Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin | Republika/Edi Yusuf

Wawasan

14 Mar 2021, 03:00 WIB

Isra Mi’raj, Sebuah Perjalanan Spiritual Istimewa

Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang dan waktu saat Isra Mi'raj setidaknya untuk memperkuat keimanan.

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi peristiwa sejarah besar yang dikenal umat Islam. Perjalanan Nabi SAW menuju Sidratul Muntaha menapakkan jejak yang begitu mulia dan mengesankan, baik diteropong secara keagamaan maupun saintifik.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai peristiwa besar Isra Mi’raj dari kacamata sains dan agama, jurnalis Republika Imas Damayanti mewawancarai Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin, Selasa (9/3).

Apa saja hikmah keilmuan dan keimanan yang bisa dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj?

Isra Mi’raj wajib diimani umat Islam bahwa itu (benar-benar) terjadi. Karena Rasulullah SAW sendiri yang menceritakan mengenai Isra Mi'raj. Kalau mau dinalar secara sains, Isra Mi’raj bisa dimaknai sebagai perjalanan keluar dari dimensi ruang dan waktu.

Hikmah yang bisa diambil, sains ada batasnya untuk memahami hakikat seluruh alam ini. Ada hal-hal yang harus diimani, tetapi masih bisa dinalar.

Mengapa peristiwa Isra Mi’raj dimaknai sebagai perjalanan yang keluar dari dimensi ruang dan waktu?

Isra Mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Makkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ketujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang dan waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan.

Namun, bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang-waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadis shahih.

Jadi, penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang dan waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.

Manusia hidup di alam empat dimensi, tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Dengan batasan itu, kita dibatasi ruang sehingga kita selalu berpikir jauh dan dekat terkait jarak.

Terkait waktu, kita dibatasi rentang waktu masa lalu, sekarang, dan masa mendatang. Juga dibatasi jangka waktu sebentar dan lama. Sedangkan dalam Isra Mi’raj batasan ruang-waktu itu tidak berlaku.

Juga Jibril yang menyertai Rasulullah SAW juga bukan makhluk fisik yang dibatasi ruang-waktu. Jadi, Isra Mi’raj lebih tepat dinalar sebagai perjalanan keluar dimensi ruang dan waktu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Majelis Ulama Indonesia (muipusat)

Adakah fakta-fakta astronomi yang mengindikasikan kebenaran perjalanan yang keluar dari dimensi ruang dan waktu? 

Fakta astronomi hanya menyatakan langit yang dimaksud dalam kisah Isra Mi’raj bukanlah langit fisik yang berisi bulan, planet, bintang, dan galaksi. Logika ke luar dimensi ruang dan waktu bermakna itu tidak bisa dinalar dengan kondisi fisik yang biasa kita pikirkan. Sebagian kita yakini kejadian fisik, seperti berada di Masjidil Aqsha di Palestina, dan minum susu yang diberikan Jibril serta melihat kafilah yang menuju Makkah.

Namun, sebagian lagi tidak bisa dinalar secara fisik, seperti perjalanan dari Makkah-Palestina hanya semalam, perjumpaan dengan para nabi, serta kunjungan ke Sidratul Muntaha yang tidak ada di alam fisik.

Bagaimana pula gambaran mengenai langit yang berlapis serta perjalanan Nabi yang menuju Sidratul Muntaha?

Langit pada kisah Isra Mi’raj bukan langit fisik. Itu langit pada dimensi lain yang memungkinkan bertemu para nabi pada masa lalu.

Bagaimana gambaran langit yang dikunjungi Nabi dalam peristiwa Isra Mi’raj tersebut?

Langit pada dimensi lain tidak lagi dibatasi ruang-waktu. Jadi, tidak lagi ada batasan tempat dan waktu. Seperti halnya yang dialami malaikat, ruh, dan alam ghaib.


×