Bola guna mengiklankan Piala Euro 2020 di depan stadion di Munich, Jerman, Kamis (10/6/2021). | EPA/LUKAS BARTH-TUTTAS

Kabar Utama

Gempita Euro, Vaksinasi, dan Ancaman Pandemi 

Total, bakal ada 51 pertandingan yang bakal digelar di Euro 2020

OLEH REJA IRFA WIDODO 

‘Sebuah titik terang di ujung lorong kegelapan’. 

Ungkapan itu yang digunakan perwakilan dari Kementerian Olahraga Italia, Valentina Vezzali, dalam menggambarkan pembukaan Euro 2020, yang digelar di Stadion Olimpico, Roma, Sabtu (12/6) dini hari WIB.

Secercah titik terang, yang menjadi simbol antusiasme dan harapan, setelah Eropa dihantam pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua sektor, tidak terkecuali olahraga. 

Ungkapan yang dituturkan mantan atlet anggar Italia itu rasanya tidak berlebihan. Setelah mengalami penundaan selama 364 hari akibat pandemi Covid-19, turnamen sepak bola paling bergengsi antar negara-negara Eropa itu akhirnya bakal digelar.

Selama sebulan penuh, dari 11 Juni hingga 11 Juli, Eropa akan berdenyut dengan adanya edisi ke-16 turnamen antara negara-negara Eropa tersebut. 11 stadion di 11 kota penyelenggara, yang tersebar di seluruh Eropa, akan menjadi arena perebutan kemenangan dari 24 tim kontestan. 

Total, bakal ada 51 pertandingan yang bakal digelar di Euro 2020. Semua ini akan diawali dengan pertandingan antara Italia menjamu Turki pada penyisihan Grup A, yang dihelat di Stadion Olimpico, Roma. Pun dengan seremoni pembukaan turnamen, yang digelar satu jam sebelum laga tersebut.

"Ini dapat menjadi momen simbolis, tidak hanya pembukaan lagi stadion untuk penonton, tapi menjadi setitik sinar terang di ujung kegelapan. Pembukaan Euro 2020 dapat menjadi titik kulminasi proses kebangkitan lagi kegiatan olahraga, tidak hanya di Italia, tapi juga di Eropa," tutur Valleri seperti dikutip kantor berita, ANSA, beberapa waktu lalu. 

photo
Patung menyerupai lambang kota Munich ditempatkan di depan Balai Kota di Marienplatz, Munich, Jerman, Jumat (10/6/2021). - (EPA/LUKAS BARTH-TUTTAS)

Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) menyajikan berbagai atraksi istimewa di seremoni pembukaan Euro 2020. Namun, sekeras apapun UEFA menyiapkan gelaran Euro 2020, antusiasme itu ternyata belum tercipta, setidaknya di Roma, kota tuan rumah pembukaan Euro 2020. Pandemi Covid-19 masih meninggalkan dampak psikologis buat warga.

"Anda tidak mendapatkan antusiasme dan kegembiraan yang sama seperti saat sebuah turnamen besar akan dimulai. Saya belum merasakan antusiasme itu," tutur salah satu warga Roma, Marco Martinelli, seperti dikutip the Guardian, Jumat (11/6). 

Pandemi Covid-19 memang masih menjadi ancaman di Eropa. Hingga pertengahan pekan lalu, jumlah kematian akibat Covid-19 di Benua Biru telah mencapai lebih dari 1,1 juta jiwa. Sementara kasus positif Covid-19 masih berada di kisaran 54 juta jiwa. 

Eropa terbukti masih berupaya keras untuk bertahan dari Pandemi Covid-19, yang telah memasuki gelombang ketiga. Ironisnya, pembukaan Euro 2020 akan digelar di negara yang pertama kali melaporkan kasus positif Covid-19, akhir Januari tahun lalu. Kendati begitu, UEFA bergeming.

UEFA merasa sudah cukup dengan penundaan selama satu tahun, yang turut membuyarkan rencana perayaan 60 tahun Piala Eropa, yang pertama kali digelar pada 1960 itu tersebut. 

Dengan berkoordinasi dengan WHO dan otoritas kesehatan setempat, UEFA bahkan memperbolehkan kehadiran penonton di venue pertandingan, tentunya dengan berbagai protokol kesehatan yang ketat. Tiap penyelenggara di masing-masing kota diberikan kebebasan terkait jumlah kehadiran penonton. 

Dengan mengusung slogan, "Live It, For Real", UEFA agaknya ingin kembali merangkul para pencinta si kulit bundar untuk merasakan lagi antusiasme dan semangat di Euro 2020, yang tercabik akibat pandemi Covid-19. Pembukaan stadion untuk kehadiran penonton pun bervariasi, mulai dari 22 persen hingga 100 persen dari kapasitas stadion tersebut di tiap laga. 

photo
Para pemain Timnas Denmark berlatih di Elsinore, Denmark, Kamis (10/6). - (EPA/RITZAU SCANPIX/Liselotte Sabroe)

Dari 11 stadion penyelenggara Euro 2020, hanya Stadion Puskas Arena, Budapest, Hungaria, yang akan dibuka dengan kapasitas 100 persen, yaitu mencapai 68 ribu penonton. Sementara di laga pembuka, kapasitas Stadion Olimpico akan dibuka sekitar 25 persen, dengan kehadiran penonton diperkirakan mencapai 15 ribu penonton. 

Kebijakan bisa berubah seiring kebijakan otoritas kesehatan setempat. Stadion Wembley, yang akan menggelar tujuh laga, termasuk partai final, hanya akan dibuka 25 persen dari kapasitas total atau sekitar lebih dari 20 ribu penonton.

Namun, seiring dengan rencana pemerintah Inggris untuk mengubah kebijakan karantina wilayah pada 21 Juni mendatang, bukan tidak mungkin jumlah kehadiran penonton di Wembley bisa ditambah di laga final. 

Secara umum, berbagai protokol kesehatan harus dilakoni oleh penonton yang akan menyaksikan langsung laga Euro 2020 di stadion. Langkah-langkah itu diambil UEFA demi menekan resiko penyebaran Covid-19 selama gelaran Euro 2020. 

Selain harus terus memakai masker, penonton juga diharapkan tidak terlalu sering beranjak dari tempat duduk untuk meminimalkan kontak dengan orang lain. Pun dengan adanya rapid test dan pemeriksaan suhu terhadap para penonton di setiap stadion. Selain itu, para penonton juga diwajibkan menunggu 30 menit untuk bisa masuk ke stadion. 

Tidak berhenti di situ. Di sejumlah negara, penonton yang akan masuk ke stadion harus menunjukan hasil negatif Covid-19. Persyaratan ini juga berlaku buat penonton dari luar negeri dan memegang tiket Euro 2020, yang juga berfungsi sebagai visa. 

Bahkan, di sejumlah negara, tanpa surat hasil negatif Covid-19, penonton yang berasal dari luar negeri harus menjalani karantina selama tiga hari, meski memiliki tiket pertandingan Euro 2020. Kebijakan ini diketahui diterapkan di Azerbaijan, Rusia, Hungaria, dan Inggris. Hal ini terkait dengan larangan berkunjung yang diterapkan sejumlah negara Eropa. 

photo
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyalami peara pemain Timnas Sepakbola Prancis di Clairefontaine-en-Yvelines, France, Jumat (10/6). - (AFP POOL/FRANCK FIFE / POOL)

Pemain terpapar Covid-19 

Sayangnya, dengan berbagai kebijakan menurunkan resiko penularan Covid-19, UEFA tetap kecolongan. Justru sejumlah penggawa dari tim kontestan Euro 2020 yang malah terkonfirmasi positif Covid-19. Dejan Kulusevksi dan Mattias Svanberg diketahui terjangkit Covid-19.

Alhasil, kedua pemain tersebut melakukan isolasi mandiri dan harus meninggalkan pemusatan latihan timnas Swedia di Gothenburg dan diragukan tampil di laga perdana timnas Swedia, kontra Spanyol. Kondisi serupa juga menimpa timnas Spanyol. Sergio Busquets dan Diego Lllorente dilaporkan positif Covid-19. Belakangan, Llorente sudah dipastikan negatif Covid-19 dalam dua pemeriksaan terakhir. 

Namun, terpaparnya sejumlah penggawa tim kontestan semestinya sudah membuat UEFA untuk segera berbenah. Kebijakan gelembung yang diwajibkan UEFA dalam pemusatan latihan timnas tidak akan berjalan efektif apabila para penggawa masih memiliki resiko terpapar Covid-19. 

Salah satu langkah yang diambil Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) rasanya dapat menjadi pertimbangan buat UEFA. Pasca laporan positif Covid-19 yang dialami Busquets dan Llorente, RFEF berencana untuk melakukan vaksinasi terhadap seluruh pemain, staf pelatih, dan ofisial La Furia Roja.

"Kami harus bergerak secepat mungkin dan itu keputusan yang penting," kata Menteri Kesehatan Spanyol, Carolina Darias, seperti dikutip Marca. 

Anjuran senada diungkapkan oleh mantan kepala tim medis timnas Italia, Enrico Castellacci. Menurutnya, UEFA harus segera bertindak cepat untuk bisa melakukan vaksinasi terhadap para pemain. Selama ini, UEFA memang belum mewajibkan vaksinasi terhadap seluruh pemain, staf pelatih, dan ofisial kontestan Euro 2020. 

Ia pun mengaku tak mengerti kenapa UEFA tidak mewajibkan vaksinasi, seperti halnya saat sebuah negara mengirim atletnya untuk berlaga di Olimpiade. “Dengan adanya vaksinasi, resiko para pemain tertular Covid-19, termasuk lawan mereka, akan lebih kecil. Saat ini, ada kasus positif Covid-19 di pemain, dan ada kemungikinan bertambah. Semoga dalam waktu yang relatif singkat, UEFA bisa mempertimbangkan hal ini," tutur Castellacci seperti dilansir Football Italia

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat