Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika
14 Jun 2021, 07:22 WIB

Memilih karena Kedekatan

Faktor kedekatan menjadi nomor dua, sedangkan kompetensi dan akhlaqiyah itu harus dinomorsatukan.

DIASUH OLEH DR ONI SAHRONI, Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saat seseorang terpilih sebagai pimpinan, ia memilih staf dan pejabat di bawahnya karena kedekatan. Mungkin karena kerabat atau sahabat lamanya. Bagaimana tuntunan syariah dalam memilih (recruiting)? Mohon penjelasan ustaz!

Muhammad, Gorontalo

Terkait

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Untuk membedah dan menjawab masalah ini akan dipilah dalam dua bahasan yaitu memilih (recruiting) karena kedekatan atau memilih saat seleksi karena kedekatan. Ada banyak contoh-contoh yang terjadi, di antaranya, Pak Ahmad terpilih sebagai ketua umum sebuah organisasi. Untuk memudahkan mengisi pos-pos yang menjadi stafnya, ia memilih beberapa sahabat lama dan beberapa kerabatnya. Ada teman semasa kuliahnya dan ada beberapa orang keponakannya.

Atau, misalnya si A, si B, dan si C diminta menjadi tim seleksi calon pegawai di perusahaan. Tiga orang lolos masuk seleksi final karena nilai rata-ratanya mencapai 90. Kemudian, salah satu di antaranya ditetapkan sebagai pegawai yang lolos seleksi karena selain nilainya tinggi juga karena orang tuanya teman lama tim seleksi.

Kesimpulannya, memilih karena kedekatan itu diperbolehkan selama (a) yang dipilih kompeten dan memenuhi kriteria, (b) sesuai aturan dan tidak melanggar ketentuan terkait, (c) memenuhi kaidah kelaziman dan suasana yang kondusif. Kemudian, (d) jika pemilihan tersebut terjadi dalam sebuah seleksi, maka menjadi bagian dari sikap wara dan menghindari conflict of interest, harus ada aturan agar tim seleksi atau yang memilih itu tidak ada hubungan kekeluargaan atau lainnya dengan mereka yang diseleksi atau diwawancara.

Misalnya, si A terpilih sebagai pimpinan umum sebuah media online. Kemudian, ia memilih kepala bagian TI seorang ahli yang kebetulan adalah keponakannya. Berdasarkan kaidah tersebut, kebijakan si A itu sudah sesuai dengan tuntunan karena yang dipilih adalah sosok yang kompeten, sesuai aturan, dan memenuhi prinsip kelaziman. Berdasarkan ketentuan tersebut, faktor kedekatan menjadi nomor dua, sedangkan kompetensi dan akhlaqiyah itu harus dinomorsatukan.

Kesimpulan ini didasarkan pada banyak tuntunan baik ayat dan hadis juga penjelasan para ulama.  Di antaranya firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS an-Nisa: 58).

Kemudian, hadis Rasulullah SAW, “Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang memberi amanat kepadamu dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat”. Dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!” (HR Bukhari).

Kesimpulan bahwa pertemanan atau hubungan kerabat itu dapat menjadi pertimbangan karena itu pertimbangan manusiawi yang masih dalam taraf koridor ditoleransi. Begitu juga memilih seseorang sebagai mitra dan staf (hawariyyun) itu perlu diketahui latar belakang dan kepribadiannya. Pertemanan dan kekeluargaan itu dapat memenuhi pengetahuan tersebut.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka bukan bagian dari tuntunan akhlaqiyat dan fikih saat memilih seseorang yang tidak kompeten atau tidak sesuai aturan, hanya karena kedekatan. Wallahu a’lam


Terkini

×