Sejumlah pekerja mal menjalani tahap verifikasi dan pemeriksaan kesehatan sebelum disuntik vaksin Covid-19 di Hotel Aryaduta, Jalan Sumatera, Kota Bandung, Rabu (31/3/2021). Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengungkapkan perkembangan program vaksinasi nasion | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Kabar Utama

05 Apr 2021, 03:53 WIB

Komitmen Hub Vaksin Ditindaklanjuti

Cina disebut akan mendukung Indonesia menjadi hub vaksin Covid-19 di Asia Tenggara.

 

 

 

 

JAKARTA -- Indonesia akan menindaklanjuti sejumlah rencana kerja sama yang disepakati dalam kunjungan tiga menteri ke Cina. Salah satu kerja sama itu mengenai dukungan terhadap Indonesia untuk menjadi hub atau pusat vaksin di Asia Tenggara (ASEAN). 

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melakukan kunjungan kerja ke Kota Wuyishan, Provinsi Fujian. Selama berada di Cina, para menteri melakukan pertemuan bersama dengan Menlu Cina Wang Yi dan pimpinan Pemerintah Provinsi Fujian. Selain itu, para menteri melakukan pertemuan terpisah dengan masing-masing menteri dan berbagai perusahaan Cina. 

Dubes RI untuk Cina Djauhari Oratmangun yang ikut mendampingi para menteri menyampaikan, isu utama yang diangkat dalam kunjungan tersebut adalah kerja sama pengadaan vaksin Covid-19 serta potensi pengembangan kerja sama antara perusahaan vaksin Cina dengan perusahaan lokal di Indonesia. 

Ia mengatakan, kerja sama itu tidak hanya untuk membantu Indonesia dalam penyediaan vaksin mandiri, tapi juga mendukung Indonesia menjadi regional hub untuk produksi vaksin di kawasan. "Seluruh kesepakatan dan komitmen yang dicapai para menteri dengan para mitra di Tiongkok akan segera ditindaklanjuti," kata Djauhari dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Ahad (4/4). 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Indonesian Embassy In Beijing (kbribeijing)

Djauhari mengatakan, Menlu Retno juga menekankan kepada perusahaan vaksin Cina yang telah menandatangani komitmen dengan Indonesia untuk segera memenuhi jadwal penyediaan vaksin. Selain soal vaksin, kunjungan tiga menteri membahas mengenai peningkatan perdagangan dan investasi serta kekonsuleran.  

Menteri BUMN Erick Thohir, misalnya, bertemu dengan perusahaan industri baterai listrik CBL maupun perusahaan pembangun kilang smelter grade alumina (SGA) Chalieco yang telah memiliki investasi di Indonesia. Perusahaan itu berminat memperluas investasinya ke kota-kota lain di Indonesia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (erickthohir)

Sementara, Mendag Lutfi mengantongi komitmen dari berbagai perusahaan Cina di bidang pertanian dan furnitur untuk mengimpor produk dari Indonesia senilai Rp 20,04 triliun. 

Menlu dalam konferensi pers pada Jumat (2/4) menegaskan, Indonesia siap menjadi hub vaksin untuk ASEAN. Ia mengatakan, rencana ini dibahas bersama Menlu Cina, Wang Yi. Rencana jangka panjang ini, kata Retno, bisa direalisasikan dengan dukungan dari Cina. Selain dalam bentuk penyimpanan, dukungan terkait hub vaksin juga berupa pengembangan industri bahan baku vaksin.

Rencana pemerintah untuk menjadi hub vaksin telah digaungkan sejak beberapa waktu lalu. Menurut Menlu, Indonesia pada pekan lalu pun telah mendapat dukungan dari Rusia. 

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mendukung langkah pemerintah untuk menjadi hub vaksin ASEAN. Ia menilai, Indonesia memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut.

“Keinginan pemerintah agar Indonesia menjadi pusat vaksin Asia Tenggara perlu didukung. Sebab, Bio Farma sudah mampu memproduksi 25 juta dosis vaksin per bulan," kata Andre kepada Republika, kemarin. 

Ia menambahkan, Bio Farma saat ini juga telah memiliki pabrik baru. Dengan adanya pabrik itu, Bio Farma mampu memproduksi vaksin lebih banyak. “Pastinya mereka yang kunjungan ke Cina untuk memastikan target satu juta vaksinasi per hari bisa dilakukan dan tepat waktu,” ucapnya.

Ahli kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Syahrizal Syarif menilai, ide menjadi pusat vaksin regional tak bisa diwujudkan dalam waktu dekat karena terbatasnya kapasitas Indonesia. "Pastikan kapasitasnya berapa, kalau sebulan hanya lima juta hingga 7,5 juta dosis bahkan tidak bisa karena untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri saja masih kurang," kata dia. 

Kendati demikian, dia menilai, rencana ini tergantung mau atau tidaknya Cina mewujudkan usulan Indonesia. Sebab, Cina juga harus menghitung untung dan rugi karena hal ini berkaitan dengan masalah bisnis. "Mudah-mudahan, Cina mau berbaik hati bekerja sama dengan Indonesia dan mewujudkan usulan ini," katanya.

Menurutnya, Cina bukanlah negara yang tidak memiliki kapasitas. Menurut dia, Cina pasti dengan mudahnya membuat pabrik penghasil vaksin seperti India yang telah memiliki 10 BUMN pengahsil vaksin Covid-19. Sementara, Indonesia baru memiliki satu pabrik, yaitu milik Bio Farma.

Tambahan vaksin

Terkait pasokan vaksin Covid-19, Indonesia dijadwalkan kembali menerima kiriman vaksin Sinovac sebanyak 10 juta dosis pada bulan ini. Hal itu diungkapkan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

"Jumlah tersebut menambah ketersediaan jenis vaksin Sinovac di Tanah Air yang jumlahnya mencapai 28 juta dosis," katanya melalui pesan singkat, di Jakarta, Ahad (4/4).

Ia menjelaskan, dari stok 28 juta dosis, sebanyak lima juta di antaranya sudah didistribusikan ke beberapa provinsi dan kabupaten/kota. Sebanyak 11 juta dosis vaksin akan didistribusikan pada awal bulan ini.

"Sisanya masih dalam proses untuk vaksin jadi sebanyak 12 juta dosis. Selain itu, di April kita akan menerima lagi dari Sinovac sebanyak 10 juta dosis," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Kesehatan RI (kemenkes_ri)

Kementerian Kesehatan mengakui, kebijakan India mengembargo vaksin memengaruhi pengiriman vaksin Astrazeneca ke Indonesia. Hal itu menyebabkan pengiriman tertunda menjadi Mei 2021.

Meski pengiriman vaksin Astrazeneca mengalami gangguan pada April, ia memastikan, masih ada waktu mengejar target kekebalan kelompok melalui vaksinasi terhadap 181,5 juta warga Indonesia.

"Ini akan selesai sampai akhir Desember 2021. Tentunya masih ada waktu untuk kita mempercepat cakupan vaksinasi sesuai jadwal," katanya.  ';

×