Seorang siswa mengikuti pelajaran tatap muka di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Mujahidin Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Selasa (10/11/2020). Sekolah tersebut mulai menerapkan pelajaran tatap muka selain belajar daring dengan membuat bilik transp | Adiwinata Solihin/ANTARAFOTO
05 Mar 2021, 08:44 WIB

Belajar Tatap Muka di Madrasah Masih Dikaji

Secara psikologis, dibutuhkan pembelajaran tatap muka, tapi tidak gegabah susun strategi pembelajarannya.

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah pada Juli 2021. Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) sejauh ini belum membuat keputusan serupa untuk madrasah.  

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Kemenag, Ahmad Umar, mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan kapan pembelajaran tatap muka di madrasah akan dimulai. Sebab, masih ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, terutama terkait kondisi pandemi Covid-19 saat ini. 

“Istilahnya, kita masih wait and see dulu. Lihat bagaimana program vaksinasinya, karena kita tidak mau terburu-buru, kita harus hati-hati bagaimana perkembangan kondisi vaksinasi ini,” kata Umar saat dihubungi Republika, Kamis (4/3).

Meski demikian, menurut dia, secara prinsip pembelajaran tatap muka sudah siap dilaksanakan. Namun, adanya satu dan sejumlah pertimbangan terkait kondisi saat ini maka kepastian waktu pembelajaran tatap muka di madrasah belum bisa diumumkan. Saat ini, lanjut Umar, Kemenag tengah menggodok sejumlah strategi pembelajaran tatap muka di madrasah. 

Terkait

Dalam pandangan Pengamat Pendidikan Islam, Adian Husaini, pembelajaran tatap muka madrasah sejatinya sudah sangat layak dilaksanakan. Sebab, secara psikologis, kata dia, para siswa, guru, dan orang tua sudah sangat membutuhkan pembelajaran tatap muka di sekolah. Namun demikian, pemerintah diimbau tidak gegabah dalam menyusun strategi pembelajaran tatap muka.

“Sebenarnya (madrasah) ini harus sesegera mungkin dibuka karena secara psikologis PJJ (pembelajaran jarak jauh) sudah terlalu lama, tapi harus waspada saat pelaksanaan nantinya,” kata dia.

Pemerintah, menurut Adian, perlu memastikan bahwa pembelajaran tatap muka tidak mengabaikan protokol kesehatan. Selain itu, ia menyarankan, ada penambahan sikap di madrasah seperti penekanan terhadap doa-doa dan program pendidikan untuk meningkatkan imunitas.

“Jadi, sekolah harus ada program meningkatkan imunitas anak, meningkatkan keluhuran akhlak. (Pendidikan akhlak) inilah yang tidak bisa digantikan internet. Saya rasa saat ini pendidikan Islam adalah yang paling ideal diterapkan di masa pandemi,” ujar Adian yang juga ketua umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini.

Ia juga meminta pemerintah untuk mengatur mobilitas para siswa di madrasah. Misalnya, dengan mengatur waktu sekolah yang dipangkas beberapa hari guna menghindari kerumunan. Dia pun mendorong pemerintah untuk mempercepat penyediaan alat-alat medis pendeteksi virus yang murah dan terjangkau bagi kalangan madrasah.

“Karena kalau pakai swab antigen, itu masih mahal. Maka, pemerintah coba produksi alat-alat medis pendeteksi yang murah dan simpel,” kata dia.

Adian menyampaikan, salah satu nilai khas dari pendidikan Islam adalah mengedepankan akhlak dan kejujuran. Menurut dia, selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, tak sedikit orang tua yang hanya memikirkan nilai-nilai tinggi anaknya ketimbang kejujuran si anak dalam mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Untuk itu, dia mengimbau Kemenag untuk dapat memberikan pembinaan kepada para orang tua agar dapat mengajarkan kejujuran serta kedisiplinan kepada anaknya, sebagai karakter utama umat Islam.

“Pemerintah itu harus ada pembinaan kepada orang tua supaya mereka bisa mengajari anaknya tentang kejujuran, kedisiplinan, dan menjadi orang yang akhlaknya baik.’’


×