Nasabah melakukan pembelian Sukuk Ritel SR-013 menggunakan gawai beberapa waktu lalu. | REPUBLIKA
01 Mar 2021, 04:00 WIB

Memperkuat Literasi Investasi Syariah

Instrumen sukuk ritel berperan penting dalam literasi produk keuangan syariah.

Instrumen sukuk ritel memiliki peran penting dalam upaya peningkatan literasi masyarakat terhadap produk keuangan syariah. Peneliti ekonomi syariah Indef Fauziah Rizki Yuniarti menyampaikan, secara umum, instrumen surat utang negara syariah tersebut memperoleh antusiasme masyarakat yang relatif tinggi. Meski begitu, untuk mengetahui peran konkretnya perlu diteliti lebih lanjut terutama terkait profil investornya.

Fauziah menyampaikan, angka literasi keuangan syariah naik 0,83 persen menjadi 8,93 persen pada 2019 dari 2016 yang sebesar 8,1 persen. Selama 2019, Kementerian Keuangan menawarkan empat sukuk ritel yakni jenis SR-011 dan tiga Sukuk Tabungan yakni ST-004, ST-005, dan ST-006. Hal ini menurutnya menjadi salah satu indikator peran sukuk ritel dalam peningkatan literasi.

Antusiasme masyarakat terhadap instrumen sukuk ritel juga tetap tinggi walaupun di masa pandemi. “SR-013 yang diluncurkan pada September 2020 dengan imbal hasil yang lebih rendah yakni 6,05 persen lebih menarik dengan outstanding lebih tinggi dibandingkan SR-011 yang diluncurkan pada Maret 2019 dengan imbal hasil 8,05 persen," kata Fauziah kepada Republika, Ahad (28/2).

Menurut Fauziah, hal ini juga berkait dengan kondisi keuangan masyarakat di tengah pandemi. Dia mengatakan, masyarakat memiliki likuiditas berlebih sehingga dialihkan kepada instrumen investasi yang aman. Fauziah menyampaikan, kemudahan transaksi pembelian dengan sistem elektronik, pelibatan influencer untuk meningkatkan sosialisasi, dan tingkat imbal hasil yang menarik menjadi daya pikat bagi kaum milenial.

Kementerian Keuangan meluncurkan SR-014 dengan tingkat imbalan tetap sebesar 5,47 persen per tahun. Seperti seri instrumen sukuk ritel sebelumnya, SR-014 memiliki tenor tiga tahun dengan nominal minimal pemesanan yaitu Rp 1 juta. Instrumen itu ditawarkan mulai 26 Februari hingga 17 Maret 2021.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman menyampaikan, sejak 2009 hingga 2020, instrumen sukuk ritel telah diluncurkan sebanyak 13 kali. Total investor sukuk ritel telah mencapai 347 ribu orang dengan total akumulasi penerbitan sukuk ritel mencapai Rp 204,61 triliun.

Luky menyampaikan, generasi milenial menyambut baik instrumen sukuk ritel maupun surat berharga negara (SBN) ritel secara keseluruhan. Sepanjang 2020, hasil penerbitan SBN ritel meningkat tajam menjadi Rp 76,8 triliun. Terjadi peningkatan Rp 27,9 triliun dari penerbitan pada 2019 yang mencapai Rp 49,9 triliun.

“Fenomena peningkatan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi ini disambut pemerintah dengan menyediakan instrumen SBN ritel sebagai alternatif investasi yang aman,” ujarnya.

Salah satu mitra distribusi SR-014, Investree juga akan mengincar investor muda. Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi berharap, SR-014 dapat menjadi alternatif investasi yang sesuai prinsip syariah, aman, mudah, terjangkau, dan penuh manfaat.

Adrian menyampaikan, investor SBN maupun SBSN di Investree didominasi oleh investor berumur 19 hingga 34 tahun. Angka itu mencapai 62 persen dari seluruh investor SBN atau SBSN yang terdaftar di platform Investree.

“Pada 2021 diharapkan menjadi tahun pemulihan bagi negeri beserta seluruh masyarakat," ujarnya.


×