Ilustrasi dunia virtual | Instagram/Decentraland Art

Inovasi

Properti Idaman di Dunia Blockchain

Konsep berinvestasi di dunia properti virtual kini mulai dikenal. 

Mateen Soudagar menghasilkan keuntungan dengan membeli dan menjual lusinan bidang tanah pada tahun lalu. Tapi, tidak satupun dari bidang tanah itu benar-benar ada dalam kenyataan.

Investasi Soudagar ini, berkembang di kota virtual yang dibuat oleh salah satu platform realitas virtual dengan dukungan blockchain Ethereum, Decentraland. Kota itu, yang disebut Genesis City, berukuran sebesar Washington DC.

Bidang tanah muncul di kisi-kisi pada layar pengguna dan setiap paket yang tersedia dapat dibeli menggunakan mata uang kripto yang disebut Mana. Satu dolar Amerika Serikat (AS) dapat ditukar menjadi 0,03 Mana.

“Saat ini, saya memiliki sekitar 200 hingga 300 bidang tanah dan setiap tanah bernilai, sekitar 300 dolar AS hingga 5.000 dolar AS, bahkan ada pula yang mencapai 10 ribu dolar AS,” kata Soudagar dilansir dari CBC, Jumat (19/3).

Soudagar menjelaskan, investasi awalnya di Mana setara dengan sekitar 20 ribu dolar AS. Setahun kemudian, ia memperkirakan, nilai investasi propertinya telah mencapai 150 ribu dolar AS.

Soudagar memahami investasinya ini sangat berisiko. Ia mengaku gugup, tetapi juga terdiversifikasi dengan baik. “Decentraland hanya salah satu produk yang saya investasikan,” ujarnya.

Dunia Paralel Baru

photo
Kota virtual di platform Decentraland - (Instagram/Decentraland Art)

Bagi banyak orang, menginvestasikan uang nyata ke dalam real estat virtual, adalah sebuah konsep yang tidak terbayangkan. Namun, menurut jurnalis keuangan Camila Russo, investor Decentraland memiliki cita-cita besar setelah Genesis City berkembang menjadi kota metropolis virtual yang lengkap. “Mereka melihat dunia di mana realitas virtual telah menguasai,” kata Russo, yang sedang menulis buku tentang Ethereum.

Russo pun sempat menjajal bertualang ke Decentraland, dengan memakai headset realitas virtual. Di dunia virtual ini, ia menyaksikan bagaimana para penghuni lainnya mereka dapat dari seluruh dunia dapat bertemu di mal virtual, galeri seni, dan bioskop.

Ia menjelaskan, sebidang tanah di Decentraland dapat terjual antara 300 dolar AS dan 200 ribu dolar AS. Tempat-tempat yang paling dekat dengan alun-alun pusat Genesis City adalah yang paling mahal.

Menurut Russo, salah satu pengguna Decentraland yang ia temui di dunia virtual membeli sebidang tanah karena ingin membangun galeri seni. Karena berasa dari kota kecil, ia sedih tidak memiliki galeri seni di sekitar daerahnya.

“Ia membayangkan dunia maya di mana dia memakai virtual reality headset, atau masuk ke situs laman Decentraland dari kamar tidurnya sendiri. Kemudian, melihat segala macam seni dalam pengaturan virtual reality,” kata Russo.

Agar berhasil, Decentraland membutuhkan baik kapitalis yang ingin mendapatkan keuntungan besar dan idealis sebagai bagian dari upaya membangun dunia paralel yang lebih baik. “Para spekulan akan memberikan likuiditas pasar, tapi idealis yang membuatnya menarik,” ujarnya. 

 

Lahirnya Cryptoproperty

Berkembangnya konsep platform yang membangun dunia virtual, seperti Decentraland dimulai dari semakin banyaknya orang yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk daring. Banya dari mereka yang menginginkan pengalaman yang lebih sosial dan mendalam dengan meniru kehidupan di dunia luring. 

Sama seperti dunia nyata, seoranng investor dapat mengambil sebidang tanah di platform virtual ini, kemudian menjualnya lagi untuk mendapatkan keuntungan.  Konsep cryptoproperty pun kini mulai berkembang. N ed: setyanavidita livikacansera 

Mengenal Decentraland

photo
Dunia virtual di platform Decentraland - (Instagram/Decentraland Art)

Decentraland adalah permainan peran multipemain yang dikembangkan oleh dua insinyur perangkat lunak Argentina, Estaban Ordano dan Ari Meilich. Dunia virtual ini, berpusat di sekitar alun-alun, yang disebut Genesis City.

Decentraland tidak memiliki tujuan tertentu selain menjadi dunia virtual yang dikembangkan dan dimiliki oleh penggunanya. Konsep ini berbagi kesamaan dengan gim virtual awal seperti SimCity dan Second Life, termasuk juga gim multipemain yang lebih baru, seperti Minecraft dan Fortnite.

Yang membedakan Decentraland adalah dinamika ekonominya yang didasarkan pada mata uang kripto. Semua paket (disebut “LAND” dalam gim) kecuali jalan dan alun-alun dapat dibeli, dijual dan dikembangkan oleh pengguna menggunakan “Mana”, token kripto milik Decentraland sendiri. Saat ini, Mana memiliki kapitalisasi pasar sekitar 225 juta dolar AS, meningkat lebih dari lima kali lipat sejak diluncurkan pada 2017.

Dilansir dari Yahoo! Finance, menurut  Kepala Republic Real Estate, platform rintisan real estat untuk platform daring, Janine Yorio, harga Mana telah meningkat 321 persen dalam satu tahun terakhir. Kepemilikan Land adalah Non-Fungible Token (NFT) yang dicatat di blockchain Ethereum menggunakan standar ERC-721 sehingga membuatnya mudah ditransfer dan tidak rentan terhadap penipuan.

Pengembang Decentraland telah menetapkan batas 90.061 pada jumlah total bidang Land yang akan dicetak. Ada juga pasar sekunder di mana Land dapat dibeli dan dijual, serta ekonomi pendukung, seperti kontraktor yang bersedia merancang bidang virtual ini.

Ternyata, banyak orang yang percaya bahwa real estat virtual ini langka dan memiliki nilai. Sehingga mereka pun tak enggan menghabiskan banyak uang untuk memilikinya.

Kini, memiliki real estat virtual telah menjadi semacam simbol status di antara para pengguna awal Decentraland. Selain simbol status, kepemilikan aset properti ini, juga mewakili sesuatu yang lebih besar, yakni kontribusi pada struktur komunitas desentralisasi dan komunitas.

Pemain Baru, Aturan Baru

photo
Avatar di dunia virtua; - (Instagram/Decentraland Art)

Pada 2004, Ailin Graef, yang lebih dikenal dengan nama avatarnya Anshe Chung, mulai mengumpulkan real estat virtual di Second Life. Dia mulai dengan modal kurang dari 10 dolar AS. 

Ia pun menjadi terkenal karena menjadi avatar pertama yang mencapai kekayaan bersih lebih dari satu juta dolar AS, hanya dari transaksi bisnis yang dilakukan sepenuhnya di dalam dunia virtual. Ternyata, kunci untuk berspekulasi di dunia maya adalah mempelajari aturan baru. 

Pepatah real estat lama, yaitu lokasi yang menentukan harga investasi, menyiratkan nilai yang ditentukan oleh kedekatan dan visibilitas mereka. Tetapi di dunia virtual, pemain dapat berteleportasi ke lokasi baru menggunakan koordinat kartesius, sehingga visibilitas lokasi menjadi tak terlalu penting lagi.

Menurut Kepala Republic Real Estate, platform rintisan real estat untuk platform daring, Janine Yorio, real estat digital adalah peluang investasi yang patut dipertimbangkan. Meskipun kelas aset ini masih sangat berisiko dan para investor berpeluang kehilangan uangnya. “Mungkin masuk akan bagi investor yang toleran terhadap risiko, untuk mengalokasikan sebagian kecil dari portofolio investasi alternatif mereka ke kelas aset yang baru lahir ini,” ujarnya. 

Dengan melirik investasi di dunia virtual ini, kita juga bisa melarikan diri ke dunia baru. Dunia yang didesain dengan grafik warna-warni, seni, musik dan teman baru dari seluruh dunia.

 
Ternyata, banyak orang yang percaya bahwa real estat virtual ini langka dan memiliki nilai.
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat