Ilustrasi proyek double track | Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Bodetabek

17 Feb 2021, 07:43 WIB

Progres Double Track Paledang-Cicurug 70 Persen

Kendala proyek double track adalah pembebasan lahan.

BOGOR -- Pembangunan jalur ganda (double track) Bogor-Sukabumi segmen Paledang-Cicurug hingga kini masih sesuai jadwal. Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat, Erni Basri, mengatakan, proyek pembangunan di segmen tersebut kini sudah mencapai 70 persen.

"Dengan rencana progres 100 persen tahun 2021,” ujar Erni di Kota Bogor kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Erni menjelaskan, kendala yang dihadapi pekerja di lapangan adalah pembebasan rumah penduduk, terutama di segmen Paledang-Ciomas. Hal itu karena posisi jalur kereta eksisting berada di dekat permukiman penduduk. Persoalan lain yang dihadapi adalah sebagian tanah sudah tergerus dan lahan right of way (ROW) berada di Sungai Cisadane.

Karena itu, pembangunan jalur ganda memerlukan penanganan khusus agar di kemudian hari tidak terjadi longsor. “Kondisi morfologi Kabupaten Bogor sebagian besar berupa dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan, yang terdiri atas andesit, tufa, dan basalt yang memiliki sifat jenis batuan relatif lulus air, di mana kemampuannya meresapkan air hujan tergolong besar,” jelas Erni.

Tak hanya itu, menurut Erni, di Km 6+800 hingga Km 9+500 terdapat utilitas milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Padahal, utilitas PDAM milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tersebut tidak boleh terganggu, karena menyuplai kebutuhan air ke Istana Bogor. Sehingga, jika dilakukan pergeseran, pasokan air ke Istana Bogor bisa terganggu.

Belum lagi, terdapat prasasti Batu Tulis dan area komersial yang bersinggungan langsung dengan lokasi pekerja di jalur rel. Alhasil, pembangunan jalur ganda di wilayah Bogor sedikit lebih menantang. “Beberapa lahan tersebut juga masih belum ditertibkan,” ujar Erni.

Dia mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hingga saat ini, belum membayarkan uang kerahiman kepada 713 pemilik lahan di samping rel. Pun ada 13 bidang tanah di Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, yang belum dibayarkan kepada pemilik lahan. "Pengadaan lahan di Kota Bogor yang berlokasi di Kelurahan Paledang luas 3.208 meter persegi, sudah dilakukan penilaian oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dengan nilai Rp 48 miliar," jelas Erni.

Pembayaran uang kerahiman bagi 713 bidang tanah yang tersebar di Kelurahan Empang dan Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, dijadwalkan pada bulan ini. Pencairan uang kerahiman molor dari rencana yang diberikan pada tahun lalu akibat pandemi Covid-19.

Merujuk SK Gubernur Jawa Barat Nomor: 978/Kep.991-Pemksm/2019 tanggal 4 Desember 2019 tentang Penetapan Besaran Uang Santunan Bagi Masyarakat Terkena Dampak Sosial Pembangunan Jalur Ganda Kereta Api di Segmen Paledang-Batutulis-Ciomas-Maseng, untuk Kota Bogor sudah ada 1.427 bidang yang dibayar. Anggaran bersumber dari daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahun anggaran 2019 dan 2020 dengan nilai Rp 31 miliar.

"Sedangkan, sisa 713 bidang rencana dibayar melalui DIPA tahun anggaran 2021 pada bulan Februari dengan nilai Rp 15 miliar," katanya.

Proyek jalur ganda Bogor-Sukabumi sepanjang 57 kilometer ditetapkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sejak 2017. Pembangunan fisik yang dimulai pada 2018, itu diproyeksikan menelan anggaran Rp 2,45 triliun.

Nantinya, setelah jalur ganda Bogor-Sukabumi selesai dibangun, dilanjutkan dengan pemasangan listrik aliran atas. Dengan begitu, KRL Commuter Line yang selama ini berhenti di Stasiun Bogor bisa terus melayani penumpang sampai Sukabumi.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui, pembangunan jalur ganda merupakan proyek pemerintah pusat. Meski begitu, pihaknya mengingatkan penanggung jawab untuk memperhatikan dampak sosial pembangunan jalur ganda bagi warga Kota Bogor.

"Walaupun itu bukan program kita, ketika ada program double track dari pusat kita minta pusat membantu memikirkan warga," kata Bima, belum lama ini.

Sumber : Antara


×