Pembeli membawa cabai di atas kepalanya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (1/2). | MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA FOTO

Ekonomi

Kemendag Petakan Produksi Cabai

Gerakan tanam cabai akan dilakukan di lahan seluas 5.000 hektare.

 

JAKARTA – Kementerian Perdagangan akan mengidentifikasi dampak banjir terhadap penurunan produksi maupun distribusi cabai ke berbagai daerah. Harga komoditas cabai mengalami lonjakan harga dalam beberapa hari terakhir. Hal itu akibat menurunnya pasokan dan distribusi yang dipicu oleh bencana banjir di berbagai daerah sentra produksi cabai.

"Saya terus terang masih melihat dampak banjir ini karena beberapa pekan lalu informasi dari asosiasi, daerah masih tetap produksi," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra kepada Republika, Senin (22/2).

Meski produksi tetap berjalan, Syailendra menuturkan, tingkat produksi belum begitu optimal karena panen raya baru akan jatuh pada Maret 2021. Kemendag pun akan memperkuat pemantauan ke daerah untuk melihat dampak banjir terhadap distribusi cabai.

Menurut Syailendra, saat ini distribusi komoditas pangan dari sentra menuju daerah perkotaan masih berjalan. Meski begitu, ia mengakui di sebagian daerah terdapat gangguan akibat banjir.

Perkembangan cuaca dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan kelancaran distribusi cabai. Syailendra menyampaikan, pihak distributor mengkhawatirkan kelancaran pengiriman jika curah hujan tinggi masih berlangsung.

photo
Pedagang sayuran melayani pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Kamis (7/1). - (Edi Yusuf/Republika)

Soal rencana operasi pasar, Syailendra menuturkan masih melihat perkembangan situasi. Ia menilai, selama produksi dan distribusi masih lancar operasi pasar tidak perlu dilakukan.

Mengutip statistik Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai rawit per Senin (22/2) dihargai Rp 84 ribu per kilogram (kg) atau naik 4,44 persen dari akhir pekan lalu. Harga tertinggi terdapat di DKI Jakarta sebesar Rp 118.350 per kg. Sementara, harga terendah di Sumatra Utara yakni Rp 40 ribu per kg. Cabai rawit merah merupakan jenis aneka cabai yang paling banyak dikonsumsi masyarakat selain cabai merah keriting.

Harga cabai merah keriting sebesar Rp 48.050 per kg, turun 1,44 persen dari pekan lalu. Sementara cabai merah besar dihargai Rp 46.550 per kg, turun sekitar 1,69 persen. Meski menurun, harga tersebut jauh di atas rata-rata harga aneka cabai yang berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kg.

Untuk meningkatkan produksi, Kementerian Pertanian akan melaksanakan gerakan tanam cabai di sejumlah lokasi. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Tommy Nugraha mengatakan, gerakan tanam cabai akan dilakukan pada luasan sekitar 5.000 hektare (ha). Ia tak memerinci lokasi gerakan tanam tersebut. Namun, ujarnya, hal itu dilakukan di seluruh sentra produksi Indonesia.

"Semua persiapan sudah dilakukan," katanya.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyatakan, mahalnya harga cabai sudah terjadi dalam tiga bulan terakhir. Ia menilai, persoalan itu muncul dari sisi produksi.

Ia mengatakan, harga cabai khususnya jenis rawit sejak beberapa pekan terakhir berada di kisaran tinggi antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per kg. Momentum liburan imlek beberapa waktu lalu juga cukup mengerek harga karena kenaikan permintaan.

Menurut Mansuri, pemerintah harus segera mencari solusi terhadap masalah harga cabai yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Ia meminta pemerintah untuk lebih kuat dalam intervensi cabai di level hulu. Sebab, petani cabai diketahui sempat merugi karena pada tahun lalu mengalami kejatuhan harga.

Kondisi itu membuat minat untuk menanam berkurang. Ditambah lagi, ujar Mansuri, musim penghujan saat ini yang membuat kegiatan penanaman terkendala.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan, untuk sementara waktu distribusi memang mengalami gangguan. Namun, menurutnya, jika produksi cabai masih tersedia seharusnya pengiriman tetap bisa dilakukan.

Oleh karena itu, APPSI meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah intervensi dengan mempermudah penyediaan cabai di pasar. "Dari manapun sumbernya, pemerintah wajib menyediakan, mungkin daerah luar Jawa yang tidak terkena banjir dan bisa dihimpun dan dikirim ke daerah yang kekurangan cabai," kata dia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat