembatasan sebelumnya, indeks penjualan riil, salah satu indiaktor yang bisa dilihat untuk mengukur kinerja ritel, mengalami kontraksi pertumbuhan selama masa restriksi aktivitas masyarakat,” kata Yusuf.

Kondisi ini juga berpeluang kembali terjadi dalam penerapan PPKM Darurat. Jika konsumsi ritel berkurang, kata dia, pada akhirnya akan menekan konsusmsi masyarakat dan menekan laju pertumbuhan ekonomi. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, transformasi ekonomi perlu terus dilakukan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Dody yang juga Ketua Bidang II untuk Kajian dan Perumusan Kebijakan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyampaikan, pemulihan dan transformasi ekonomi perlu berjalan beriringan.

"Transformasi yang beriringan sebagai satu langkah sinergi dalam mengakselerasi kegiatan di sektor rill dan kembali mengarahkan kinerja ekonomi ke lintasan pertumbuhan potensialnya," kata Dody dalam pembukaan diskusi publik BI–ISEI Kawasan Timur Indonesia (KTI), Rabu (28/7).

Dody menyampaikan terdapat tiga hal yang perlu dicermati, termasuk oleh para anggota ISEI, dalam mendukung penguatan fondasi ekonomi melalui kebijakan reformasi struktural. Pertama, dari sisi produktivitas, perlu upaya peningkatan output.

Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tenaga kerja yang memegang peranan penting dalam peningkatan daya saing. "Ini sejalan dengan penggunaan teknologi digital dan otomasi yang semakin luas di kalangan industri," kata Dody.

Ketiga, dari sisi kapital, kebijakan untuk menarik dan mempermudah investasi perlu dilakukan guna mendorong peran swasta yang lebih optimal dalam pembiayaan pembangunan. Di daerah, peningkatan akumulasi kapital, antara lain, ditopang oleh pembangunan infrastruktur, terutama untuk konektivitas dan penyediaan energi. 

ADB: PPKM Hambat Pemulihan Ekonomi

Sejumlah lembaga internasional merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Pembangunan Asia (ADB) secara khusus mencermati dampak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut ADB, PPKM Darurat pada 3-20 Juli yang kemudian diperpanjang dengan nama PPKM Level 4 akan berdampak pada tertahannya laju pemulihan ekonomi Indonesia. Dalam laporan Asian Development Outlook edisi Juli 2021, ADB pun menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 menjadi 4,1 persen atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang 4,5 persen.

Proyeksi ADB ini masih lebih tinggi daripada proyeksi IMF yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 3,9 persen. "Ketika infeksi Covid-19 mencapai rekor tertinggi, penguncian (PPKM Darurat) dilakukan dari 3 hingga 20 Juli. Ini menghambat pemulihan yang sedang berlangsung," tulis ADB dalam laporannya, Rabu (28/7).

photo
Petugas gabungan melakukan razia nonyustisi PPKM Level 4 di Batas Kota Yogyakarta, Rabu (28/7/2021). Pada operasi ini petugas gabungan memeriksa kartu vaksinasi Covid-19 bagi warga dengan kendaraan berpelat nomor luar Yogyakarta dan keperluan masuk ke Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Bahkan, saat ini pemerintah memperpanjang implementasi PPKM Darurat yang telah bersulih nama menjadi PPKM Level 4 pada 26 Juli-2 Agustus 2021. "Penguncian akan menghambat pemulihan yang sebelumnya sedang berlangsung ketika aktivitas terus meningkat," tulis ADB.

Perekonomian Indonesia hingga kuartal I 2021 memang masih berada dalam zona negatif. Kendati demikian, tingkat kontraksi secara konsisten mengecil sejak pertama kali tumbuh negatif 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Pada kuartal III dan IV 2020, ekonomi Indonesia minus 3,49 persen dan minus 2,19 persen. Sedangkan pada kuartal I 2021 minus 0,74 persen.

Meski menurunkan proyeksi ekonomi Indonesia, ADB menilai kebijakan fiskal pemerintah sejauh ini cukup mendukung ekonomi masyarakat dan nasional. Begitu juga dengan kinerja ekspor yang baik berkat meningkatnya permintaan dari pasar global. Pada 2022, ADB memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh lima persen.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang ekonominya diproyeksi turun. ADB juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara dari 4,4 persen menjadi empat persen pada 2021. Hal ini seiring pemberlakuan kebijakan pembatasan mobilitas untuk memerangi meningkatnya penularan Covid-19.

ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi Malaysia turun dari enam persen pada April menjadi 5,5 persen. Produk domestik bruto (PDB) Filipina tetap 4,5 persen dan Singapura menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang meningkat proyeksi ekonominya, yakni dari enam persen menjadi 6,3 persen. ADB turut mengoreksi perkiraan laju ekonomi Vietnam dari 6,7 persen menjadi 5,8 persen dan Thailand dari tiga persen menjadi dua persen.

Di luar Asia Tenggara, ADB memperkirakan ekonomi Hong Kong naik dari 4,6 persen menjadi 6,2 persen, Korea Selatan meningkat dari 3,5 persen ke empat persen, dan India dari 11 persen turun ke 10 persen.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira, pemangkasan proyeksi ekonomi dari IMF dan ADB sejalan dengan proyeksi ke bawah yang dilakukan lembaga lain. “Saya prediksi downgrade outlook ini akan berlanjut sampai ada titik terang kapan PPKM akan berakhir dan ekonomi kembali dilonggarkan,” ujarnya kepada Republika, Rabu (28/7).

Bhima menyebut, dengan diturunkannya proyeksi ekonomi oleh IMF, maka tingkat risiko pun meningkat dan akan memengaruhi persepsi investor terhadap keputusan berinvestasi di Indonesia. Menurutnya, Nikkei recovery index menempatkan Indonesia di urutan ke 110 dari 120 negara dalam hal pemulihan karena adanya pandemi.

Bhima memprediksi Indonesia membutuhkan waktu hingga 2023 agar petumbuhan ekonomi kembali ke level prapandemi, yakni lima persen. "Kita harus bersiap hadapi yang terburuk, yakni pemulihan ekonomi Indonesia lebih lambat dibanding negara lain,” katanya.


×