Kapal Augustine Phinisi bersandar di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Selasa (23/3/2021). PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk berkolaborasi dengan Augustine Phinisi menghidupkan pariwisata bahari dengan menawarkan sejumlah paket dengan kapal tersebut mul | SIGID KURNIAWANANTARA FOTO
22 Jul 2021, 07:21 WIB

Holding Pariwisata Terbentuk Agustus

100 persen holding BUMN pariwisata dan pendukungnya dimiliki pemerintah.

JAKARTA  —  Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) atau PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) mendukung penuh langkah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membentuk holding sektor pariwisata dan pendukungnya. Saat ini, proses integrasi terus berlangsung agar target realisasi holding pada bulan depan terpenuhi.

Vice President Corporate Secretary ITDC I Made A Dwiatmika mengatakan, proses integrasi holding BUMN pariwisata dan pendukungnya masih berlangsung. Saat ini juga sedang dalam tahap mempersiapkan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau Aviata, yang sebelumnya bernama PT Survai Udara Penas (Persero), untuk menjadi perusahaan induk holding pariwisata dan pendukungnya.

"ITDC siap mengikuti seluruh proses pembentukan holding BUMN pariwisata dan pendukungnya sesuai dengan arahan dan lini masa pemegang saham,” kata Dwiatmika kepada Republika di Jakarta, Rabu (21/7).

Dwiatmika mengatakan, ITDC memiliki kesempatan mengembangkan dan merencanakan usaha bersama dengan BUMN lainnya dalam satu ekosistem pariwisata dan pendukungnya jika holding terbentuk. Menurut dia, hal ini akan memaksimalkan peluang holding dari holding yang sama.

Terkait

Dwiatmika menyampaikan, kehadiran holding pariwisata juga akan membuka peluang sinergi usaha dengan anggota holding lainnya. Terutama, dengan bisnis transportasi dan bisnis amenitas holding untuk meningkatkan kepuasan wisatawan dan membangun tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang andal serta memperkuat industri pariwisata dan pendukungnya di Indonesia.

holding pariwisata juga akan mendorong akselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat dampak pandemi Covid-19. Termasuk memperkuat kolaborasi usaha antaranggota holding di ekosistem pariwisata dan pendukungnya," ujar Dwiatmika.

Kementerian BUMN dan Komisi VI DPR telah menyepakati pemberian penyertaan modal negara (PMN) 2022 sebesar Rp 9,3 triliun kepada Aviata untuk menguatkan permodalan. Nantinya, PMN itu juga untuk restrukturisasi, pengembangan infrastruktur pariwisata, dan infrastruktur aviasi serta pembebasan lahan dan penyelesaian proyek kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan pembentukan holding pariwisata dan pendukung rampung pada Agustus. Erick menyebutkan, pemberian PMN kepada holding pariwisata menunggu terbitnya peraturan pemerintah (PP) holding terlebih dahulu.

Holding pariwisata baru akan terbentuk pada Agustus 2021. Secara legalitas, pemberian PMN 2022 tidak ada isu hukum karena kita tunggu PP holding. Jadi, kita tidak akan menyalahi prosesnya. PP PMN 2022 tidak akan dahului PP holding,” kata Erick.

Erick menegaskan, 100 persen holding pariwisata dan pendukung dimiliki pemerintah. Dengan begitu, fleksibilitas restrukturisasi dan pengembangan model akan lebih mudah. Erick menjelaskan, anggota holding pariwisata dan pendukung akan memiliki fokus masing-masing, seperti ITDC yang fokus di manajemen destinasi dan pengembangan destinasi wisata, seperti Mandalika.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ITDC (itdc_id)

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, Kementerian BUMN telah melakukan perubahan PT Survai Udara Penas (Persero) menjadi PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau Aviata. Pria yang akrab disapa Tiko tersebut menjelaskan, perubahan nama tak lepas dari adanya penyesuaian fungsi perusahaan yang menjadi induk holding pariwisata dan pendukung.

Tiko menyebutkan, perubahan nama dan fungsi Penas menjadi Aviata telah tertuang dalam PP dan saat ini tengah berproses untuk melakukan holding lima perusahaan ke dalam Penas.

"Kita telah mendapatkan PP perubahan fungsi Penas yang baru keluar dan saat ini lagi proses mengingbreng lima perusahaan yang ke dalam Penas. Penas sudah melakukan perubahan nama, diharapkan launching akhir Juli tentang fungsi baru Penas bersama dengan imbreng perusahaan di bawahnya,” kata Tiko.

Pembentukan holding pariwisata akan berjalan secara bertahap melalui tiga tahap penataan dan pengembangan portofolio subklaster dengan PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Sarinah (Persero), dan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), dan PT Angkasa Pura II (Persero) dalam tahap pertama yang ditargetkan selesaai pada kuartal II 2021.

Sementara, tahap kedua diisi ITDC yang ditargetkan rampung pada kuartal IV 2021. Kemudian, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada tahap ketiga setelah proses restrukturisasi selesai yang ditargetkan pada 2023. Tiko mengatakan, PMN 2022 sebesar Rp 9,3 triliun dibutuhkan untuk ekosistem peristiwa dan penerbangan yang berkelanjutan.

Selain Rp 3,5 triliun untuk penguatan modal dan pengembangan infrastruktur maskapai, Tiko melanjutkan, PMN juga diberikan untuk keperluan penguatan modal dan penguatan solvabilitas bandara sebesar Rp 2 triliun untuk PT Angkasa Pura I (Persero).

Selain itu, PMN dialokasikan untuk penguatan modal dan pengembangan layanan penerbangan sebesar Rp 700 miliar, serta penguatan modal dan pengembangan infrastruktur induk holding sebesar Rp 1,2 triliun. PMN juga dialokasikan Rp 100 miliar untuk penguatan modal dan pengembangan bisnis trading untuk mendukung produk ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


×